.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

20/10/20

Perangkat Desa Se Takalar Gelar Musyawarah Daerah PPDI


TAKALAR, TURUNGKA.COM.
Perangkat Desa se-Kabupaten Takalar menggelar musyawarah daerah Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Takalar. Pelaksanaan musyawarah daerah digelar di Gedung PKK, 19/10/2020. Siang. Musyawarah ini dilaksanakan dalam rangka pembentukan pengurus baru Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Takalar 2020-2025


Menurut Nasrullah, S.Pd selaku Ketua Panitia pelaksana mengatakan pelaksanaan musyawarah ini tentu tidak terlepas dari berbagai pihak, para teman-taman perangkat desa di Takalar sebelum telah melaksanakan pertemuan dan bertemu dengan OPD yang terkait dengan organisasi ini.

"Musyawarah ini terlaksana berkat inisiasi dan kerjasama para teman-teman perangkat desa se Takalar. Alhamdulillah saat audiens kita juga didukung oleh Dinas Sosial PMD, P3MD dan pihak-pihak lainnya" kata Nasrullah saat memberikan sambutan.

Kemudian, Kepada Bidang PMD Kabupaten Takalar, Muh. Ihwan yang hadir mewakili Kepala Dinas Sosial PMD Kabupaten Takalar dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan musyawarah daerah ini. Menurutnya, PPDI ini nantinya akan menjadi wadah perangkat Desa dalam pengembangan desa kedepan.

"Saya sangat mengapresiasi musyawarah Daerah PPDI Takalar ini, saya berharap PPDI ini menjadi wadah membangun desa" harap Ihwan sebelum membuka acara.

Sementara Sekretaris PPDI Provinsi Sulawesi Selatan, Muh. Alqadri Muis yang turut memberikan sambutan mengatakan PPDI ini merupakan wadah perangkat desa yang kedepan akan memperjuangkan hak dan kewajiban para perangkat desa.

"Sekarang di pusat kita dalam komunikasi ke Kemendagri mencoba meloby agar staf Desa bisa juga masuk sebagai perangkat desa, dan agenda pengurus pusat yang telah masuk juga adalah penetapan Nomor Induk Perangkat Desa (NIPD) yang berlaku setara dengan PNS" pungkas Muh Alqadri Muis yang hadir bersama beberapa pengurus provinsi.

Pelaksanaan Musyawarah ini juga di hadiri oleh P3MD Kabupaten Takalar,  Sekretaris Inspektur Inspektorat Kabupaten Takalar dan puluhan perangkat desa se Kabupaten Takalar.  (rdp)

Share:

Sekdes Tamasaju Terpilih Nahkodai PPDI Kabupaten Takalar


TAKALAR, TURUNGKA.COM.
Musyawarah Daerah Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Takalar memilih Nasrullah, S.Pd menjadi nahkoda periode 2020-2025. Bertempat di Gedung PKK Kabupaten Takalar,  musyawarah ini berlangsung dari siang hingga magrib. 19/20/2020.


Terpilihnya Nasrullah, S.Pd yang juga merupakan Sekretaris Desa Tamasaju Kecamatan Galesong Utara bukan terjadi secara instan, pada saat musyawarah sempat muncul 6 orang kandidat yang bersaing memperebutkan posisi kosong satu ini.

Nasrullah, S.Pd yang juga akrab disapa Daeng Sijaya ini mengatakan dirinya bersyukur telah dipercayakan amanah untuk menahkodai wadah perangkat desa di Kabupaten Takalar ini.

"Terima kasih teman-teman atas amanah yang dipikulkan kepada saya, saya berharap teman-teman bisa membantu saya untuk menjalankan organisasi ini" kata Nasrullah.

Dalam pelaksanaan musyawarah daerah ini dihadiri oleh Sekretaris PPDI Provinsi Sulawesi Selatan Muh. Alqadri Muis, Wakil Ketua PPDI Provinsi Sulawesi Selatan Taba Halilintar dan 3 orang pengurus provinsi lainnya.

Hadir pula Kepala Bidang PMD Kabupaten Takalar yang sekaligus membuka acara resmi mewakili Kepala Dinas Sosial PMD Kabupaten Takalar,  Sekretaris Inspektur Inspektorat Kabupaten Takalar,  P3MD Kabupaten Takalar serta puluhan perangkat Desa dari semua wilayah Kabupaten Takalar. (rdp)


Share:

Maudu Lompoa; Merawat Tradisi Solidaritas

“Kemunduran mutu kehidupan di zaman kemajuan ini terjadi antara lain karena kita kehilangan akses pada kekayaan budaya tradisi dan suara-suara tradisi tak lagi berbunyi di hati kita.”

OPINI, TURUNGKA.COM. Budaya lokal sebagai  upaya menguatkan nilai - nilai solidaritas sosial. Nilai budaya lokal yang berdiri kokoh dalam hantaman budaya asing yang semakin  kuat (Widyanti, 2015). Sebab budaya lokal memiliki ciri khas tersendiri yang tidak bisa telan oleh waktu. Seperti halnya budaya perayaan kelahiran Nabi (maulid [Arab] artinya lahir), orang Makassar menyebutnya "maudu". Di Yogyakarta disebut "sekaten".

Sementara di Desa Cikoang kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, memberi nama "Maudu Lompoa". Yang merupakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang terbesar diwilayahnya, yang dilakukan dengan cara yang khas dan unik ini. Perayaan tersebut secara filosofis berupaya merekatkan hubungan alam dengan manusia dan interaksi antara sesama manusia, yang saling mengikat.

Proses lahirnya budaya "maudu lompoa" karena adanya penyebaran Islam yang berasal dari Arab dibawah ke Aceh, lalu ke Banjarmasin hingga ke pulau Sulawesi dan berakhir di Cikoang, Takalar. Aturan pelaksanaan pun harus menggunakan bahan- bahan yang berasal langsung dari alam sekitar, yang mudah diperoleh, terjangkau, dan tanpa paksaan.

Perkembangan "maudu lompoa" dari tahun ke tahun semakin menarik jiwa solidaritas masyarakat. Salah satu yang membuat menarik karena adanya perubahan dari perayaan ini, dulu yang paling sederhana, yang bisa dilakukan hanya dengan tenaga satu orang, hingga meriah. Jika seorang mengerjakannya tidak mampu saat disiapkan, tapi sekarang membutuhkan banyak orang dan kerjasama antara masyarakat. Ini dikarenakan adanya pengaruh dari  lingkungan dan pola hidup masyarakat yang mengalami perubahan. Namun perubahan itu justru menguatkan solidaritas sosial budaya masyarakat.

Masyarakat Cikoang dengan meyakini dan mempercayai bahwa budaya perayaan "Maudu lompoa" akan memperkuat kekerabatan dan memberikan kedamaian dalam hidup.

Sehingga pantas jika pemajuan kebudayaan akan berupaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya, di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. Usaha pemajuan tersebut itu dilaksanakan terhadap sepuluh jenis objek pemajuan kebudayaan: 1) tradisi lisan, 2) manuskrip, 3) adat istiadat, 4) ritus, 5) pengetahuan tradisional.

Dengan demikian, maudu lompoa menjadi salah satu budaya yang mampu menyatukan, bahkan telah berkontribusi dalam peradaban dunia. Sehingga upaya yang harus dilakukan adalah melestarikannya, dengan cara menuliskan atau membukukan tentang tradisi tersebut. Bahkan kalau bisa membuatkan film dokumenter seputar kegiatan tradisi "maudu lompa", mulai proses persiapan hingga proses diarak sampai merayakan.

Jauh-jauh hari Mohammad Hatta melansirkan bahwa, “kebudayaan tidak dapat di pertahankan saja, kita harus berusaha merubah dan memajukan, oleh karena kebudayaan sebagai kultur, sebagai barang yang tumbuh, dapat hilang dan bisa maju.” Makanya harus ada promosi budaya, jumlah kegiatan, dan partisipasi agar budaya ini tetap terjaga.

Sama halnya juga pemajuan kebudayaan secara pemanfaatan. Kegiatan ritual adat atau kebudayaan masyarakat sekarang tidak seluruhnya dan sepenuhnya masyarakat yang membiayai tetapi ada pemerintah turut andil membantu meringankan dalam pelaksanaan budaya maudu lompoa ini.

Sokongan dana yang bisa di manfaatkan. Dan adanya upaya pemanfaatan sosial media juga harus turut ambil bagian dalam memajukan budaya maudu lompoa sebagai bahan promosi budaya, sehingga mampu menarik minat orang luar untuk datang berkunjung.

Terakhir, dalam pembinaan kebudayaan, jika hari ini tidak dipersiapkan kader atau generasi dari usia 10-15 tahun untuk memberikan pendidikan tentang budaya perayaan maudu lompoa maka kedepan kegiatan tersebut akan mengalami degradasi atau bahkan punah di tanah Cikoang. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah membantu menciptakan pegiat budaya maudu lompoa sebagai wadah bagi para generasi Sayyid (ras Cikoang) yang akan meneruskannya. Semoga kedepan tradisi tersebut tetap terjaga.

Oleh Marsuki, Mahasiswa Sarjana Jurusan Manajemen STIE Tri Dharma Nusantara Makassar.

Share:

18/10/20

Libatkan Poltekpar Makassar, Pemdes Popo Lakukan Pemetaan Potensi Wisata


GALSEL, TURUNGKA.COM. Pemerintah Desa Popo Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar lakukan pemetaan potensi wisata di wilayahnya. Ahad, 18/10/2020. Siang. Pemetaan ini melibatkan tim pembentukan desa wisata dari Politeknik Parawisata Makassar.


Kepala Desa Popo, Bostan Tata, S.Sos mengatakan pemetaan potensi wisata ini dalam rangka mendorong Desa Popo sebagai desa wisata.

"Kita akan dorong Desa Popo sebagai desa wisata. Ini sementara kita bangun kerjasama dengan Politeknik Parawisata Makassar, pemetaan ini nantinya akan menyimpulkan seperti apa desain Popo sebagai desa wisata" tutur Bostan Tata saat ditemui bersama tim pembentukan Desa Wisata.

Sementara itu, tim pendamping pembentukan desa wisata dari Poltekpar,  Muh. Ridwan Syamsuddin, A.Md. Par mengatakan Desa Popo sangat potensial menjadi desa wisata karena sumberdaya alam yang dimiliki sangat mendukung,  aksesnya yang dekat dari kota Makassar sangat mendukung.

"Setelah meninjau beberapa kali,  Desa Popo sangat potensial menjadi Desa Wisata. Tuntu kita sama-sama berjuang mewujudkan ini" terang Alumnus Poltekpar Makassar ini.  (rdp)

Share: