.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

16/09/20

Prihatin Terkait Kondisi Anak Muda, Pemuda Asal Sabintang Bentuk Komunitas Seni "Panritayya Art"

PATTALASSANG, TURUNGKA.COM. Melihat kondisi sebagian anak muda di  Sabintang yang semakin hari semakin melupakan tradisis lokal dan kesenian. Maka salah seorang pemuda Sabintang bernama Sahrul Sahib Daeng Matanngnga membentuk sebuah komunitas Seni yang diberi nama 'Panritayya Art'. 

"Saya membentuk komunitas ini bertujuan supaya anak muda yang ada di Sabintang ini bisa melakukan aktivitas positif. Apalagi mengenalkan dan mengajarkan alat musik  teradisional, bahkan saya  juga ingin memberikan pengetahuan terkait musik modern." Jelas Matangnga pada Rabu (16/09/2020).

Bahkan dalam penuturannya terkait tujuan pembentukan komunitas yang bertempat di Bassara kelurahan Sabintang, Pattalassang. Pemuda asal Sabintang ini mengatakan bahwa jika komunitas ini mampu mengumpulkan anak muda yang berusia dari 14-17 tahun maka percepatan dalam memberikan pengetahuan, menurutnya akan lebih baik.

"Saya lebih banyak mengumpulkan anak SMP karena saya lihat kecenderungan mereka itu hanya bermain dan banyak melakukan aktivitas tak bermanfaat. Jadi dengan niat tulus saya mengajak untuk belajar bersama terkait seni dan saya lebih mempercayakan kepada anak SMP untuk dilatih karena bagiku itu bagus diberikan wawasan terkait seni di usia dini." Tandasnya.

Ia pun berpesan, "semoga komunitas yang dibentuknya ini bisa menjadi wadah bagi anak muda khususnya di kelurahan Sabintang dalam mengembangkan kreatifitas dalam berkesenian. Dan semoga Murni (ketua), Nurdiana (sekretaris), Indah (pelatih tari), dan Zul (pelatih musik) bisa membawanya dengan baik." Pungkasnya. (Sm/Ahm).
Share:

13/09/20

Konsina Takalar Bingkai Baksos Dengan Acara Big Camp di Lembanna

GOWA, TURUNGKA.COM. Komunitas Siri' Na Pacce (Konsina)  Kabupaten Takalar menggelar acara bakti sosial dengan bingkai Big Camp di Lembanna Kabupaten Gowa, 12-13 September 2020.
 
Ketua Panitia,  Agung Wijaya Adam mengatakan kegiatan sosial ini bertujuan menumbuhkan jiwa kemanusiaan dari berbagai komunitas.

"Bentuk kegiatan kita sedikit berbeda dengan yang biasanya, kita himbau peserta membawa donasi baik berupa sembako maupun uang tunai, nanti kita berikan kepada pihak penerima sebagai bantuan sosial" tutur Agung.

Big Camp yang digelar di Desa Lembanna ini diikuti 78 lembaga dan komunitas dengan jumlah peserta sebanyak 711 orang. Selain penyerahan bantuan sosial rangkaian acara juga meliputi aksi bersih, penanaman pohon, sharing session, coffe time, games, kuis, dan panggung kreasi.

Sementara Ketua Konsina Takalar, Irfan Affandi menambahkan bahwa suksesnya kegiatan ini tidak terlepas dari kerjasama para komunitas yang berpartisipasi.

"Saya berterima kasih atas partisipasi para peserta serta lembaga dan komunitas.  Semua ini bisa dilaksanakan dengan lancar atas kerjasama semuanya. Kami juga berterima kasih kepada sponsor yang telah mensupport kegiatan kami ini" tambah Irfan.  (rls/rdp)
Share:

10/09/20

Massifkan Pengawasan Partisipatif, Bawaslu Takalar MoU dengan Pemda Takalar, Kemenag dan STAI YAPIS Takalar

TAKALAR, TURUNGKA.COM. Dalam rangka massifkan pengawasan partisipatif, Bawaslu Kabupaten Takalar menggelar seminar pengawasan partisipatif dan penandatanganan MoU dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar, Kementerian Agama Kabupaten Takalar dan STAI YAPIS Takalar, di Gedung Islamic Centre, Kamis, 10/9/2020. 
 
Kegiatan seminar ini menghadirkan Camat se-kabupaten Takalar, Kepala Desa dan Desa Sadar Pengawasan, Penyuluh Agama, Organisasi Masyarakat, Organisasi Pemuda, Organisasi Kemahasiswaan, Komunitas serta Forum AWAS Kabupaten dan Pelajar Takalar sebagai peserta.

Ketua Bawaslu Takalar, Ibrahim Salim, SS mengatakan seminar pengawasan partisipatif merupakan kegiatan lanjutan dalam pengembangan kegiatan pengawasan oleh Bawaslu Kabupaten Takalar yang ditandai dengan penandatanganan MoU tentang Pengawasan Partisipatif oleh Bawaslu Takalar, Pemda Takalar, Kemenag Takalar dan STAI YAPIS Takalar agar terjalin kerjasama yang baik dalam menjaga nilai-nilai demokrasi di Kabupaten Takalar.

"Kita berharap nilai-nilai demokrasi di Kabupaten Takalar tetap terjaga dengan kolaborasi Bawaslu Takalar dan Stakeholder melalui penandatanganan MoU Pengawasan Partisipatif, sehingga sinergitas dalam bekerjasama untuk kegiatan pengawasan demokrasi menjadi langkah strategis mewujudkan demokrasi yang lebih baik lagi," ujar Ibrahim.

Drs. Syaiful Jihad, M.Ag, Pimpinan Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan pengawasan demokrasi haruslah dikembangkan dengan sinergitas antar instansi atau lembaga, baik peran dari Pemda Kabupaten Takalar, Kementerian Agama Kabupaten Takalar, Sekolah Tinggi Agama Islam YAPIS Takalar sebagai bukti kesadaran dan kecintaan kita dalam membangun demokrasi di Indonesia.

Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar Drs. H. Arsyad, MM yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara menyampaikan Pemerintah Daerah sangat mengapresiasi kegiatan pengawasan partisipatif yang dilakukan oleh Bawaslu Kab.Takalar. Kolaborasi ini sejalan dengan pemerintah daerah untuk mewujudkan good governance.

"Untuk mewujudkan pemimpin yang berintegritas dan baik diperlukan pengawasan yang baik pula. Kita berharap kolaborasi terkait pemilu dan pemilihan kedepan akan tetap giat bersinergi dan berjalan secara massif" ucap Arsyad.

Penandatanganan MoU oleh Ketua Bawaslu Takalar Ibrahim Salim, SS, Sekda Takalar Drs. H. Arsyad, MM, Kepala Kemenag Takalar Drs. H. Junaidi Mattu, MH, Ketua Yayasan STAI YAPIS Takalar Muh. Nur Fithri Dahlan, ST, MM, dapat  berjalan dengan lancar dan baik.

Setelah proses penandatanganan MoU dilanjutkan seminar dengan narasumber dari Pimpinan Bawaslu Takalar, Nellyati, S.Hum, Kepala Kemenag Takalar dan Ketua Yayasan STAI YAPIS Takalar.

Sebagaimana diketahui, Bawaslu Kabupaten Takalar sejak tahun 2017 telah mendorong peran masyarakat dalam melakukan pengawasan secara partisipatif.

Kegiatan berjalan lancar dengan dihadiri oleh Ketua KPU Takalar, Pimpinan Bawaslu Takalar, Wakapolres Takalar, Pasi Intel Kodim 1426 Takalar, Pimpinan Muhammadiyah, Koordinator Sekretariat serta Staf Bawaslu Takalar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di Kabupaten Takalar. (hbt/rdp)
Share:

08/09/20

Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan Berawal Dari Sumbar

Evick Budianto: Sekretaris Jenderal Pemuda Muslimin Indonesia 2014-2019.
ARTIKEL. TURUNGKA.COM. Lagi-lagi Sumbar (Sumatera Barat). Sebelumnya ada persoalan aplikasi Injil Bahasa Minang, istilah kadrun dan tuduhan orang Sumbar terkebelakang. Sekarang muncul sebutan Sumbar tidak Pancasilais.
 
Apapun itu, Sumbar kini jadi perbincangan hangat di tengah publik. Tak hanya soal politik ternyata, Sumbar juga jadi prototipe kebangkitan ekonomi berbasis kerakyatan.

Sepanjang 10 tahun terakhir, Sumbar berkembang menjadi provinsi yang memprioritaskan pedagang kecil tradisional. Tak satupun kekuatan Kapitalis atau konglomerat Retail bisa masuk, buktinya tidak ada satupun gerai alfamart, indomart, lawson, 7 eleven dan retail-retail raksasa di wilayah Sumbar.

Apakah tidak ada toko modern, ber-AC, tertata rapi, dan barang lengkap seperti toserba dan minimarket di Sumbar? Ada. Gerai minimarket tetap ada dan dikelola orang Minang dan pedagang lokal.

Ada Minang Mart, Serambi Mart, Salapan Mart, dan minimarket di sepanjang Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan S.Parman, dikelola dengan mengutamakan produk UMKM. Sesuai julukannya : Padang (Pandai Dagang), karena orang Minang sejak dulu terkenal dengan jiwa berniaga dagangnya.

Dengan membangun perekonomian yang mengutamakan penduduk lokal ini, Sumbar menjadi Provinsi dengan tingkat kesejahteraan paling merata di Indonesia. Rasio Gini (tingkat kesenjangan) Sumbar hanya 0,312 (data BPS). Jauh dibawah Rasio Gini Nasional 0,391 pada rentang waktu yang sama. Artinya, konsep Ekonomi kerakyatan Sumbar berhasil mengatasi kesenjangan kaya dan miskin.

Ekonomi kerakyatan. Biasanya hanya jadi jargon partai politik jelang Pemilu. Tapi di Sumbar, telah nyata-nyata berhasil. Ini Pancasilais sejati. dan Sumbarpun ingat Sila ke-4 tentang Kerakyatan.

Itulah mengapa saat kehancuran ekonomi Nasional akibat terlindas wabah Covid-19, Sumbar masih mampu bertahan. Saat pertumbuhan Ekonomi Nasional Indonesia di kwartal I 2020 ada di 2,97% (year-on-year), Sumbar masih tumbuh diatas, 3,92% pada kwartal yang sama. Di kwartal II 2020 pun, saat perekonomian Nasional ambruk, minus (-)5,32%, Sumbar masih lebih baik 0,4% dibanding perekonomian Nasional.

Padahal, kekayaan sumber daya alam Sumbar tak "sesumbar" cadangan Migas dan Batubara di Provinsi lain.

Sebutlah misalnya batubara, cadangan reserve proven batubara di Sumbar hanya 795 juta ton (data Kementerian ESDM, 2020). Bandingkan dengan Provinsi-provinsi yang ada di Kalimantan. Cadangan Batubara Kaltim 48,2 miliar ton, Kalbar 22,8 miliar ton, Kalsel 16,5 miliar ton, Kalteng 3,4 miliar ton.

Di sektor minyak dan gas bumi, alih-alih punya sumber daya Migas. Kalaupun ada, itu baru reserve proven setahun terakhir. Ditemukan di cekungan ombilin, terletak dalam formasi batuan geologi untuk sumur gasnya di Kabupaten Sijunjung, dengan nama Blok South West Bukit Barisan.

Itu satu-satunya blok Migas di Sumbar yang sudah POD (Plant of Development). Itu pun baru tahun 2019 lalu dibanding blok Migas lain di tanah air yang sudah beroperasi puluhan tahun dan dikuasai kontraktor asing. Disini dibalik pertanyaannya, dimana pengamalan Pancasilanya untuk mereka yang menjual kekayaan alam tanah air untuk perusahaan migas dan batubara asing.

(Buruak muko camin dibalah)

"Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah" (Dia mengaku benar dan pandai, tetapi kenyataannya justru sebaliknya).

Saat kepentingan ekonomi kapitalistik yang dikuasai asing telah menyerobot kekayaan migas dan batubara hampir di seluruh Indonesia, Sumbar sepertinya akan tetap bertahan dengan ekonomi kerakyatannya.

Menariknya, meski telah terbukti membangun nagari berbasis ekonomi kerakyatan,
Sumbar tak pernah sesumbar dengan jargon-jargon kosong, karena jargon Sumbar adalah "Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, dimano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai".
Kamajuan suatu negeri di Minangkabau, tidak akan dapat dicapai dengan baik, kalau ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati dan tinggal sebutan.

Penulis
Evick Budianto
-Sekretaris Jendral Pemuda Muslimin Indonesia 2009-2014, 2014-2019.
-Direktur Lembaga Pemantau Pemuda Muslimin Indonesia 2019-2024.
(Keturunan Minang Tulen)
Share: