.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

23/10/21

Refleksi 57 Tahun Hipermata: Jika Tak Dapat Menyatu, Bubarkan Saja


TAKALAR. TURUNGKA. COM. 28 Oktober 1964 merupakan waktu yang bersejarah dalam perjalanan Kabupaten Takalar. Sebab, pada waktu itu terbentuklah satu organisasi kedaerahan yang menghimpun manusia-manusia terpelajar (Pelajar dan Mahasiswa) yang ada di Kabupaten Takalar. Organisasi itu bernama Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar atau yang familiar disebut dengan singkatan Hipermata.

Sebagaimana konsep dasarnya, bahwa suatu entitas tak mungkin ada (Eksis) jika tak ada sesuatu lainnya yang mendasarinya. Anggaplah Adam, ia tak diciptakan begitu saja oleh Tuhan tanpa ada hal yang mendasarinya, pun dengan yang lainnya. Seperti itulah Hipermata, dapat dipastikan bahwa ia ada karena hadirnya sekumpulan ide dan gagasan yang tentunya dirumuskan untuk kemaslahatan bersama.

Para pendiri Hipermata tentu memiliki i'tikad baik, pastilah berangkat dari sebuah alas pikir yang benar, kebenarannya diyakini oleh orang-orang, dan kebenarannya pasti ingin diperjuangkan sepanjang masa. Itu niscaya. Pada tulisan ini, penulis tak perlu mengulas apa yang menjadi alasan substansial terbentuknya Hipermata, sebab itu hanya bisa terjawab secara rasional dan objektif dari mulut para pendirinya. Kita yang berada dalam tubuh Hipermata di zaman sekarang, hanyalah sekumpulan orang yang datang melihat realitas dari bentukan sejarah, entahka realitas yang baik atau realitas buruk.

Hipermata selain organisasi kedaerahan (Organda) yang menghimpun para pelajar dan mahasiswa domisili Takalar, juga menjadi organisasi mitra kritis pemerintah daerah dalam rana kehidupan bermasyarakat. Sebagai satu organisasi yang besar dan memiliki kader yang banyak, kita mesti memahaminya sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar.

Kita memang perlu organisasi sebagai sesuatu yang dapat menghubungkan ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari makhluk Tuhan yang dipredikasi sebagai "Manusia". Mengapa? Sebab kita adalah makhluk sosial yang tak dapat terpisahkan oleh realitas kehidupan. Sebagaimana didaku oleh Aristoteles, bahwa manusia adalah "Human Politican" atau "Makhluk Sosial".

Sebagai makhluk sosial, kita punya keinginan dan tentu memiliki hasrat yang besar untuk selalu membangun keterikatan dengan manusia yang lainnya. Jika ada manusia yang tak bisa menerima keberadaan manusia yang lainnya, maka kemanusiaannya patut dipertanyakan.

Maka menjadi sesuatu yang wajar jika manusia membuat alternatif untuk bisa lebih mempertemukan banyak individu dalam satu entitas, seperti membentuk organda.

Keberadaan Hipermata tentu disertai dengan dinamika, baik dinamika sejarah, politik, kelembagaan, maupun dinamika antar individu para simpatisannya. Bagaimanapun wujud Hipermata saat ini, hal itu tak bisa kita lepaskan dari kondisi yang membentuknya, yakni dinamika-dinamika yang tersebutkan itu.

Maka dalam memandang Hipermata saat ini, kita haruslah menggunakan satu pendekatan, yakni pendekatan historis: bahwa realitas itu terbentuk berdasarkan kondisi atau pertentangan yang terjadi dalam sejarahnya. Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa sejarah keberadaan Hipermata pasti disertai dengan dialektika.

Salah satu hal yang menggerogoti eksistensi Hipermata akibat adanya gerak dialektika dalam sejarahnya adalah, munculnya dua kepemimpinan dalam satu lembaga yang sama atau yang kerap dikenal dengan istilah "Dualisme".

Dualisme adalah kondisi dimana suatu kelompok manusia yang awalnya berada pada satu poros/gerbong, kemudian terpecah menjadi dua poros/gerbong. Hal itu dialami oleh Hipermata beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2010 saat Kepemimpinan Supriadi Sanong. Konon, Hipermata di pecah oleh aktor yang pernah menduduki jabatan strategis di kursi Pengurus Besar.

Terlepas dari asbab terjadinya perpecahan dalam tubuh Hipermata, bagaimana pun pembelaannya, hal itu adalah suatu kemunduran sekaligus kejumudan dalam berpikir. Mengapa demikian? Sebab perpecahan tersebut adalah manifestasi yang paling nyata bahwa tidak ada lagi bangunan epistemologi yang baik, yang ada hanyalah egoitas dan sekte antar sesama kader maupun petinggi Hipermata.

Usia Hipermata kini mencapai 57 tahun, bukan kurung waktu yang pendek. Kehadirannya telah lama menapaki Takalar dengan segala kompleksitasnya. Tetapi sayang, dalam perjalanannya, Hipermata justru dicabuli oleh orang-orang yang tak lagi mengedepankan asas kekeluargaan, persaudaraan, dan tentunya pijakan pikir yang benar. Penulis tak bermaksud mengolok-ngolok orang yang terlibat dalam kasus dualisme Hipermata, tetapi itu hanyalah bagian dari reaksi penulis yang sangat menyayangkan terjadinya hal tersebut.

Hari ini Hipermata menjadi dua poros yang berjalan pada alurnya masing-masing. Bagi kader Hipermata kata "Bontomene" dan "Bajik Ateka" Tentu tidak asing lagi. Kedua term itu adalah gambaran akan adanya dua poros dalam tubuh Hipermata. Tentu, kedua poros tersebut memiliki simpatisan dan petingginya masing-masing.

Di usianya yang ke 57 Tahun, akankah Hipermata tetap menjadi pinang dibelah dua? Apakah realitas ini telah menjadi sesuatu yang final? Atau hal ini tetap langgeng karena tidak adanya ikhtiar untuk menciptakan integrasi lembaga? Entahlah, hanya Tuhan pemberi petunjuk terbaik!

Jika kita refleksi, telah banyak alumni Hipermata yang bergelimang kebahagiaan, bahkan tak dapat dipungkiri banyak yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan. Namun, yang patut kita pertanyakan adalah, dimana dan kemana mereka semua saat ini? Di saat Hipermata menangis pilu membutuhkan kekuatan mereka, dimana mereka semua?

Mungkin saja mereka ada dan tetap melihat Hipermata, hanya saja masih tetap membiarkan Hipermata dalam perpecahan yang tak berkesudahan, membiarkan Hipermata tenggelam dalam sejarah yang kelam. Semestinya, para petinggi Hipermata memikirkan nasib generasinya sebagai pelanjut estafet kepemimpinan. Bukan justru menghadirkan sekte kepemimpinan hanya karena persoalan tak tercapainya hasrat politik kepemimpinannya.

Organda seharusnya menjadi lembaga yang menghimpun dan mempererat persaudaraan serta kekeluargaan antar sesama manusia di dalamnya. Terjadinya perpecahan dalam organisasi, berpotensi menghadirkan kondisi yang tidak harmonis bagi setiap simpatisannya. Mau tidak mau, diakui ataupun disangkal, itu pasti ada!

Tidak dapat dipungkiri, terjadi hubungan yang tidak harmonis saat ini antar sesama kader Hipermata dari dua poros yang berbeda. Mulai dari hubungan emosional yang tidak sejalan, persaingan Komisariat antar dua Pengurus Besar, sampai kepada persoalan kepemilikan fasilitas yang saling sikut menyikut, seperti rasa kepemilikan terhadap asrama mahasiswa.

Oleh karena itu, pada Milad Hipermata yang ke-57 Tahun ini, yang mesti kita pikirkan bersama adalah, bukan lagi persoalan kuantitas kader, bukan lagi soal citra lembaga, bukan lagi soal visi dan misi lembaga, semua itu telah diraih, yang harus kita pikirkan ialah terciptanya integrasi lembaga antara dua poros dalam tubuh Hipermata, yakin Bajik Ateka dan Bontomene.

Hal tersebut menjadi tanggung jawab penuh Pengurus Besar (PB), dewan senior, dan seluruh kader Hipermata. Mengapa integrasi lembaga penting untuk dirumuskan saat ini? Karena itulah jawaban dan kondisi yang paling ideal atas masalah yang hari ini sangat meresahkan organisasi kita ini.

Untuk apa menciptakan satu wadah jika hanya sekat yang dinampakkan. Untuk apa membesarkan organisasi, jika pada satu kondisi justru mengecilkan persaudaraan, buat apa kita merawat sesuatu jika pada kondisi yang sama justru menghancurkan gerak humanis. Sebaiknya dibubarkan saja jika seperti itu! Toh, tak ada urgensinya. Orang-orang akan berpikir, masalah internal organisasi saja tak dapat dikelarkan, apalagi masalah umat. Sungguh, mimpi buruk yang berkepanjangan!

Siapapun yang menjadi pelaku sejarah dalam munculnya perpecahan ini, mesti lah bertanggungjawab! Hipermata menanamkan nilai transformasi kader, yang sangat mengedepankan tanggungjawab. Jangan kemudian lempar batu sembunyi tangan, datang membelah lalu pergi begitu saja.

Maka dari itu, semua pihak termasuk dewan senior dan seluruh kader Hipermata haruslah mengambil tindakan yang tegas dan konkret untuk mempersatukan kembali organisasi yang besar ini. Ke-besar-an Hipermata tidak akan ternilai secara substansi dan etis jika masih ada perpecahan di dalamnya.

Oleh sebab itu, untuk seluruh simpatisan Hipermata baik pengurus maupun alumni, berhentilah mengedepankan egoismenya masing-masing, berhentilah mengedepankan gengsi kelompok masing-masing, kedepankanlah nasib generasi Hipermata. Jangan biarkan apa yang kita alami saat ini, itu juga dialami oleh pelanjut kita. Memperkenankam hal itu terjadi, sama halnya kita membiarkan pemerkosaan terjadi berkali-kali. Tentu itu sangat miris, maka sadar dan insaplah wahai pemuda!

Jadikan Milad Hipermata yang ke-57 Tahun ini sebagai momentum bersatunya dua poros besar, itu jauh lebih baik daripada harus berpesta pora. Kembalikan sesuatu pada hakikatnya, maka sesuatu itu akan lebih berarti.

Dalam hal mencita-citakan integrasi dua poros dalam tubuh Hipermata, dewan senior haruslah segera turun gelanggang. Terutama mereka yang menjadi pelaku sejarah terjadinya perpecahan sebagai bentuk tanggungjawab etis terhadap lembaga yang membesarkannya.

Tulisan ini tidak mengajak kita tuk membenci Hipermata, tidak menuntut kita tuk menghindari keberadaannya, hanya saja kita mesti prihatin atas kondisinya saat ini. Itu wajar, sebagai kader Hipermata yang sadar akan nilai-nilai transformasi kader. Orang-orang yang tak menginginkan adanya penyatuan Hipermata, adalah orang-orang yang tak dapat membina dan menggembleng regenerasi. 

Opini
Penulis
Kader Hipermata Komisariat Unhas

Share:

20/10/21

Gandeng KWT Desa Campagaya, FP UMI Gelar Pelatihan Pembuatan Tepung Ubi Jalar Ungu

GALESONG, TURUNGKA.COM. Bersama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Campagaya, Galesong. Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menyelenggarakan kegiatan pelatihan pembuatan tepung ubi jalar ungu guna meningkatkan nilai tambah produk ubi jalar ungu yang ada di desa tersebut.

"Karena desa ini memproduksi banyak ubi jalar ungu maka kami mendorong KWT Campagaya untuk menciptakan produk tepungnya agar pertumbuhan ekonomi masyarakat juga meningkat" ujar Dr. Ir. St. Subaedah, MS pada Rabu (20/10/2021).

Sementara itu, ketua KWT desa Campagaya memberi komentar positif terkait kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat bermanfaat sekali bagi masyarakat di desa Campagaya sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat. Apalagi ditengah pandemi ini maka mesti ada dorongan untuk menciptakan komoditas yang baru bagi produksi ubi jalar ungu ini.

"Kehadiran dari dosen fakultas pertanian Umi Makassar memberikan kontribusi reaktif dalam memberdayakan KWT yang Tidak lain hanya untuk memanfaatkan potensi sumber daya sebagai kunci keberhasilan dan pembangunan suatu SDM di pedesaan." Tandas Kasmawati.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ir. St. Subaedah, MS didampingi juga Dr. Ir Edy, MP serta dibantu oleh dua orang  mahasiswa jurusan agroteknologi. Serta puluhan masyarakat antusias mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. (SLMN/Ahm)

Share:

18/10/21

Akan Laksanakan FGTS 3, Formasita Adakan Tudang Sipulung Bersama Calon Peserta

MAKASSAR. TURUNGKA. COM. Forum Mahasiswa Beasiswa Aspirasi Tamsil Linrung (Formasita)  adakan TUDANG Sipulung bersama calon peserta Formasita Goes To Senayan Season 3 (FGTS 3). Ahad, 17 Oktober 2021 pukul 14.00 Wita-Selesai di Pondok Madinah Perintis Kemerdekaan 9, Makassar.

Tudang Sipulung tersebut merupakan agenda pertemuan perdana bersama 188 calon peserta FGTS 3 dari 21 Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan setelah ditutupnya pendaftaran peserta. Pelaksana kegiatan tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. 

Sejak dibukanya pendaftaran pada 4-14 Oktober 2021 lalu, pendaftar mencapai 203 orang. Sementara, peserta yang dinyatakan lolos seleksi tahap 1 sebanyak 188 orang yang tersebar di 21 Kab/Kota se-Sulawesi Selatan, 21 Perguruan Tinggi dan 8 SMA se-derajat. 

Pertemuan perdana itu menjadi ajang silaturahmi antar sesama calon peserta dengan pelaksana FGTS, sekaligus sebagai forum pembahasan mekanisme FGTS 3, pemaparan TOR serta pembagian kelompok galang dana. 

Berbeda dengan pelaksanaan FGTS sebelumnya,  FGTS 3 kali ini bukan hanya akan mengunjungi ibu kota negara Jakarta, tetapi juga akan melakukan "ekspedisi budaya" dengan mengunjungi beberapa tempat di Bogor, Yogyakarta dan Surabaya bertemakan "Gapura Anak Bangsa".

Berdasarkan penyampaian Wakil Ketua II bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Formasita kepada Awak Turungka,  Muhammad Edwin Ilyas menyampaikan, bahwa FGTS 3 merupakan program kerja unggulan Formasita dengan berbagai item kegiatan. 

"FGTS 3 merupakan salah satu program kerja terbesar Formasita yang dinaungi oleh Kluster 3 Bidang Organisasi, Pendidikan dan Pelatihan Formasita. Agenda FGTS berupa kuliah umum, study tour di beberapa lembaga tinggi negara serta ekspedisi budaya di Yogyakarta dan Surabaya" ucap Edwin. 

Selain itu, Ketua Umum Formasita, Andi Nur Jayadi menyambut hangat seluruh calon peserta FGTS 3 yang hadir sekaligus memberikan gambaran umum terkait pelaksanaan FGTS 3 kali ini.

 "Selamat datang kami ucapkan di keluarga besar Formasita, kami atas nama Formasita sangat senang dan bangga bertemu dengan teman-teman, FGTS Season 3 kali ini benar-benar akan kami siapkan secara profesional," 

(Frm/Rsf) 

Share:

15/10/21

Sepucuk Luka di Malam Hampa


Malam gelap gulita

Tiada cahaya yang diciptakan bulan dan bintang

Langit mendung terasa

Angin semilir segarkan jiwa

Mengobati rasa luka yang tercipta

Luka yang merobek jiwa

Mengiris ke dalam sukma

Menggores hati melewati raga 


Malam sepi terasa hampa

Gelap bagai di dasar samudera

Tiada terlihat mata di jiwa

Rasa getir di hati yang melanda

Menutupi kisi-kisi dalam sukma

Menghimpit rasa dalam duka 


Melodi rindu menusuk kalbu

Luka hati akan terasa selalu

Membekas tanpa pernah jemu

Menghadirkan kisah pilu

Mau tersenyum pun terasa ragu

Karna sakit hati yg membelenggu

Menancap di dalam sukma 


Duhai malam yang sepi

Sanggupkah kau obati

Luka dalam yang menancap di hati

Menggores sukma bagai duri 


Oh angin...sejukkanlah hati

Agar tak terasa luka ini

Walaupun bekasnya masih disini

Tapi ku coba untuk tenangkan hati

Dan belajar untuk menyadari

Bahwa semua sudah menjadi takdir Ilahi

Semoga Allah memberi yang Terbaik

Padaku yang tak mampu berdiri sendiri 


Irma Afiati. Penyuka cerpen dan puisi. Pelajar Ilmu Bahasa dan Budaya SMA Negeri 9 Takalar.

Share: