.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

21/09/21

Mahasiswa Teknik UIM Minta Pihak Kampus Mengusut Tuntas Oknum Penyerangan dan Pengrusakan Sekretariat


MAKASSAR. TURUNGKA. COM. Sekretariat dan Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar (UIM) diserang orang tak dikenal (OTK), mahasiswa UIM minta pihak kampus segera mengusutnya. Ahad, 19 September 2021 pukul 03.30 WITA di Kampus UIM, Jl Perintis Kemerdekaan KM 09, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar itu

Penyerangan yang membuat sekretariat dan fasilitas Laboratorium Teknik Mesin mengalami kerusakan berat,  di duga terjadi karena adanya oknum mahasiswa yang tidak menerima salah satu mahasiswa Teknik Mesin menggunakan atribut organisasi eksternal pada Hari Sabtu Sore.

Berdasarkan penyampaian Ketua Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) kepada Awak Turungka, Muh Nurul Ikhsan menyampaikan, bahwa dirinya sangat menyayangkan dan mengecam keras oknum-oknum yang menjadi dalangnya.

“Ini adalah tindakan premanisme, oleh karena itu saya sangat mengecam oknum-oknum yang tak bertanggung jawab dalam kasus penyerangan ini,” Kata Muh Nurul Ikhsan

Lebih lanjut, ia menyampaikan, bahwa pihak kampus wajib mengusut tuntas kejadian tersebut. 

“Dengan terjadinya insiden yang telah merugikan lembaga dan kampus, maka saya selaku ketua Umum HMM meminta dan mendesak pihak kampus untuk segera bertindak sesuai prosedur yang berlaku, sebab ini sudah menjadi tindakan yang sangat keterlaluan,” tegasnya

Sementara itu, salah seorang mahasiswa Teknik Mesin juga sangat tidak menerima perlakuan yang tak bermoral itu. Menurutnya kejadian itu merupakan simbol terdegradasinya Intelektualitas mahasiswa.

“Pengrusakan yang dihasilkan dari atmosfer kemahasiswaan merupakan hasil dari berhentinya akal berpikir. Seharusnya jika tidak sepaham maka haruslah dihadapi dengan intelektualitas, bukannya dengan kekerasan. Kami sangat malu dengan organisasi kemahasiswaan yang menurunkan derajatnya dari seorang intelektual muda yang akan menjadi pengorganisir untuk kesejahteraan rakyat lebih memilih untuk menjadi preman di tengah masyarakat,” Tutup Rangga

(Nyp/fd) 

Share:

19/09/21

Tak Pandang Kuantitas, Hipermata Komisariat Unhas Kembali Berhasil Gaungkan Latihan Kader Tingkat Awal

TAKALAR. TURUNGKA. COM. Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar Komisariat Universitas Hasanuddin (Hipermata Komisariat Unhas) periode 2021-2022 kembali berhasil menggaungkan latihan kader awal (LK1) 

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Takalar pada Kamis-Ahad, 16-19 September 2021. 

Kegiatan pengaderan yang mengangkat tema "Reaktualisasi Spirit Intelektual Hipermata Kom. Unhas Menuju Kader Transformatif" itu, di ikuti sepuluh orang peserta yang merupakan mahasiswa Unhas asal Takalar. 

Berdasarkan penyampaian Ketua Umum Hipermata Komisariat Unhas kepada Awak Turungka, Nurul Sakinah berkata, bahwa LK1 Hipermata Unhas adalah momentum untuk mentransformasi pengetahuan, maka jumlah bukanlah tolok ukur pelaksanaannya. 

"Dalam pelaksanaan kegiatan ini jumlah bukanlah keinginan utama, tetapi kita ingin membentuk kader-kader yang berkualitas dalam pikiran dan tindakan, karena bagi di Hipermata Unhas, LK1 ini merupakan forum intelektual dan pengembangan karakter," kata Nurul Sakinah

Mahasiswa Sastra Inggris Unhas itu juga menambahkan, bahwa acara tersebut merupakan kegiatan wajib Hipermata yang dilakukan di setiap tepengurusan, terkhusus Komisariat Unhas. 

"Hipermata merupakan organisasi kaderisasi, maka perkaderan adalah hal yang wajib untuk terus dilakukan, terutama dalam tubuh Hipermata Komisariat Unhas," tambahnya

Di akhir, ia berharap agar melalui latihan kader itu, para kader-kader Hipermata Komisariat Unhas bisa menjalin silaturahmi yang baik serta bertambah wacana keilmuannya. 

"Saya berharap, setelah kegiatan Latihan Kader ini kita semua dapat lebih akrab baik sesama kader Hipermata Komisariat Unhas maupun dengan kader Hipermata dari komisariat lain. Serta semoga setelah ini kita bisa lebih nyaman untuk saling transfer ilmu baik terkait kelembagaan kita maupun diskursus keilmuan," harapnya


(FD) 

Share:

29/08/21

Merawat Regenerasi dan Menjelang LK1, Hipermata Komisariat Unhas Gelar Silaturahmi Dengan Mahasiswa Baru 2021

TAKALAR. TURUNGKA. COM. Merawat regenerasi dan menjelang Latihan Kader 1 (LK1), Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar Komisariat Universitas Hasanuddin (Hipermata Komisariat Unhas) menggelar silaturahmi bersama mahasiswa baru Unhas angkatan 2021.

Acara tersebut dilaksanakan di Masjid Alun-Alun Lapangan Makkatang Dg. Sibali pada Ahad, 29 Agustus 2021. Dihadiri oleh 20 orang peserta dari berbagai Fakultas yang ada di Unhas.

Ketua Umum Hipermata Komisariat Unhas, Nurul Sakinah mengatakan, bahwa agenda tersebut dilaksanakan sebagai bentuk nyata dari usaha Hipermata Komisariat Unhas dalam merawat dan membina regenerasi.

"Ini adalah salah satu cara kami dalam merawat generasi berikutnya, tentu dengan asas kekeluargaan," kata Nurul Sakinah

Mahasiswa Sastra Inggris itu juga menyampaikan, bahwa pertemuan tersebut pun menjadi prakondisi dilaksanakannya perekrutan anggota baru.

"Setiap angkatan mahasiswa baru, kami selalu melakukan perekrutan anggota, oleh sebab itu kami menggelar agenda ini sebagai langkah awal diadakannya perekrutan anggota baru," terangnya

Di akhir, ia berterimakasih kepada seluruh peserta silaturahmi yang telah bersedia hadir dalam kegiatan tersebut.

"Kami selaku pelaksana sangat bersyukur dan berterimakasih kepada saudara(i) atas kesediaannya bertemu dengan sesama mahasiswa Unhas asal Takalar," pungkasnya

(Frm) 

Share:

27/08/21

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Guru Honorer Indonesia?

 


TAKALAR, TURUNGKA.COM. Sorak bahagia baru saja terpancar dari seluruh pelosok negeri. Kemerdekaan Indonesia dari penjajah, sekarang sudah genap berusia 76 tahun. Seluruh lapisan masyarakat menyambut dengan antusias hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2021 lalu. Berkibar dengan bebasnya bendera merah putih di seluruh tanah indonesia, menunjukkan kebebasan sudah menjadi hak negeri tercinta.

Upacara 17an adalah ritual wajib yang diselenggarakan oleh masyarakat indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan di masa lampau. Pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan seluruh jiwa, raga, harta, waktu serta materinya hingga kini bendera merah putih dengan bebasnya bisa berkibar. Renungan untuk para penikmat kemerdekaan, sudah layakkah negeri ini dikatakan merdeka? Sudah menyeluruhkah kemerdekaan ini? Nyatanya tidak!

Indonesia masih digeluti oleh jutaan rintihan air mata kesedihan. Katanya merdeka, namun rupanya masih banyak rakyat yang belum merasakan indahnya kesehatan, tempat tinggal yang layak huni, serta pendidikan yang merata. Itukah merdeka?

Berbicara tentang pendidikan, tidak ada artinya sekolah yang megah jika tanpa pendidik yang baik, dan merekalah sang pahlawan sejati. Pahlawan tanpa tanda jasa. Sangat benar, ilmu dan pengetahuan yang diberikan sang pendidik sangat bermakna dan berdampak untuk kemajuan negeri ini. Tapi pernahkah mereka mengamuk di depan kita untuk diberi upah? Sangat wajar, jika mereka butuh bayaran dari apa yang telah mereka lakukan demi masa depan para penuntut ilmu. Namun bukan itu yang mereka harapkan.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah tujuan utama sang pendidik. Memberikan yang terbaik untuk muridnya. Memberikan ilmu dan pengetahuan yang terbaik untuk mencerdaskan anak-anak polos dan miskin ilmu, hingga menjadi sarjana-sarjana hebat yang berprestasi. Hal ini sebanding dengan gaji pendidik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, apa kabar upah pendidik Non PNS (Guru Honorer) di luar sana?

Banyak guru banting setir mengambil pekerjaan sampingan, akibat gaji dari guru honorer tidak sebanding dengan kebutuhan hidup mereka, sehingga mengharuskan mereka untuk mencari pekerjaan lain di luar guru honorer. Inilah yang dimaksud merdeka tapi belum merdeka. Merdeka tapi mereka mendapatkan gaji "tidak layak" bahkan jauh di bawah kata cukup untuk kebutuhan hidup.

Kondisi ini harus menjadi renungan bersama, bahwa kualitas pendidikan Indonesia akan merosot jauh ke bawah jika kondisi Guru Tidak Tetap (GTT) tidak segera dibenahi. Sebab, gaji yang mereka terima tidak sebanding dengan tugas administratif, dan tugas utama sesuai Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD) tahun 2005. Apalagi banyak diantara guru honorer yang gajinya tidak dan atau lambat cair dari waktu ketentuan yang berlaku, sehingga menjadi kerasahan dari para guru honorer di Indonesia.

Sedangkan, memang benar jika guru adalah contoh bagi para muridnya. Mereka adalah panutan, serta orang yang para murid hormati setelah orang tua. Namun tanpa adanya bantuan dari sosok guru honorer, maka kegiatan belajar mengajar di sekolah pasti akan kacau, apalagi jumlah PNS di sekolah semakin berkurang karena banyaknya guru yang pensiun, sehingga peran GTT sangat dibutuhkan dalam suatu sekolah.

Hari guru adalah salah satu momentum untuk mengenang jasa para guru yang telah berjasa dalam kehidupan. Namun semua itu adalah formalitas biasa, sebab sorakan demonstrasi dari para guru honorer di luar sana bagaikan angin yang berlalu. Para guru honor turun ke jalan, berteriak menyuarakan haknya untuk mendapatkan gaji yang layak. Para guru meminta negara agar peduli pada nasib mereka. Namun, tidak ada satupun yang mendengar aspirasi mereka. Teriakan guru honorer tidak didengar oleh negara. Buktinya, gaji mereka hingga sekarang belum mengalami perubahan signifikan dari sebelum-sebelumnya.

Hal ini menjadi bahan refleksi untuk Indonesia yang katanya sudah merdeka, agar sila kelima indonesia “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar merata dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke. Agar sila kelima pancaila tidak hanya risakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan tertentu.

Sejatinya, gurulah yang berada di garda terdepan dalam upaya memajukan kualitas SDM dan majunya suatu bangsa. Kedepannya, harapan penetapan gaji Honorer mampu sesuai Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), baik untuk GTT maupun GTY. Karena realitanya banyak guru honorer yang digaji hanya ala kadarnya. Hal seperti ini yang membuat guru tidak loyal dengan pekerjaannya. Padahal, kunci utama guru mendidik adalah "mencintai" pekerjaannya. Sebab, jika seorang guru tidak cinta terhadap pekerjaannya, pembelajaran pasti akan setengah hati. Serta, kedepannya sistem pencairan gaji UMK honorer harus disalurkan per bulan. Karena para GTT juga butuh makan, meraka bukan budak pendidik.

Selanjutnya  adalah "menghapus" moratorium. Syaratnya, menyelenggarakan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dengan mengutamakan Guru Tidak Tetap (GTT) yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdi. Sebab realiatanya, selama ini perekrutan guru CPNS di Indonesia hanya sekitar 25-50 orang saja per kabupaten/kota. Artinya, perbandingan guru pensiun dengan yang diangkat menjadi PNS sangat tidak seimbang, sehingga masih banyaknya guru honorer yang belum terangkat menjadi PNS.

Usia Indonesia di 76 tahun, apakah sudah benar-benar merdeka? Mari merefleksi indonesia dari sisi-sisi kecil yang jarang terjangkau oleh mata-mata manusia berdasi. Indonesia butuh orang-orang yang peduli, bukan peduli kepada diri sendiri, namun peduli akan kesejahteraan orang banyak. Sebab orang yang paling bermanfaat adalah yang bermanfaat bagi orang lain, dan manusia yang hebat adalah manusia yang mampu memanusiakan orang lain. Orang baik adalah mereka yang berusaha memberikan senyuman di bibir-bibir indah, yang tak lagi nampak karena terhalang oleh duka dan air mata kemiskinan. Salam Kemanusian!

Penulis : Risfa (Umum_Universitas Hasanuddin)

Sumber Foto : http://www.pijarnews.com

#ESSAI
#GURUHONORER
#PEKIKBELUMMERDEKAGURUHONORER
#INDONESIATANGGUHINDONESIAMAJU
#MERDEKA76TAHUN
#TAMSILLINRUNG

Share: