.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

06/03/13

Bahaya Laten Pseudo Nasionalisme

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Citarasa kebangsaan di kalangan pelajar Takalar sudah amat memprihatinkan. Pelajar tingkat SMA/SMK di daerah ini, mengalami disorientasi berkehidupan sebagai warga Negara Indonesia. Mereka terjebak dalam dunia yang berpeluh absurditas dan kedangkalan. 

Begitulah beberapa butir fakta yang terungkap dalam karya tulis ilmiah (KTI) yang berjudul “Ikhtiar Mengurangi Pseudo Nasionalisme di Kalangan Pelajar Kabupaten Takalar”. Meski ditulis dan diteliti oleh seorang siswi SMA, yang bernama Sri Rezeki WJ namun hasil penelitiannya tersebut syarat dengan akurasi informasi yang berbobot dan mencerahkan. 

Menurut peneliti belia yang ditemui dalam kelasnya rabu, (06/03/2013), dia telah merampungkan penelitian terhadap 180 pelajar tingkat SMA/SMK Takalar yang tersebar di enam sekolah utama yang meliputi SMAN 1 Takalar, SMAN 2 Takalar, SMAN 3 Takalar, SMAN 1 Polsel, SMKN 3 Takalar dan SMK Yapta Takalar.

Hasil penelitiannya cukup mengejutkan, bahwa lebih dari 50% pelajar di Takalar sudah mengalami gejala pseudo nasionalisme atau nasionalisme semu/nasionalisme palsu. 

“Sebagian besar responden menyatakan secara lisan bahwa mereka mencintai negerinya. Mereka mengaku memiliki nasionalisme. Namun kenyataannya, mereka kurang peduli dengan kebersihan lingkungan sekolah, tidak menghayati makna upacara bendera, dan tidak mau sedikit berkorban kepada sesama yang serba kekurangan” urainya dengan begitu meyakinkan.

“Pseudo nasionalisme merupakan fenomena ketika rasa cinta kepada bangsa hanya sekedar ungkapan kata tanpa pembuktiaan. Ketika menyaksikan tim nasional bulutangkis maupun sepakbola berlaga, sontak kesadaran kebangsaan begitu kuat mempersembahkan dukungan dan doa yang terbaik demi kemenangan timnas. Namun begitu menyaksikan tumpukan sampah, maupun aroma pesing wc sekolah, maka niscaya tiada terbersit sedikitpun nasionalisme untuk membersihkan semua kekotoran yang nampak. Itulah pseudo nasionalisme” tuturnya dengan nada ketegasan. 

Sementara ketika mendengar hasil penelitian mengenai pseudo nasionalisme, Saharuddin Dg Bani sontak berseloroh “Sungguh, kesimpulan yang menyesakan dada”. 

Menurut Ketua Departemen Organisasi, Kaderisasi dan Dakwah Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar tersebut, bangsa kita sedang disandera oleh bahaya laten pseudo nasionalisme. 

“Adalah benar bila nasionalisme generasi sekarang bukan lagi nasionalisme dengan mengangkat senjata. Namun bukan berarti, kita cukup mengangkat kedua tangan, menyaksikan pseudo nasionalisme ataukah nasionalisme semu itu menggerogoti kesadaran kaum muda Indonesia, termasuk kaum pelajar Takalar” ketusnya dengan nada kritis. 

“Kita semestinya melawan nasionalisme palsu dengan menghidupkan kembali tradisi bersama memperjuangkan hidup yang berkeadilan serta berkemakmuran” pungkasnya penuh optimisme.

Dan bagi peneliti pseudo nasionalime, Sri Rezeki, sudah seyogyanyalah seluruh jajaran Pemerintahan Daerah baik Bupati maupun DPRD Takalar mulai merancang secara sistematis dan komprehensif program penanggulangan nasionalisme semu khususnya di dunia pendidikan. 

Sementara bagi organisasi pelajar ataupun organisasi kepemudaan seperti Pemuda Muslimin Indonesia, diharapnya lebih intens melaksanakan pembinaan yang berorientasi kepada pengembangan budaya literasi dalam bingkai religiusitas.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar