.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

16/03/13

Puisi: Gelisahku di Ranah Seberang

Aku tak pernah berharap ada di sini 
Di negeri yang mematikan otakku sendiri 
Tertekuk, pincang, lalu lumpuh suatu hari 
Aku benci aroma mesiu bertebaran ini 

Peluru, di manapun, tak pernah benar 
Membunuh, tak peduli sengaja/kesasar 
Setiap alasannya tak berterima nalar 
Dan itulah yg tampak di panggung latar 

Namun, mereka bersorak menginjak-injak luka yang memborok miliknya sendiri 

Mereka mengakak, lalu meringis dan mengerangi sakitnya di jelang mati 

Tumpahan darah yang sebetulnya berbau amis, mereka kerubuti serupa lalat-lalat lapar, 
Lelambai daun pohon sawit tak lagi indah, namun menjadi dendang maut memekakkan yg sengaja tertebar 

Lalu di mana pesan damai menghilang? 
Kenapa bijak itu terbuang? 
Tubuh-tubuh terpanggang 
Nyawa meregang, lalu sisa terkenang 

Di sini mata ini terbuka, terbelalak 
Muak menyaksikan ego para elit perompak 
Tak apalah, jiwaku kugadai demi menancapi matamu sebatang tombak 
Lalu aku mati, dan lelaron datang lebih dahulu sebelum fajar beranjak 

Aku yakin, bidadari akan datang menyapaku hangat 
Lantas bernyanyi lagu cinta sebelum jazadku terangkat 
Kendati tak ada lagi yg memikat 
Setidaknya di sisa ragaku masih merasakan nikmat 

*** 
Lahad Datu, Negara Bagian Sabah Malaysia, 13 Maret 2013.



Ridwan Marzuki, seorang jurnalis yang sedang belajar pada alam.
dapat dikontak melalui facebook. http://www.facebook.com/ridwanmarzukii

Share:

0 komentar:

Posting Komentar