.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

06/03/13

Membolos Berjamaah di Lapangan Makattang

M. Auzan (Ketua OSIS SMA 1)
TAKALAR, TURUNGKA.COM - Pemandangan bernuansa ironi selalu tersaji di lapangan kebanggaan Takalar, Makattang Dg. Sibali. Ketika proses pembelajaran di lingkungan sekolah tengah berlangsung, justru sebagian siswa/siswi dengan berseragam putih biru mudanya, berkumpul menikmati kebebasan dari aktivitas belajar di dalam sekolah. 

Realitas ini rutin tersaji sejak pukul 09.30-11.30, termasuk hari ini, rabu (6/3) meski rinai hujan begitu deras.

Sebagian siswa berkumpul di bawah rindang pohon dekat permainan anak. Beberapa yang lain berkelompok di sebelah lapangan futsal. Bahkan beberapa siswa tanpa air muka bersalah, duduk di baruga yang berhadapan langsung dengan sekretariat KNPI Takalar.

Menurut salah seorang siswa AA, siswa kelas XI dari salah satu SMAN Negeri di Takalar, kebiasaan berkumpul bersama teman di Lapangan Makattang merupakan ekspresi rasa bosan dan tidak nyaman berada di sekolah. Dia bersama rekannya, ingin meluapkan kebebasan yang mustahil diterapkan dalam lingkungan sekolah.

“Disini, kami bisa merokok dengan bebas. Berbagi cerita lucu sambil tertawa lepas. Bahkan terkadang kami ikut membantu teman yang lagi dilanda kesusahan” ungkapnya begitu ringan. 

“Kami sama sekali tidak khawatir dengan sanksi sekolah, karena pihak sekolah juga tidak peduli dengan kenakalan kami” pungkasnya tanpa rasa takut.

Menanggapi fenomena bolos berjamaah di lapangan Makattang, Muhammad Auzan Ketua OSIS SMAN 1 Takalar menjelaskan bahwa semua sekolah harus bertanggung jawab terhadap siswa yang dibinanya. 

“Semestinya pihak sekolah harus memberikan pembinaan intensif bagi siswanya yang tidak betah belajar di lingkungan sekolah dengan memeriksa absensi kehadiran siswa lebih cermat. Selain itu, pihak satpol PP dapat dimintai bantuan untuk menjemput siswa yang bolos saat jam pelajaran sebagaimana pengalaman di Bantaeng”.

Sementara itu, pendapat yang lebih tegas diutarakan oleh Rustam Dg Pasang, Ketua Departemen Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya dan Olahraga Pemuda Muslim Takalar. Baginya fenomena bolos sekolah menjadi bukti kegagalan lembaga pendidikan mengoptimalkan potensi peserta didik.

“Kalau ada sekolah yang tidak mampu mengurus seorang siswanya sekalipun, maka guru BP bahkan Kepala Sekolahnya lebih baik mundur dari tugas dan jabatannya.”

“Pihak Dikpora tidak boleh membiarkan kebobrokan ini terus terjadi. Apakah mereka tidak mempunyai mata, sehingga tidak melihat fenomena bolos berjamaah di lapangan Makattang. Oleh karena itu kami mendesak dan memberi tenggang waktu selama seminggu, agar pihak sekolah dan Dikpora harus segera menuntaskan fenomena bolos dengan cara-cara yang elegan dan mencerahkan” geram mahasiswa kritis dari Yapis ini.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar