.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

07/04/13

Appatingngala, Petani Sedih


TAKALAR, TURUNGKA.COM - Lumrahnya, petani yang memasuki masa appatingngala atau masa panen, senantiasa bahagia dan bergembira, bahkan beberapa kawasan di Takalar mengisi waktu ini dengan melakukan pesta rakyat seperti a'lammang dan akkaddo’ bulo.

Namun musim panen kali, tidak demikian. Banyak petani yang gagal panen disebabkan padinya puso. Kalaupun ada yang panen, itu mengalami penurunan hasil sekitar 50 persen. Seperti yang terjadi di Desa Tarowang dan Bontorita, Kecamatan Galesong.

Menurut penuturan seorang buruh tani, Daeng Nurung, penghasilannya sebagai buruh panen sangat menurun bila dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Sepanjang masa panen ini, saya hanya memperoleh sedikit gabah dibanding tahun lalu, karena banyak sawah yang saya panen kurang hasilnya, apalagi sistemnya di sini, tujuh banding satu. Satu untuk saya, tujuh untuk pemilik sawah.” Tuturnya sambil mengerutkan dahi.

Beberapa waktu terakhir, janda dua anak ini terpaksa mengurangi jam tidur, malam haripun digunakannya untuk bekerja. Mulai pukul sembilan malam sampai sekitar jam dua dinihari dihabiskannya di sawah untuk attabbasa’ (cara panen trdisional).

Sementara pagi sampai petang, dia melakukan kegiatan akkateri (memotong padi dengan sabit). Itupun tidak banyak membantu untuk meningkatkan pendapatannya.

“Saya merasa tidak sebanding keringat dan upah saya, saya merasa sama saja capeknya dengan tahun lalu, tapi hasilnya jauh berbeda, apalagi kemungkinan musim tanam depan akan gagal karena bendungan rusak.” Terdengar isak di ujung kalimatnya.

Senada dengan Daeng Nurung, Haji Nimbang, seorang tengkulak gabah di Bontorita mengungkapkan, “Tahun ini, orang yang datang menjual gabahnya sangat kurang, itu karena bnyak petani yang gagal panen, meskipun harga gabah kini lebih mahal daripada tahun lalu."

Akibat kurangnya produksi, harga gabah naik mencapai 50% dibanding tahun lalu. “Misalnya harga gabah berkisar 2000-25000/kg, sekarang dapat mencpai 3000-3500/kg.” Lanjut Haji Nimbang.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar