.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

29/08/13

Kolom: Kematian

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Kematian acapkali kita percakapkan sebagai negativitas kehidupan dan kedirian. Yang pertama, kematian ada sebagai ketiadaan hidup. Yang kedua, kematian ada sebagai ketiadaan diri.

Kematian dalam pengertian yang kedua ini, hanya terjadi pada makhluk hidup yang mengenal konsep “aku”; dan sejauh permenungan kita, hanya manusia yang termasuk dalam kategori ini. 

Aku-mati, karena itu, adalah tubuh yang kehilangan referensi sosialnya. Ketika aku-sosial berhenti, maka energi antropologis tubuh juga menguap. Meski selalu saja ada kenangan yang tertinggal di sana, lalu tumbuh dalam referensi baru: “pikiran”, “karya intelektual”, “cita-cita”, atau “teladan” beliau, dan seterusnya.

Sebab dalam perspektif metafisika, aku-yang-aku tidak sekadar tubuh. Biografipun ditulis bukan untuk mengenang si mati, tapi justru untuk menyiasati dan menyubsidi kehidupan. Di situ, kematian lebih merupakan kepentingan mereka yang hidup.

Ludwig Wittgenstein, dalam magnum opusnya Tractatus Logico-Philosophicus (1951) bahkan menyebut jika kematian adalah “misterium”: Sebuah realitas tak tercakapkan dan mutlak terdiamkan (be silent) karena “melampaui” dan berada “di luar” dunia.

Itu sebab, dalam doktrin keruhanian Islam dan agama serta tradisi otentik lainnya, kematian dilukiskan sebagai “pintu” dan jalan “pulang” menuju ke Titik Asal.

Bukankah makna sebuah pintu terletak pada “kekosongan” yang disodorkannya. Kekosongan, yang sejauh ini dipandang remeh, ironi, sepele, dan tak berguna, justru menemukan maknanya dalam kematian.

Di sini kekosongan tidak identik dengan kehampaan, tapi jalan keniscayaan sang-aku dalam menemukan kembali jejak Asal-Usulnya. Itu sebab, dalam literasi nusantara, kematian disebut juga “berpulang” atau “kembali”. Karena, pada intinya setiap orang yang berhasil pulang selalu tiba pada titik dimana ia berangkat.

Kemarin, permenungan kematian itu kembali menggugat nurani saya, menyusul “sms” Professor Moch. Qasim Mathar di subuh gelap jelang fajar: “...Kembali ke rahmatullah kawan, cendekiawan, dan kolumnis muda kita, Dr. Ahyar Anwar (dosen UNM): Allahumma-gfirlahu war-hamhu wa’fuanhu.”

Ahyar Anwar --dan juga kita kelak, telah memasuki pintu kepastian itu. Lamat-lamat ada pesan kuat yang mengalir di sana: ide tentang pulang mengandaikan kesigapan dan bekal. Sebab itu, “pulang” bukan hanya urusan orang-orang yang akan pulang, tapi juga mereka yang mau “berangkat.”

Kematian, seperti halnya ironi dan canda, bisa merupakan kejutan-kejutan kecil yang tak berencana tapi berharga. Selamat jalan Bung Ahyar. Selamat pulang ke Titik Berangkat: Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un.


Dr. Muhammad Sabri AR, M.A., Direktur CBP UIN Alauddin Makassar. Sekretaris Majelis Pimpinan Wilayah Kahmi Sulawesi Selatan
Share:

0 komentar:

Posting Komentar