.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

12/09/13

Kolom: Caleg dan Ayam Betina

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Dalam sebuah acara silaturahim beberapa waktu yang lalu, seorang guruku berseloroh bahwa caleg (calon anggota legislatif) itu seperti ayam betina yang mau bertelur.

Ayam, jika ingin bertelur, hampir setiap saat suaranya terdengar nyaring berkotek-kotek, ayam tersebut sepertinya memamerkan kepada ayam yang lain, bahwa sebentar lagi ia akan bertelur. Tetapi begitu ia mengerami telurnya, suara si ayam tak pernah lagi bisa terdengar.

Seperti itu pula fenomena caleg di negeri ini yang perilakunya hampir dan mungkin sama dengan si ayam betina tersebut. Pada masa-masa pencalegan, para caleg tersebut ramai-ramai memasang dan memajang foto, baliho dan stiker mereka dimana-mana.

Hampir seluruh ruas jalan raya di setiap kabupaten, sampai ke pelosok desa terpencil sekalipun sekarang ini, banyak dipenuhi oleh spanduk dan poster serta banner para caleg yang akan bertarung pada pemilu legislatif tahun 2014 , memperebutkan kursi panas, menjadi anggota dewan, baik DPR pusat, DPRD propinsi maupun tingkat kabupaten.

Lebih mengherankan lagi sekaligus menggelitik, saya pernah menjumpai sticker seorang caleg yang ditempel di sebuah kuburan. Bukan hanya foto/gambar yang terpampang, slogan, motto ataupun visi misi mereka, juga dipajang di situ, sebagai penguat bagi konsituen yang akan memilih mereka saat pileg (pemilihan legislatif) mendatang.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan absah untuk dilakukan, sebagai sebuah bentuk sosialisasi kepada masyarakat. Akan tetapi, hal ini belum mencerminkan sebuah kemajuan dalam dunia perpolitikan, bahkan terkesan boros dan hanya membuang-buang duit.

Karena setiap penyelenggaraan pesta demokrasi, ritual semacam itu yang terus berlaku tanpa ada sedikit pun proses pendidikan politik yang lebih maju. Apatah lagi jika senyum dari para caleg yang terpajang di baliho maupun spanduk mereka adalah senyum palsu yang membawa luka, dan motto mereka adalah slogan yang penuh tipu daya, alih-alih memperjuangkan nasib rakyat, malah mereka yang akan menikam dan memakan rakyat yang notabene adalah yang mereka suarakan aspirasinya.

Sistem demokrasi yang mulai mengalami kemajuan sekarang ini, tidak dibarengi dengan sikap dewasa dari para calon petarung (caleg) terlebih dari partai yang mengusungnya.

Mereka masih menggunakan cara-cara lama untuk mempengaruhi massa/rakyat maupun konsituen untuk meraih simpati mereka. Misalnya bagi-bagi sembako, dengan dalih sebagai sedekah, tetapi maksud dan niatnya agar dipilih saat hari pemilihan, dan yang sangat menyedihkan adalah masih berlangsungnya praktek money politic (politik uang).

Setali tiga uang dengan para caleg, para konsituen/rakyat sebagai pemilih, belakangan ini sudah merasa acuh tak acuh, bermasa bodoh dengan perhelatan demokrasi tersebut, alih-alih mereka akan memilih calon anggota dewan yang baik serta berkualitas, malah mereka akan memilih, caleg yang banyak memberi mereka “sedekah” menjelang pemilihan.

Karena ada sebuah kekhawatiran dari masyarakat kita, berdasarkan pengalaman mereka, bahwa yang dipilih tidak pernah mewakili dan menyuarakan hak mereka, sehingga system demokrasi yang berlangsung sekarang ini, seperti sebuah lingkaran setan ini pun tak pernah terputus.

Seharusnya, partai atau caleg tidak hanya memberikan ikan kepada masyarakat pemilih, tetapi mampu meransang kecerdasan masyarakat dengan memberinya kail dan umpan, untuk menangkap ikannya.

Ahmad Rusaidi, S.Pd.I. Guru PNS pada SMA Negeri 2 Polongbangkeng Utara Kab. Takalar. Sekretaris Umum Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar 2013 – 2015. 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar