.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

30/10/13

Cerpen: Catatan Rindu Yang Tak Berhulu

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Langit mulai menampakkan keindahannya. Bintang-bintangpun berkelipan terbentang di angkasa. Bulan menampakkan dirinya lebih terang dari hari-hari sebelumnya, menambah keindahan langit malam itu. Bersama musik instrumentalia Caravansary-nya Kitaro, dengan khidmat kuhabisakan malam bersama bulan dan bintang.

Adakah kau memandangi bulan dan bintang malam ini? ­­Tiba-tiba berbisik lirih dalam hati kecil ini. Teringat aku pada seorang nan jauh disana.

Aku sedih bila kau tak sempat memandangi bulan dan bintang malam ini, sementara aku dengan syahdunya memandangi keindahan bulan dan bintang di langit. Bukan sedih karena kau tak sempat melihatnya, tapi aku sedih karena kau tak merasakan apa yang kurasa. Ucapku dengan nada lirih, hening, tak ada seorangpun yang mendengarnya. Hanya aku dan Sang Pencipta.

Malampun semakin larut, jam tanganku menunjukkan pukul 23:23. Alarmpun berbunyi, karena sengaja tiap pukul 23:23 aku ingin alarmku berbunyi. Entah ada apa dengan angka 23. Semakin larutnya malam semakin khidmat pula bersama sang rembulan dan bintang. Dan semakin menyisakan pula pilu dan perih yang tak terperi.

Cukup lama jendela kamarku kubiarkan terbuka, agar aku dapat memandangi bulan dan bintang bersama semilir angin yang membawa rindu. Cukup lama kau dan aku tak jumpa. Komunikasi hanya sekadar via sms itupun kalau ada waktu luang. Dan malam itu tak ada kabar maupun senyum darimu. Pernah kurasakan kerinduan yang melebihi sayatan, hanya  air mata yang paling mengerti seperti apa pedih di hati yang tak terperi.

Tepat pukul 00:00 alarmku kembali bergetar dengan nada alarm favoritku, Smile-nya Avril Lavigne. Dengan berat hati kututuplah jendela kamarku. Tak ingin rasanya kutinggalkan bulan dan bintang. Aku takut, bila esok tak lagi kupandangi bulan dan bintang seindah malam ini. Aku takut, esok tak lagi kulihat matahari dipagi hari.

Perlahan kepala ini menyentuh bantal dan guling kesayanganku. Perlahan mata ini tetutup hingga pulas. Waktu tak berjalan di tempat. Bumi berevolusi. Siang berganti malam, malam berganti pagi. Sang fajar kembali menyapa, adzan subuh telah berkumandan membangunkan umat muslimin dan muslimat.

Alhamdulillaahi alladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.
Setelah membaca do’a bangun tidur, Aku bergegas merapikan bed cover milikku dan mengambil wudhu untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah. 

Brrrr. Airnya dingin, ya Allah.
Gumanku lirih, tanpa mengurungkan niatku.

Perlahan aku membasuh muka, lengan, ubun-ubun, telinga, dan anggota tubuh lainnya. Setelah shalat subuh, kusempatkan diriku berdiri di bawah pohon besar yang entah namanya pohon apa di depan teras sambil menunggu matahari terbit dari peraduannya dan menikmati aroma tanah dan segarnya udara.

Perlahan mataharipun terbit.
“Ibu, handuk hijaunya di mana?” Ucapku sambil berjalan menghampiri ibu yang lagi sibuk memasak di dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk ayah, Aku, dan kakak.
“Seperti biasa, ibu menaruhnya dekat meja belajarmu, Nak!” Jawab ibu dengan nada halus dan penuh kasih.
“Oh. Sippo, Bu! Makasih,” balas jawabku dengan nada canda.

Hmmm…
Nasi goreng buatan ibu membuat perut kosong ini ingin diisi, namun kudahulukan mandi karena belum ada ajakan dari ibu.

Seragam olahraga biru tua dengan bis hitamkupun telah terpasang  rapi dalam tubuhku. Kerudung hitam kupilih untuk memadukannya dengan seragam olahragaku. Belum cukup beberapa menit kerudungku terpasang rapi, bahkan aku masih berdiri depan cermin, ibu tersayang telah memanggilku, pertanda sarapan paginya telah siap.

Lima kursi yang tadinya kosong kini telah terisi tiga. Dua bangku yang masih kosong untuk aku dan almarhum kakakku. Maka dengan lahapnyalah kami menyantap masakan ibu, meskipun kursinya masih ada satu yang kosong namun hati kami merasa bangku itu tak pernah dan akan pernah kosong karena kami tahu beliau masih ada namun di alam yang berbeda kini.

Jum’at pagipun terlewatkan. Kuhabiskan hari-hariku bersama sahabat penaku. Hari menjadi petang, saatnya untuk ke istanaku. Kakiku terus berjalan menapaki jalan di atas aspal. Sebenarnya banyak kendaraan yang bisa mengantarku tuk sampai ke rumah. Di sekitarku ada kendaraan beroda dua yang dikenal sebagai ojek, tricycle yang akrab di panggil becak, dan juga ada mobil berplat kuning berwarna merah.

Karena tak sanggup berjalan dengan jarak yang terlalu jauh, kulambaikan tangan sambil teriakku,
“Daeng… Becak!” Namun belum ada juga salah satu dari tukang becak yang datang dari arah sana.
“Becak… Becak!” Teriakku sekali lagi.
“Mau ke mana, Dek?” Tanya tukang becak setelah aku duduk manis sambil melepas kelelahan di sandaran becaknya. 
“Jalan Anggrek Nomor 10 Lorong 1, Pak!” Jawabku rinci.

Tukang becak mengayuh kendaraan beroda tiganya dengan penuh semangat mengantarku ke tempat tujuan. Sementara Aku menikmati senja yang sedang berduka. Mentari kembali ke peraduannya, mengingatkanku kembali seseorang nan jauh disana.

Adakah kau di sana memandangi senja yang sedang berduka?
Pintaku dalam hati.

Ah, sungguh dalam rindu yang kau tancapkan di dada ini, kadang aku menerjemahkan rindu dengan airmata dan kesabaran.
Terbesit lirih dalam hati kecil ini mengingatnya. Lima menit berlalu, sampailah aku di rumah. Tukang becak mengayuh rodanya begitu cepat namun rindu ini masih membekas seperti hujan yang luruh lalu diserap tanah, hanya menyisakan sepi dan basah.

Hari demi hari terus berlalu. Hingga cukup sepuluh hari belum juga ada kabar darinya. Baru kali ini aku merasakan rindu sebenar benarnya rindu. Meskipun telah berulang kali terlukai oleh rindu namun tak kurang sedikitpun rasa cinta dan kasihku padamu, kau kasih.

Setiap malam hanya kepada bulan aku berbagi. Karena hanya bulanlah yang paling mengerti isi hati ini. Hingga satu malam, aku memilih menorehkan perasaaku diatas kertas. Entah mengapa aku ingin menuangkannya di atas kertas.
Kembalilah kupu-kupu bersayap rindu, yang dikoyak olehmu, ketaman tersunyi dalam dadaku! Bayang wajahmu seperti bintang yang jauh, bagaikan bulan purnama yang menarangi bumi, begitupunpun kerinduanku  yang menjelma perahu, yang perlahan hanyut dan hanyut, dilautan sepi dadaku!
Baru  itu yang sempat kutuliskan pada malam itu. Tak lupa kutuliskan hari, tanggal, dan tahun di sudut kiri atas.

Hari-hariku terus berlalu. Catatan rinduku terus berlanjut. Semua cerita tentang rindu, kekecewaan, dan kesedihan kotorehkan di dalam catatanku dengan gemulai jemariku yang penuh kasih. Aku ingin catatan ini berakhir dengan kegembiraan. Agar tak semua isi dari catatan itu hanya tentang rindu dan kesedihan.

Suatu saat nanti jika kau telah kembali, ingin perlihatkan catatan kerinduan ini yang tak pernah bertepi, tentang isi hati dan perasaan ini. Namun bila Sang Khalik menakdirkan aku kembali padanya sebelum Kau kembali, akan kutitip buku catatan ini pada ibunda, agar kau tahu penantian dan kerinduanku yang tak pernah bertepi.
Kasih, jika memang kita tak ditakdirkan bersatu, akan kukenang kau sebagai air mata do'a, yang menetes dengan cara yang paling bahagia. Biarlah rembulan menjadi saksi kebahagiaan kita.
22 Januari 2011 sebelum berangkat meninggalkan kota Daeng, kugoreskan kalimat singkat itu. Untukmu.


Indah Purnama, Deklarator Komunitas Pena Hijau Takalar, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar