.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

16/10/13

Cerpen: Mata Maniez Choy

TAKALAR, TURUNGKA.COM - “Aku ingin melukis matamu Maniez,” kata Nyonya Fergusson. Ia belum paham apa maksud nyonya paruh baya yang masih menyimpan kuat gurat kecantikannya ini.
“Melukis saya?” tanya Maniez.
“Hanya mata? Kok?” Maniez belum mengerti.
“Tentu akan aku lukis juga cadar yang menutupi wajah cantikmu, tetapi itu sekedar bingkai, Maniez. Matamu lukisan yang sesungguhnya,” jawab Nyonya Fergusson.

Walau hatinya masih meragu, Maniez menurut saja ketika tangannya ditarik masuk oleh nyonya yang baik hati itu. Maniez tak mengira bila dibelakang kemungilan tokoh cenderamata milik pasangan Fergusson ini terbentang studio yang cukup luas.
“Ini semua lukisan Nyonya?” tanya Maniez.
“Betul, bagaimana menurutmu?”  Nyonya Fergusson balik bertanya.

Anggukan Maniez menjadi jawaban. Tampaknya itu memuaskan nyonya rumah. Tapi jujur, Maniez menganggap lukisan karya Nyonya Fergusson yang hampir semuanya menampilkan wajah seseorang adalah karya yang bagus. Terutama lukisan wajah sang suami yang begitu hidup dengan pahatan keriput yang menambah wibawa itu.
“Nyonya seorang profesional?” tanya Maniez.
“Tidak juga. Ah, sudah tepat kiranya posisimu, coba tahan sebentar Maniez,” pinta Nyonya Fergusson yang sedang mulai sibuk menarikan kuas.
“Lantas berapa saya harus membayar Nyonya?” Suara Maniez meragu.
“Ha-ha-ha, anak manis. Kau tak perlu membayar apapun untuk ini. Seharusnya akulah yang membuka gua harta karunku bila aku punya, untuk kesempatan seperti ini. Kau begitu indah Maniez,” puji Nyonya Fergusson. Maniez bergumam, dapatkah seseorang dikatakan indah dengan melihat matanya saja? Hanya sampai beberapa lama ia masih saja heran mengapa ia bisa terdampar di studio keluarga Fergusson.

Masalahnya, Maniez bukan saja tidak mengenal Nyonya Fergusson sebagai pelukis, ia juga nyaris kenal nama saja dengan wanita itu. Maniez mulai mengenal baru satu setengah bulan yang lalu tatkala ia baru pindah ke kawasan ini. Setiap pagi, Maniez pasti melewati toko cenderamata milik keluarga Fergusson. Wajah ramah yang jelita dibalik kaca yang sesekali terlihat itulah, yang membuat Maniez selalu mengucap salam bila bertemu.  Berawal dari tukar salam itulah Maniez mengenal pemilik toko tersebut.  Tak pernah lebih dari itu.
“Mengapa Nyonya ingin melukis mata saya?” selidik Maniez.

Nyonya Fergusson tidak langsung menjawab. Kuas yang baru dipakainya digigitkan ke mulut. Tangannya meraih kuas yang lebih kecil. Dengan suara yang tidak begitu jelas, karena terhalang kuas ia bersuara.
“Mengapa Maniez? Mungkin aku tidak tahu mengapa. Aku hanya ingin melukis karena aku ingin melukis. Hmm, jawaban ini mungkin tidak memuaskan, ya? Begini, begitu aku pertama bertemu denganmu, matamu telah memikatku, karena hanya itu yang dapat kulihat walau sangat asing bagiku.  Daya tariknya begitu kuat, sehingga dorongan ini harus aku tuangkan dalam lukisan,” kata Nyonya Fergusson.
“Ada apa dengan mata saya, Nyonya?” Maniez kembali bertanya.
\“Itulah yang aku tidak bisa katakan Maniez. Aku pelukis bukan penyair ataupun pembuat novel. Yang kurasakan mengalir dalam gerak kuasku. Nah sekarang kau boleh beristirahat. Memang belum jadi, tapi tinggal sentuhan akhir. Kalau kau mau kau boleh melihatnya.”

Maniez beranjak mendekat. Ternyata Nyonya Fergusson hanya menggunakan warna hitam yang dimainkan dengan luar biasa. Sekilas lukisan ini mirip karya drawing. Diamatinya lukisan potret dirinya.  Atau lebih tepatnya potret matanya.
“Apakah ini betul wajah, eh, mata saya Nyonya?”
“Mengapa kau bertanya demikian? Tidak miripkah?”
“Bukan begitu. Mengapa mata ini begitu lain? Saya tidak yakin ini mata saya. Begitu asing rasanya,” ujar Maniez.

Nyonya Fergusson hanya tersenyum.    
“Bagiku itu matamu Maniez, tetapi kau boleh tidak setuju, tentu saja.”
“Apa artinya saya belum mengenal diri saya sendiri? Betul begitu Nyonya? Nyonya seorang seniman dan saya yakin seniman lebih peka dari yang lain,” kejar Maniez.
“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, putriku.”
“Ada apa dengan mata saya Nyonya?”
“Ah, kau mengulang pertanyaan yang sama yang tak bisa kujelaskan. Wah, aku malah membuatmu cemas seperti ini. Duhai sayang, ayolah. Ini sekedar aksi seniman iseng yang lagi suka memaksa. Bagaimana kalau kita kedepan dan kita nikmati kue-kue kiriman Peony, keponakanku. Tentu sedap sore begini mengudap kue lezat berteman teh  manis hangat. Eh, maaf ibu lupa kalau kamu tak bisa makan disini, jadi ibu bungkus saja ya?” Ibu harap tiba dirumah nanti Maniezku mencicipinya.

Bagaimanapun keramahan serta kepandaian nyonya rumah membujuk, tak cukup perkasa untuk mengusir rasa aneh yang menjalari Maniez. Sensasi hari ini menyergap tanpa aba-aba.

Ketika Maniez berpamitan, Nyonya Fergusson menjanjikan pada Maniez bahwa ia boleh menyimpan potret dirinya bila karya itu telah selesai. Seperti yang sudah-sudah Maniez hanya menurut.

Dalam perjalanan pulang ke asramanya, sensasi yang dialaminya terasa semakin menyusup jauh kealiran darah Maniez. Mata, ada apa dengan mataku? Gumam Maniez tak putus. Gumam itu juga yang mengantar kenangan-kenangan lama muncul menyeruak ke atas. Semua melintas dengan cepat, terkadang jernih, tetapi tak jarang pula buram, tak tentu bentuk. Tentang desa kecil yang ditinggalkan, tentang ibunya yang tak pernah tergapainya, tentang impian remajanya yang kandas, tentang harapan-harapan barunya ketika ia memutuskan pindah, dan tentang apa saja.

Tapi tentang mata, belum.
“Matamu bercerita banyak, Maniez,” ujar Nyoanya Fergusson saat menyerahkan karyanya.
“Apakah itu tentang kepedihan, Nyonya?” Tanya Maniez.
“Apakah hidup seseorang hanya berputar disitu, Maniez? Tentu tidak, bukan?” Sang nyonya rumah balas bertanya.
“Entah Nyonya, tapi rasanya . . .”
“Kau tak perlu bercerita kalau kau tak ingin, Maniez. Aku pelukis bukan psikiater. Bukan aku menolak menjadi temanmu. Maksudku bila kau tak ingin bercerita sekarang, itu tak apa. Tetapi kau tahu pintu itu selalu terbuka untukmu.”
“Terima kasih, Nyonya,” kata Maniez sembari mencium lembut pipi Nyonya Fergusson.

Sesampainya di kamar, Maniez membuka lukisan potret matanya yang kini telah terbingkai indah. Setiap kali ia menatap mata di lukisa itu, ia merasa terganggu. Mata itu baginya menuntut begitu banyak jawaban. Bukan, bukan menuntut tepatnya.  Meminta? Ah, tidak juga. Mendamba . . ., ya mungkin mendamba. Tapi apa yang didamba mata itu?

Maniez terdiam. Lama. Ia tahu apa yang di damba mata itu, tetapi ia merasa lebih baik menyimpan untuknya sendiri. Ia menghadap cermin dan meletakkan lukisan itu di depannya. Sekarang ia tidak saja terganggu, tetapi ia mulai tersiksa. Lukisan itu membuatnya merasa telanjang dan berdosa.

Ia mulai menangis. Lirih. Panjang. Setelah gerimis mereda Maniez bergumam, cukup anda saja Nyonya Fergusson. Tetapi harapan Maniez meleset. Tanpa diduganya Nyonya Fergusson membuat repro dari karyanya sendiri dan diikutsertakan dalam pameran seni rupa tahunan dikota itu. Sekalipun bukan lukisan yang asli, repro itu telah merampas perhatian pengunjung. Para juri sepakat untuk memberi penghargaan khusus bagai lukisan berjudul Mata itu karya Nyonya Fergusson.

Bukan itu saja. Semua pengunjung pameran yang artinya hampir semua penduduk kota tersebut, terpikat oleh lukisan itu. Kesan yang timbul bermacam-macam tetapi semuanya sepakat untuk kagum pada lukisan mata dan pemiliknya. Karena kota itu tidak terlalu besar, tidak sulitlah kiranya bagi mereka untuk menemukan mata siapa yang ada di Mata itu.

Apalagi, Maniez adalah satu-satunya perempuan yang berpenampilan lain daripada yang lain dengan tubuh tertutup oleh jilbab yang panjang dan wajah ditutup dengan cadar terkecuali matanya. Maniez tak ketinggalan dari perempuan-perempuan berkarier. Maniez adalah seorang aktivis perempuan yang terkenal dimana-mana. Tak jarang Maniez turun ke jalan meneriakkan aspirasi rakyat, berkhotbah didepan para pramuria untuk memberikan penyadaran akan eksistensi mereka sebagai perempuan, dan bahkan banyak tulisan Maniez yang menusuk sampai ke pemerintahan pusat serta rencana Maniez yang terakhir adalah membentuk sebuah partai yang visi dan misinya tidak bias gender. Maniez berjanji jikalau nanti Tuhan menobatkannya sebagai Presiden, InsyaAllah tak ada lagi perempuan cerdas yang mengnggur karena alasan dia berjilbab, tak ada lagi pelecehan seksual, dan tak ada lagi Marsina-Marsina baru serta tak ada lagi ketidakadilan.

Maniez sendiri ternyata datang menonton pameran itu, walaupun semula niatnya sekedar mengisi waktu luang. Pengunjung yang kebetulan datang bersamaan dengan Maniez bagai tersihir. Ohh, jerit mereka serempak tertahan. Mata itu nyata! Ia hidup. Ketika hujan pandangan menusuknya dengan deras, Maniez baru sadar ternyata mata itu adalah miliknya.

Pameran itu telah lama berlalu. Daun-daun mulai berguguran dan Maniez tak pernah lagi melewati toko keluarga Fergusson. Tetapi, keriuhnya tak berhenti mengepungnya. Teman-teman kuliahnya memandangnya dengan berbeda. Demikian juga dengan tetangga serta orang-orang yang kebetulan bertemu dengannya. Semua memerlukan berbicara padanya, dengan atau tanpa berkata-kata.
“Halo Maniez, aku kangen mata cemerlangmu,” rayu teman kuliahnya.
“Maniez kasih liat dong pada kita mata judesmu yang lembut itu,” ujar yang lain yang langsung disambar koor ejekan beramai-ramai.
“Maniez, tak perlu kau tanggung sendiri dukamu, aku Alysa bersedia menjadi keranjang sampahmu,” bujuk tetangga di kamar atas.
“Apa kau tak bisa menutup matamu yang menusuk-nusuk itu wahai perempuan,” caci pemabuk yang mangkal di jalan.

Semua merasa semakin mengenal Maniez. Gadis cadar berusia 23 tahun yang bernama lengkap Maniez Choy, seakan buku terbuka bagi mereka. Namun, bagi setiap orang baik susunan huruf maupun cerita yang terpapar berbeda. Semua merasa bagiannyalah yang benar.

Berbagai kemudahan yang telah didapatkan Maniez ketika berbelanja maupun ketika menggunakan fasilitas umum lainnya. Seorang ibu yang hamil memerlukan untuk menemui Maniez dan meminta Maniez mengusap-usap perutnya. Kesediaan Maniez dan mata yang bagi wanita itu seikhlas telaga, membuatnya berlinang tak putus-putusnya.

Senyum sinis, ejekan, iri dengki tak jarang mampir pada Maniez. Satu senja ketika Maniez berteduh beramai-ramai di emper sebuah tokoh dari hujan yang mulai membadai, seorang seniman jalanan mendekatinya. Ia menyerahkan hasil coret-coretnya pada Maniez. Maniez mendelik gusar, karena yang terpampang adalah mata yang harus diakuinya adalah miliknya sementara wajahnya dilukis pencang-pencong.
“Itulah wajahmu yang sesungguhnya, hai perempuan!” ejek sang seniman yang sebenarnya penasaran dengan wajah Maniez yang tertutup cadar itu, lantas masuk dalam hujan dengan sepatu rodanya.

Maniez mendidih. Kertas ditangannya telah tercabik-cabik. Ia menyusul masuk ke hujan. Bukan untuk memaki sang seniman. Ia malu berada ditengah banyak orang sementara ia merasa telanjang. Hari itu ia merasa betul-betul payah. Maniez merasa tak tahan lagi. Selama ini setelah pameran yang terkutuk itu ia tak pernah utuh lagi. Segala perlakuan yang diterimanya selalu karena orang memandang matanya.

Dosennya yang masih muda dan tampan itu memberinya nilai bagus disamping karena kecemerlangan ujiannya juga karena menurut kabar ia terbius mata Maniez yang baginya teduh dan sunyi bagai lembah edelweiss. Nyonya Harper, selalu cemberut karena mata Maniez yang membuat suaminya banyak tingkah. Semua karena mata.

Mata yang berkhianat, keluh Maniez. Tapi ini mataku sendiri, keluhnya sekali lagi. Maniez hening.
“Ya Tuhan haruskah aku tutupi juga mataku ini?” Apakah aku belum memenuhi kriteria menutup aurat sesuai dengan syariah? Haruskah aku menyendiri dan menjauh dari keramaian orang?  Bagaimana dengan cita-citaku Tuhan? Tapi biarlah, aku rela asal bersama dengan ridhoMu, aku yakin semuanya akan tercapai dengan kehendakMu.” Sore itu Maniez memutuskan untuk tidak meninggalkan kamarnya lagi. Dan ia merasa sedikit nyaman.

Akhirnya Maniez mulai terbiasa meninggalkan aktivitasnya sehari-hari. Ia mulai menikmati kesenangan di dalam kamar. Kebutuhannya dipesannya melalui telpon. Satu sore Nyonya fergusson datang.
“Tak ada sedikitpun niatku untuk menyusahkan hatimu, Maniezku. Tapi tak baik kau mengurung diri terus menerus seperti ini. Bukan salah warga kota pula bila mereka berlaku seperti itu. Maha besar Tuhan yang menciptakan matamu, Maniez,” kata Nyonya Fergusson.
“Aku hanya ingin kau lebih dikenal dan dilirik publik sebagai mar’atus shalehah yang mampu menjadi uswah bagi perempuan-perempuan yang lain. Maniezku, kau sangat dibutuhkan sebagai penyelamat bangsa. Tetaplah meneriakkan suara rakyat, tetaplah berkhotbah untuk saudara-saudaramu dan tetaplah menegakkan keadilan.”
“Kau bisa lihat sendiri, Maniez. Walau tidak semua menyenangkan dirimu, tidakkah kau sadari kau membuat hidup kota ini. Orang-orang yang asing satu sama lain sekarang mempunyai hal yang sama untuk diperbincangkan. Itu karena penampilan dan matamu yang dulunya sangat asing bagi mereka akhirnya sekarang mulai dilirik.”
“Mudah-mudahan penampilanmu bisa menarik desiner-desiner kondang untuk membumikan model pakaianmu.”
“Tapi itu artinya saya harus berbagi kisah, dan terutama kepahitan yang hendak saya dekap sendiri, Nyonya,” kata Maniez.
“Maniezku, jangan khawatir, kalau boleh ada satu permintaan ibu yang merupakan niat utama ibu, mengapa ibu melukis matamu.”
“Sebenarnya, pertama kali ibu melihatmu, ibu ingin sekali kau menjadi bagian dari hidup kami.  Walau kau sangat asing bagiku, tetapi aku yakin dibalik penampilanmu itu ada hikmah yang tersembunyi yang bisa mengantarkan kami kedepan pintu syurga.“
“Anakku . . ., sudikah kiranya kau menjadi bagian dari hidupku?”
“Aku punya seorang anak lelaki yang sifatnya tak beda jauh darimu, dia adalah aktivis pergerakan Islam. Walau awalnya dia seorang seniman, tapi saya tetap yakin kalau kalian mampu bersama-sama membahas tentang problem-problem yang kalian hadapi, mencari solusi terbaik dan seiring sejalan dalam mewujudkan masyarakat mardhotillah.”

Mendengar perkataan Nyonya Fergusson, Maniz spontan kaget dan tak mampu menjawab apa-apa. Setelah mengatur nafasnya dengan baik, Maniz hanya dapat berkata,
“Ibu . . ., jodoh itu di tangan Tuhan, kalau Tuhan Ridho mengapa aku tidak?”

Sepeninggalan Nyonya Fergusson, Maniz membisu menatap letik baru di perapian. Hmm, pendamping hidup? Masa lalu yang menyesakkan, serta mata yang berkisah terlalu banyak. Maniez merasa dungu.

Tiba-tiba ketika langit menjadi terang karena lintasan kilatan kilat Maniz tersenyum. 
“Bila menikah bisa menjauhkan diriku dan orang lain dari fitnah serta mampu mengantarku untuk mencapai cita-citaku, aku akan membenarkan dan menerima permintaan Nyonya Fergusson”. Bisik Maniez.

Beberapa waktu kemudian Maniez melangsungkan Walimatul ‘Urusy dengan putra Nyonya Fergusson. Walau Maniez mengaku tak pernah melihat calon pendampingnya tersebut. Sungguh Maniez kaget ketika matanya tertuju pada mempelai laki-laki,
“Astagfirullahal adzim, ternyata dia adalah seniman jalanan yang pernah mengejekku,  ya Tuhan akankah dia seperti Muhammad-Muhammad cetakan baru yang kudambakan selama ini yang mampu mendukung impian dan cita-citaku? Wallahu ‘alam bissawab.”

Ketika walimahan telah usai, dengan membawa kotak kaca yang tertutup beludru merah, Maniz melangkah bagaikan seorang model yang berjalan diatas catwalk menghampiri Nyonya Fergusson dan putranya. Tiba-tiba keduanya terpukau oleh langkah yang menuju sasaran.

Langkah Maniez telah genap. Dengan sangat anggun wajah yang terbungkus cadar itu menebar pandangan. Keduanya berdebar, ada apakah dibalik beludru merah itu?  Jari-jari mungil putih itu mulai menarik beludru.

Langit tiba-tiba terang oleh lintasan kilat. Hujan musim panas menyergap dengan riang. Sementara lidah Nyonya Fergusson dan putranya melekat pada langit-langit dengan rasa kagum menyaksikan ciptaan Tuhan yang begitu indah di depan mereka. Di balik kotak kaca terletak dua biji mata Maniez yang masih segar darahnya. Alasnya yang putih semakin membuat mata itu mencekam. Lantas dengan tenang Maniez pun membuka cadarnya. Mata atau lebih tepat rongga matanya tampak memerah dibalik kain putih penutupnya. Senyum Maniz mengembang. Ikhlas seikhlas sinar matanya.

Dengan penuh kekaguman dan seakan tidak percaya, putra Nyonya Fergusson dalam hal ini suami Maniz berkata,
“Masya Allah cantiknya, Maniez Choyy . . . Inikah bidadari yang dikirimkan Tuhan untukku?” Dia tiba-tiba sujud syukur dan mengucapkan berkali-kali pujian pada Tuhan. Maniez sendiri akhirnya mengetahui bahwa ternyata suaminya adalah seorang ketua pergerakan Islam yang Insya Allah bisa menjadi partnernya dalam berjihad.  Amin.


*Untuk sahabatku pemilik mata itu. Kecuali aksi heroiknya, semua ini adalah kisah tentangmu.


Nur Rosida, SP., MP., PNS pada Badan Litbang Kementerian Pertanian, dan Peneliti pada Indonesia Cereals Research Institute
Share:

0 komentar:

Posting Komentar