.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

21/10/13

Editorial: Bercermin Pada Keluarga Ibrahim

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Syahdan pada suatu waktu, Nabi Allah Ibrahim As, melaksanakan ibadah kurban dengan 500 ekor unta, 1.000 ekor sapi dan 2.500 ekor kambing. Melihat hal tersebut, penduduk kampung di mana Ibrahim menetap, bukannya berbondong-bondong mendatangi tempat di mana hewan kurban tersebut disembelih, melainkan para penduduk berduyun-duyun melangkahkan kaki meninggalkan kampung tersebut karena tidak lama lagi kampung itu akan dilanda bau bangkai yang teramat sangat. Hal ini karena begitu banyaknya hewan kurban yang di persembahkan oleh Ibrahim As. dan penduduk yang ada tidak mampu untuk menghabiskan daging dari hewan kurban tersebut.

Melihat kenyataan tersebut, datanglah Malaikat Jibril yang menyamar menyerupai seorang manusia, mendatangi Ibrahim As. lalu bertanya, “Wahai Ibrahim, sungguh betapa mulia kedudukanmu di sisi Tuhanmu, kau kurbankan begitu banyak ternakmu hanya untuk membuktikan keimananmu.”  Mendengar pujian itu, dalam hati Ibrahim As. muncul sedikit rasa bangga akan kualitas ibadah yang telah dilakukannya, sehingga beliau berkata, “Wah, itu belum seberapa saudaraku, seandainya Allah menganugerahiku seorang anak yang shaleh, maka tentulah anak itu akan kukorbankan pula kalau Tuhanku menghendakinya.

Ternyata pernyataan Ibrahim As. dicatat oleh malaikat dan didengarkan oleh Allah SWT, sehingga tidak lama berselang, ketika Ismail As. menginyak usia remaja, Ibrahimpun diperintah oleh Allah untuk melaksanakan kata-kata yang pernah diucapkannya (keinginannya untuk mengurbankan anaknya), sebagaimana dijelaskan dengan gamlang dalam Al-Qur’an Surah Ash Shaffat : 100 – 102.

Dalam menanggapi perintah Allah tersebut, ternyata Ibrahim tidak main-main dengan ucapannya sendiri. Nyatalah betapa tinggi tingkat keyakinan Ibrahin As. kepada Allah SWT. Namun di samping itu, sesungguhnya yang patut mendapatkan pujian pula dalam hal keimanan adalah Ismail As. Beliau adalah sosok anak yang sholeh, dan tidak ada duanya dalam kehidupan ini. Bagaimana beliau menanggapi permintaan bapaknya yang akan menyembelihnya dengan ungkapan “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Q.S. 37 : 102)”
           
Sungguh tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa keluarga Ibrahim merupakan keluarga penghuni surga. Bahkan Allah SWT mengatakan “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya) (Q.S. 37 : 103)”.

Namun cerita ini tidak sampai di sini, bukan hanya Ibrahim dan Ismail yang telah menunjukkan contoh teladan yang mulia dalam peristiwa ini. Ingatlah seorang ibu yang bernama Hajar. Ketika Iblis melihat bahwa Ibrahim dan Ismail sudah sangat mustahil untuk digoyahkan agar mengurungkan niatnya menjalankan perintah Allah SWT, kemudian dia (Iblis) mencoba menggoda Hayar yang ketika itu tinggal di rumah.

Iblis berkata, “Tahukah engkau wahai Hajar, ke mana Ibrahim, membawa anakmu Ismail ?
Aku tidak mengetahui kemana mereka pergi, tapi aku yakin kepergian mereka pastilah dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.” Jawab Hajar mantap.

Iblis kemudian melanjutkan godaannya dengan mengungkapkan hal yang sebenarnya, “Ketahuilah wahai Hajar, Ibrahim membawa Ismail, anak yang kau sayangi itu, untuk dikorbankannya kepada Tuhanmu.” Dengan mengatakan hal ini, Iblis berharap Hajar akan kaget dan mencegah Ibrahim melakukan hal itu.

Tapi di luar dugaan Iblis, dengan muka yang cerah dan bibir yang dihiasi senyum yang manis, Hajar berkata, “Kalaupun itu yang akan dilakukan oleh Ibrahim, aku merestuinya, bahkan seandainya Allah SWT memerintahkan agar yang dikurbankan itu adalah aku, maka engkau akan mendapatiku sebagai orang yang berserah diri.

Betapa, keluarga ini telah menjadi muara segala kebaikan dan keimanan. Bukanlah sesuatu yang berlebihan kalau setiap orang yang beriman mengharapkan bangunan keluarga seperti ini. Seorang ayah yang bertaqwa, anak yang sabar dan istri yang sholehah. Sebagaimana yang dilantunkan oleh tim nasyid dari negeri jiran Malaysia, Hijaz dalam salah satu syairnya yang bertajuk “Rindu”:
Orang mukmin merindukan
Anak-anak yang sholeh
Istri-istri yang sholehah
Keluarga bahagia

Di tengah carut-marutnya kehidupan sosial politik kita hari ini, maraknya korupsi, kebejatan moral, kekerasan seksual, dan makin renggangnya ikatan sosial bersama, bercermin pada keluarga nabi Ibrahim As. pada momentum iedul kurban, adalah sebuah pilihan bersahaja. Belajar untuk lebih ikhlas berbuat untuk sesama, belajar untuk saling mempercayai, dan belajar untuk jujur serta menepati janji.


~Muhammad Kasman~
Share:

0 komentar:

Posting Komentar