.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

09/10/13

Cerpen: Hanya Satu Cinta

TAKALAR, TURUNGKA.COM – Di malam terlihat bulan dan bintang yang bersinar memancarkan sinarnya ke muka bumi. Bulan yang bentuknya bulat bersinar dengan indah, begitu pula dengan ribuan bintang bersinar dengan indahnya. Inilah keadaan alam semesta, kumerasakan kesenangan hati di dalam diriku malam ini. Malam begitu indah?

Malam itu kubersandar di ranjang tempat tidurku, menatap dewi malam dari jendela kamar tidurku, pancaran cahayanya membentuk bayang-bayang diriku yang nampak di belakangk, dan beribu-ribu bintang yang terlihat di langit hanya satu bintang yang cerah menatapiku, kujadikan bintang itu sesosok seorang wanita yang pertama kali yang membuka pintu hatiku, kubayangkan diriku adalah bulan dan wanita itu adalah bintang yang setiap malam menjadi properti keindahan di atas langit dan hatiku yang begitu indah.

Di tengah malam terasa dingin, angin malam yang berhembus ke dalam kamar tidurku, membuatku semakin terasa kedinginan, hanya pakaian tidurku yang menutupi diriku. Dingin yang terasa menusuk ke dalam dadaku hingga menembus tulang-tulangku, membuat diriku kegemetaran. Akupun mengambil sarung dan selimut untuk kupakai, jendela yang terbuka kini sudah kututup, kumatikan lampu kamar tidurku dan kuberdoa kepada Tuhan sebagaimana ritual aku dikala akan tidur serta membaringkan tubuhku di atas kasur. Lalu kumenutup mataku dan hanya bantal dan guling yang menjadi temanku. Tubuhku yang terasa kedinginan kini tak bisa bergerak lagi, hanya otak yang memikirkan apa yang kubayangkan tadi, serta hati dan jantungkupun ikut berdetak. Pikiran hanya mengarah pada sosok wanita itu, akupun tertidur.

Di saat tertidur bermimpilah aku, di mimpi itu, aku bertemu dengan seorang wanita yang kusuka di bawah sebatang pohon yang begitu indah yang tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Wanita itu duduk di bawah pohon itu sendirian, akupun mendekatinya dan kuberkenalan dengan wanita itu. Akupun berkata,
“Hai,” kataku sambil tersenyum kepada wanita itu
Diapun menjawab
“Hai juga...,” sambil tersenyum balik ke padaku.
Aku yang masih berdiri di depannya ingin duduk di sampingnya dan kuberkata pada wanita itu,
“Bolehkah aku duduk di sini?” Kataku sambil menunjuk tempat duduk itu.
Diapun menjawab,
“Boleh,” sambil menatap dengan tersenyum kepadaku.

Kami berkenalan, bercerita-cerita tentang pelajaran kita masing-masing, karena kami itu anak sekolahan tapi berbeda sekolahnya. Di saat itupun kami bertukar nomor handphone (HP), kerap kali menatapi matanya dengan tatapan yang tajam. Dan kata gurauan hatiku,
“Betapa cantiknya wanita ini.” Sambil kumenatapinya.

Di saat kumenatapnya, diapun berpamitan pulang karena dia sudah sangat lama duduk dan sambil bercerita-cerita denganku. Diapun berpamitan dengan sapaan kepadaku
“Sampai jumpa, salam kenal denganmu.” Sambil berdiri dari tempat duduknya.
Akupun menjawabnya,
“Sampai jumpa juga yah, salam kenal juga denganmu.” Kuberdiri juga dan tersenyum ke padanya.

Aku dan dia masing-masing pulang ke rumah, aku yang baru sampai di rumah langsung mengambil handphone-ku dan kumeneleponnya dengan nomor yang diberikan ke padaku. Akupun mengungkapkan perasaan hatiku kepada dirinya melalui handphone itu. Aku yang menunggu jawabannya, diapun spontan mengatakan,
“Aku juga sebenarnya suka denganmu dan aku menerimamu sebagai pacarku.”
Dia menerimaku tentang apa yang kuungkapkan ke padanya.

Besoknya, kamipun saling bertemu kami janjian bertemu berdua di tempat awal kami bertemu dan berkenalan. Kamipun bercumbu, akan tetapi kami tidak sampai bercinta dan melakukan perbuatan hal-hal yang tidak masuk akal itu.

Hari demi hari kami lalui bersama, susah dan senang kami jalankan bersama, suka maupun duka kerap kami hadapi bersama. Kini hidup kami layaknya aku seorang bapak dan dia seorang ibu. Tiba-tiba musibahpun datang menhampiri kami.

Kami yang belum diketahui pacaran kami oleh kedua orang tua kita masing-masing, ternyata sudah ketahuan, karena kami sering pulang malam padahal dulunya tidak, prestasi yang kita sering raih bersama kini pudar dan lenyap akibat pacaran.

Kami itu dulunya seorang siswa yang rajin, akan tetapi di saat kami pacaran, kita sering malas ke sekolah dan bahkan kamipun kerap kali bolos setiap ke sekolah. Kini di saat kami berpacaran, sudah tidak berprestasi lagi, sehingga tidak ada restu kedua orang tua kami yang mengetahui hal ini, maka kamipun dipisahkan.

Tak selang lama kemudian akupun terbangun dari tidurku, membuka mata, kudiam sejenak dan kubangun dari tempat tidurku. Membuka jendela kamar tidurku dan menatap ke atas langit. Nah, ternyata bulan dan bintang yang banyak kini hilang semuanya, tinggal matahari kulihat memancarkan sinarnya ke bumi dan hanya berharap semoga mimpiku ini tak menjadi kenyataan karena cinta yang tidak ada restunya pasti akan mendatangkan masalah.

Yakinlah, cinta di dunia hanya sementara dan sesaat, tetapi cinta yang bertahan lama adalah cinta kepada Allah, dan kebahagian akan kita nikmati ketika mencintai Allah dengan sepenuh hati.


Ahmad, Mahasiswa Semester I STIE Tri Dharma Nusantara, Alumni SMA Negeri 1 Galesong Selatan. 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar