.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

13/10/13

Idul Adha Ala Muslim Hui

BEIJING, TURUNGKA.COM - Ada pepatah, “Lain ladang lain ilalang, lain padang lain belalang”, artinya walau pun sama tapi suatu budaya  punya perbedaan dan ciri khas di masing-masing daerah.

Walaupun sama-sama Islam Sunni, antara Islam Indonesia dan Malaysia dengan muslim China, khususnya muslim etnis Hui di propinsi Ningxia, tapi berbeda cara merayakan hari besar Idul Adha.

Misalkan cara takbiran di muslim etnis Hui di China bukan dengan memukul bedug tapi membakar hio (sebatang lidi) sambil melakukan takbir. Di Malaysia dan Indonesia, lelaki dan wanita berduyun-duyun melakukan sholat Idul Adha di masjid, tapi di Ningxia, muslim etnis Hui, hanya lelaki yang beramai-ramai sholat Idul Adha di masjid. Sedangkan wanita dilarang sholat Idul Adha di masjid

“Kami takbiran dengan membakar hio. Ini merupakan tradisi Islam di China,” kata imam masjid Wunan, Qiang Zuoxin, di kota Wuzhon, propinsi Ningxia. Para jamaah membawa hio yang terbakar ke dalam masjid kemudian ditancapkan ke mangkok tempat hio. Setelah itu dilakukan ceramah sebelum dimulai sholat Idul Adha.

Jumlah takbir sholat Idul Adha antara muslim etnis Hui dengan muslim di Indonesia dan Malaysia juga berbeda. Takbir sholat Idul Adha di Ningxia hanya 5 di rakaat pertama dan tiga di rakaat kedua.

Sedangkan di Indonesia dan Malaysia, jumlah takbirnya ada tujuh di rakaat pertama, dan lima takbir di rakaat kedua.

Setelah sholat Idul Adha, umat muslim di Indonesia melakukan salaman kemudian pulang ke rumah atau ikut memotong hewan kurban yakni sapi atau kambing, Namun berbeda dengan etnis Hui, mereka masih melakukan sholat empat rakaat lagi.

“Sholat empat rakaat itu ditujukan untuk memuja-muji Rasullah Muhammad SAW. Itu sholat sunnat, umat Islam bisa ikut atau tidak,” kata Qiang Zuoxin kepada para wartawan Indonesia dan Malaysia yang diundang melihat kehidupan umat muslim, terutama saat perayaan Idul Adha

Setelah itu, umat Islam di Indonesia, Malaysia, dan Ningxia melakukan pemotongan hewan kurban di masjid, di rumah, atau di rumah. Mereka berkumpul bersama keluarga sambil menikmati makanan khas masing-masing.

Namun penghormatan perayaan Idul Adha di China lebih bagus dibandingkan di Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, dan Malaysia sebagai negara dengan mayoritas umat muslim.

Di China, terutama di propinsi Ningxia, libur selama empat hari, di propinsi Xinjiang libur tiga hari, sedangkan di Indonesia dan Malaysia hanya libur satu hari saja. Di Xinjiang, yang mayoritas etnis Uyghur dan identik dengan muslim punya tradisi menyanyi dan menari.


“Jadi saat liburan, muslim etnis Uyghur menari dan menyanyi di area publik, termasuk di depan masjid Idkah, masjid terbesar di China, yang punya halaman depan luas. Masjid itu pun terletak di pusat kota,” kata Chen Li, kepala Humas Kashgar, salah satu kota di propinsi Xinjiang, kepada para wartawan saat berkunjung ke kota itu.

Selebihnya tradisi perayaan Idul Adha di China, Indonesia dan Malaysia sama. Di tiga negara itu ada tradisi balik kampung, ziarah ke makam, berkumpul bersama keluarga, dan makan makanan khas daerah masing-masing, yang pasti pesta daging kambing atau sapi. (antaranews.com)
Share:

1 komentar: