.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

24/10/13

Kolom: Gerakan Literasi dari Café

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Hari ini saya kembali menginjakkan kaki di kota Makassar, kota di mana saya menamatkan studi sekolah menengah sepuluh tahun lalu sebelum akhirnya memilih untuk hijrah ke tanah Jawa. Sebenarnya agenda utama saya kembali ke Makassar (Bulukumba) pada hari ini adalah dalam rangka acara keluarga, namun karena saya dikenal oleh beberapa teman sebagai anak muda yang bergerak dalam dunia literasi (tulis-menulis) maka saya pun ‘dibajak’ (dalam istilah Sulhan Yusuf) oleh teman-teman Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar untuk sharing terkait dunia kepenulisan yang dia beri tema “Darah Kepenulisan” dalam “Obrolan Cikalia”.

Udangan untuk hadir berbicara dan sharing banyak terkait dengan dunia tulis-menulis dalam forum tersebut adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi saya. Itu pun saya apresiasi dengan tinggi. Oleh karena itu, tidak lama mendarat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar, saya pun segera meluncur ke Takalar tadi siang, setelah menunaikan ibadah salat Jum’at di wilayah Mannuruki II. Agenda ke Bulukumba, ke kampung halaman, terpaksa saya tunda satu atau dua hari. Saya pun tiba di tempat yang dimaksud jam dua kurang beberapa menit Waktu Indonesia Tengah (WITA). 

Café Tua-Muda
Hal yang menarik perhatian saya dari “Obrolan Cikalia” ini adalah dengan diadakannya di café Tua-Muda. Ini tentu menjadi momentum untuk melahirkan budaya literasi dari café ke café. Jika café selama ini selalu diidentikkan dengan tempat yang hanya berurusan dengan perut semata, maka diskusi serius yang dikemas ringan ini akan menjadi budaya baru dengan divermaknya café menjadi tempat untuk urusan perut sekaligus sebagai tempat memassifkannya gerakan literasi. Sisi itulah yang menarik bagi saya di samping bahwa yang menggerakkan gerakan literasi ini adalah guru-guru yang mengabdi di kabupaten. Ini menarik untuk dicontoh untuk melakukan hal yang sama di daerah-daerah lain. Melakukan gerakan literasi dari sekolah ke sekolah dan dari daerah ke daerah. Jika hal itu dilakukan oleh banyak guru di Indonesia, tentulah kita bisa bermimpi tinggi-tinggi akan terciptanya bangsa Indonesia yang berperadaban tinggi kelak. Sebagaimana juga saya paparkan tadi di forum tersebut bahwa tulisan adalah ciri khas dari setiap peradaban yang ada dan yang pernah ada. 

Ini memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Terlebih kita berbicara dunia tulis-menulis. Dunia yang hanya digeluti oleh sekelompok orang. Jangankan menulis, membangun gerakan membaca saja di beberapa daerah dianggap berbahaya oleh sebagian besar guru. Banyak guru, terutama yang cara berpikirnya sempit dan pendek (maaf) berpikiran bahwa membaca buku-buku selain mata pelajaran tidak ada kaitannya dengan tingkat kecerdasan anak. Inilah rintangan terbesar yang harus dihadapi oleh kelompok-kelompok orang yang bergerak dalam dunia literasi. Dimulai dengan membangun kesadaran dari guru akan pentingnya membaca dan menulis bagi setiap orang. Dan juga membangun kesadaran para guru (pendidik) untuk membaca, kalau memang tidak bisa menulis. 

Diskusi tadi sore tentu menjadi pengalaman yang bisa dijadikan inspirasi oleh siapa pun itu. Membangun bangsa dan negara dengan melakukan gerakan literasi dari kabupaten ke kabupaten. Tempatnya tidak harus mewah, seperti hotel, tetapi bisa dari café ke café. Hassan al-Banna juga pada awalnya melakukan gerakan dakwah dari café ke café sampai pada akhirnya mendirikan Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu, janganlah mengaburkan kehadiran café sebagai bagian dari pergerakan sosial. Liriklah café sebagai tempat untuk membangun gerakan perubahan, termasuk gerakan literasi. 

Itulah pesan penting yang bisa saya abadikan dari hasil diskusi tadi sore. Dan ternyata saya dikagetkan oleh pengunjung café yang duduk di sebelah, tidak masuk dalam hitungan peserta, yang mengangkat tangannya dan bertanya. Ternyata diam-diam dia memperhatikan diskusi yang membahas panjang lebar terkait dunia tulis-menulis. Itulah salah satu manfaatnya menjadikan café sebagai wadah pergerakan literasi. Kita mendekatkan gerakan ini kepada orang-orang yang mungkin pada awalnya hanya berpikir perut semata. Dari sanalah gerakan kesadaran itu dimulai!

~Makassar, 18 Oktober 2013~


Ahmad Sahide, Founder Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta, Kandidat Doktor Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Share:

0 komentar:

Posting Komentar