.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

31/10/13

Kolom: Renungan Misbah

TAKALAR, TURUNGKA.COM - "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni'mat) yang mulia." (Q.S. Al Anfaal: 2-4)

Dengan keterbatasan yang saya miliki, saya mencoba untuk merenungi ayat di atas sebagai berikut.  Allah swt sebagai Tuhan atau The Supreme God yang berkuasa atas segala sesuatu, baik langit, bumi beserta kerajaan semesta (makrokoskos) maupun diri manusia (mikrokosmos) telah menentukan kriteria manusia beriman secara jelas di dalam wahyu suci yang disampaikan kepada manusia lewat lisan utusanNya, Nabi Muhammad saw. Kriteria manusia beriman sebagaimana ayat di atas adalah manusia yang memiliki kualitas hati tertentu yang mampu 'bergetar' tatkala disebut nama Allah. Yang bergetar adalah hati, sesuatu yang sangat subjektif dirasakan sebagai pengalaman pribadi dan hanya masing-masing diri manusia yang bisa mengetahui bagaimana rasa getaran tersebut.

Hati sebagai misbah yang menampung cahaya sehingga cahaya tersebut, sebagaimana mangkuk terbalik dimana di bawah mangkuk tersebut dinyalakan lampu, maka misbah akan menampung cahaya ke seluruh dindingnya. Cahaya yang berasal dari Pemberi Cahaya,  Nuurun alaa Nuur. Cahaya ini berpotensi ada dan menyala membesar pada setiap misbah hati manusia. Sebaliknya, cahaya ini bisa menjadi redup, bahkan padam. Cahaya dan gelap adalah hasil dari posisi. Bila posisi mendekat ke Cahaya, maka makin teranglah misbah. Sebaliknya bila posisi makin menjauh bahkan mencampakkan misbah dari Cahaya, maka meredup atau gelap. Mendekat atau menjauh adalah gerak, al harakaat, moving. Sedangkan Cahaya adalah karunia, manifestasi tajalli dari esensi Tuhan Yang Kudus. Cahaya hakikatnya menyinari, melingkupi semua ruang dan sudut-sudut misbah, Allah maha meliputi segalanya. Gelap adalah keadaan tidak bercahaya. Tidak bercahaya bukan berarti tidak ada pencahayaan, tetapi karena misbah tertutupi oleh kotoran sehingga kotoran tak mampu mencerap dan memantulkan iluminasi cahaya yang terus menerus bersinar. Kotoran pada misbah menjadi penghalang, hijaab. Kotoran adalah dosa manusia yang apabila tidak dibersihkan akan semakin menumpuk dan menyebar menutupi ceruk-ceruk cahaya.

Ibarat misbah yang dipenuhi cahaya, hati manusia beriman dipenuhi oleh cahaya iman yang kekuatannya hanya bisa dirasakan oleh orang beriman itu sendiri. Rasa adalah pengalaman noumena. Lawan noumena adalah fenomena. Noumena hanya bisa dirasakan sebagai pengalaman spiritual intim,sebagai pengalaman kesaksian (musyahadah, mukasyafah) sedangklan fenomena bisa dialami sebatas objek materil, ruang dan waktu.

Mengapa misbah sebagai simbolisasi hati manusia? sebab hanya hati manusialah yang bisa menampung Cahaya suci Allah swt. Fakultas inteleksi manusia sebagai makhluk ciptaan yang sempurna karena memiliki al-aql. Al-aql adalah istilah dari alQur'an yang maknanya luas meliputi akal, indra dan intuisi/hati. Manusia yang sempurna adalah manusia yang senantiasa bergerak dari fitrah awalnya ketika dilahirkan suci menuju cita kesucian absolut yang digambarkan lewat sifat-sifat Allah swt. Gerakan ini senantiasa harus didukukung oleh pengoptimalisasian potensi al-Aql di atas. Apabila gerakannya konsisten, maka akan menanjak terus ke arah yang diridhoi. Sebaliknya apabila gerakannya tidak konsisten, maka ada dua kemungkinan, yaitu pertama pertobatan dan kemudian bergerak menanjak lagi, terus dan terus, sedangkan kemungkinan kedua ketika terjadi kejatuhan dan kejatuhan itu disadari namun tidak ada reinventing gerak alias terlena dengan inkonsistensi, maka gerak seperti ini turun, bahkan menukik jauh ke level eksistensi paling nadir (Q.S. an Nahl: 179).

Karena gerak adalah proses berpindah, maka gerakan menjadi proses berpindah yang dinamis. Dinamisnya gerakan terlihat dari konsistensi atau inkonsistensinya. Konsistensi berarti maju atau menanjak, sebaliknya adalah mundur atau menurun. Gerakan konsisten kaum beriman menuju Allah swt adalah aksioma eksistensial alias hukum paten bagi setiap manusia beriman untuk meraih "beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni'mat) yang mulia". Puncak prestasi tersebut oleh Allah swt dianugerahi gelar "Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya". Istilah sebenar-benarnya ekuivalen dengan real, nyata. Lawan dari sebenar-benarnya adalah tidak sebenar-benarnya, atau dengan kata lain tidak real, tidak nyata alias kabur dan tidak jelas. Kekaburan dan ketidakjelasan dalam orientasi gerakan adalah pertanda inkonsistensi gerakan. Indikasinya adalah dorongan hawa nafsu mendominasi sehingga potensi ilahiah redup oleh potensi hewaniah, maka gerakan menukik ke bawah menjauhi sumber cahaya.

Hawa nafsu adalah kotoran hati, puncak manifestasinya adalah kesepian hati, disebabkan kegersangan yang pangkalnya adalah hilangnya cahaya cinta dalam hati. Cahaya cinta tak bisa memantul pada cermin hati yang dipenuhi kotoran. Kotoran menghalangi kehidupan dan dari sini muncul kegersangan. Lahan yang gersang disebabkan meluasnya kematian pada bentangan lahan, demikian pula hati menjadi gersang dan kusam akibat tiada kehidupan dari cahaya penerang, dari basuhan sungai kautsar, dari ruapan sejuk salsabila. Kegersangan membawa kesepian. Kesepian bukan pertanda kekosongan semesta eksistensi dari Tuhan, tapi kesepian adalah ketiadaan Kekasih di dalam ceruk hati yang telah gersang. Kegersangan adalah arena efektif bagi eksperimen Setan merekrut pasukan sebanyak-banyaknya.

Dengan demikian maka hanya orang-orang beriman yang sebenar-benarnya sajalah yang mampu merasakan indahnya percintaan suci bersama Kekasih Absolut, Allah yang Maha Indah.

Ceruk hatinya akan senantiasa diliputi cahaya, dibasuhi kesejukan kautsar dan manisnya aliran salsabila. Hati mereka telah dekat, didekatkan melalui mujahadah dan amal saleh mereka, diintimkan lewat keimanan yang kokoh sekuat pohon sempurna, akarnya menghunjam kuat kedalam bumi dan tajuknya tinggi menjulang ke langit. Hati yang murni telah kembali ke fitrah awal dalam kepolosan penyerahan diri (Islam), ruang-ruang sakralnya akan bergetar tatkala asma-asma Tuhan pemilik langit dan bumi tercerap dan beresonansi di dalamnya.

Hati yang murni tempat bersyahaadah/musyahadah. Henry Bergson menyebutnya intuisi,Immanuel Kant menyebutnya rasio praktis/moral, Ibnu Sina menyebutnya akal mustafaadhdan Imam Al-Ghazali menyebutnya dhamiir . Ketika rasio dan indera mencermati fakta-fakta empirik, maka lahirlah pengetahuan sains. Ketika rasio sendiri menseriusi premis-premis logika, maka lahirlah pengetahuan filsafat. Namun ketika intusi, alQalb tercerahkan lewat mujahadah, maka lahirlah musyahaadah mengungkap pengetahuan ma'rifah, syahaadah.Tiada ma'rifah/ syahaadah tanpa pencerahan. Tiada pencerahan tanpa ketaatan pada Allah lewat syari'ah (mujahadah).

Salah satu pondasi syari'ah sekaligus ibadah yang agung adalah shalat, sehingga Allah swt menyebutkannya dalam ayat di atas sebagai kriteria orang-orang beriman secara benar. Orang boleh saja bisa mengaku beriman, tetapi kalau orang tersebut menolak mendirikan shalat atau bahkan menentang syariat agung ini, maka sesuai kriteria ayat di atas, orang tersebut belum memenuhi persyaratan. Shalat sebagai ibadah ritual (hablumminallaah) disandingkan dalam ayat di atas dengan "...dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (hablumminanaas) sehingga tradisi Islam atau tradisi kaum beriman adalah tradisi yang sempurna dalam arti mencakup aspek ilahiah transendental sekaligus aspek kemanusiaan imanensial.

Transformasi ajaran agama dalam level kemanusiaan, khususnya realisme sosial sekaligus sebagai pengukur keimanan, ditegaskan dua ciri dalam Q.S. Al-Maa’uun: 1-7, pertama, ukuran pendustaan agama adalah ketika seseorang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, kedua, ukuran kecelakaan bagi orang-orang yang shalat adalah ketika lalai, berbuat riya (pamer, tidak beramal sosial atas motif keridhaan Allah swt) dan keengganan menolong orang lain dengan barang berguna.

Ajaran Islam tidak melangit melainkan membumi dan menegaskan emansipasi dan advokasi kemanusiaan. Bahasa  “..menafkahkan sebagian dari rezki ..." adalah bahasa universal dalam konteks distribusi kesejahteraan secara adil bagi manusia dan kemanusiaan. Sehingga keimanan orang-orang beriman adalah keimanan yang universal, hanya bergantung kepada Allah swt, Raja Universal serta mentransformasikan keimanan tersebut dalam sejarah, dalam peradaban manusia untuk diarahkan secara progresif revolusioner bagi keadilan, kesejahteraan dan keilahian (Q.s. Ali Imran: 110). 

Semoga kita tetap istiqomah sebagai petarung hebat melawan jiwa rendah (nafs al ammarah) menuju manusia beriman yang berhati suci (nafs al muthma’innah), aamiin ya Rabbal alamiin.



Ruz’an Hasyimov Latuconsina, ST., Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Maluku
Share:

0 komentar:

Posting Komentar