.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

11/10/13

Opini: Agama

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Ada warta sejuk yang berembus: di tengah kepungan estetika realitas-realitas semu, dunia simulakrum, dan riuh konsumerisme kehidupan kota, pada 25-26 September 2013, di Makassar berlangsung International Interfaith Youth Assembly, sebuah forum internasional yang diinisiasi anak-anak muda sejagad dan memilih posisi sebagai agen perdamaian lintas iman.

Hal tersebut patut disambut baik semua pihak, sebab kesadaran dan ide mendialogkan iman dari basis teologi yang jamak adalah pilihan penting, subtil dan tercerahkan. Apa lagi satu kenyataan tak terbantahkan jika dewasa ini persoalan penodaan agama, ujaran kebencian dan kekerasan atas dasar agama justru telah menjadi fenomena global. Masalah ini hampir mengemuka di semua negara di dunia. 

Karena itu pada 2012, tak kurang dari PBB telah mengeluarkan Resolusi Nomor 66/167 tentang perang terhadap intoleransi, negatif stereotip, stigmatisasi, diksriminasi, hasutan yang mengakibatkan kekerasan, dan kekerasan terhadap orang atas dasar agama/kepercayaan.

Di dalam resolusi tersebut, semua negara mengecam praktik-praktik intoleransi atas dasar agama termasuk ujaran kebencian yang mengakibatkan kekerasan. Bahkan resolusi tersebut menyerukan agar semua negara mengkriminalkan pelaku ujaran kebencian yang mengakibatkan kekerasan atas dasar agama.

Dalam perspektif philosophia Perennis, agama sejatinya memiliki dua “wajah” yang musti dijaga keseimbangannya: eksoterik yang bersifat historis-sosiologis-empiris dan esoterik yang menekankan sisi transendental-mistis. Jika yang pertama menyentuh aspek ritual, moral, dan intelektual sebuah agama, yang terakhir justru menekankan aspek substansial-spiritual.

Doktrin tentang keseimbangan atau “equilibrium” sebab itu, hampir menjadi inti pesan dari setiap agama dan tradisi otentik.

Dalam tradisi Islam misalnya, pesan moral Al-Quran (“al-Mizan”) sangat menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara yang “doktrinal” dan “historis” dalam kehidupan. Taoisme mengenalkan doktrin “Yin-Yang” yang juga mengandaikan pentingnya menjaga keseimbangan jagad kehidupan melalui manifestasi iman.

Hal ini menunjukkan, beragama dengan cara memilih satu titik ekstrem dan mengabaikan titik lainnya, tidak saja akan mengguyahkan keseimbangan, tetapi bahkan menjadi gelombang pemukulan balik terhadap eksistensi agama itu sendiri. Di sini, eksoterisme dan esoterisme agama ibarat dua sisi koin yang bersebelahan: ia tak dapat dipisahkan tapi jelas dapat dibedakan. 

Demikianlah, ekstremitas agama, apapun bentuk dan ekspresinya: terorisme, kekerasan atas nama agama, insuniasi, intoleransi, diskriminasi, intimidasi, koersi, perusakan properti dan penutupan paksa rumah ibadah dan seterusnya dengan sendirinya tertolak dalam bangunan substansi setiap agama. Sebab, inti agama identik dan selalu sejalan dengan ide kemanusiaan.

Di sinilah nafas, relevansi dan siginifikansi dari perhelatan International Interfaith Youth Assembly itu terasa kuat. Ada pesan arif yang sublim mengalir pada forum itu: di dalam jantung setiap agama dan tradisi otentik, terdapat pesan inti kebenaran yang sama.



Dr. Mohammad Sabri AR, Direktur Character Buildg Program (CBP) Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Sekretaris Majelis Pimpinan Daerah KAHMI Sulawesi Selatan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar