.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

26/10/13

Puisi: Nira

Kita berasal dari urat pohon yang sama kawan, menjadi tetes nira yang serupa
Mengalir untuk tujuan yang jua sama.

Sampai akhirnya belanga itu memisahkan kita, meski kita dekat, aku kini hanya dapat mendengar gemericikmu tak kala dikau dikuras, begitu pula mungkin engkau kepadaku, kita hanya saling mengisyaratkan sesuatu dengan suara.

Aku mahfum dengan gemerisikmu, tatkala aku mendengar suara seperti di air terjun yang dulu kita di tepiannya, aku di akar pohon dan kau di batang pohon lontar. Aku telah mengira ini kali terakhir kita saling mengisyaratkan suara, entah ke mana kita akan dilabuhkan.

Aku telah tersadar berada dalam teko, sebagian diriku dalam cangkir dan sebagian lain menguap menjadi sendawa, engkau aku perkirakan berada di atas tungku yang sangat panas diombang-ambing dan diaduk-aduk.

Andai aku dapat memilih, aku lebih memilih menjadi masam, menjadi cuka teman ikan asin yang disantap si miskin.

Meskipun kata orang, aku sangit, tapi sebagian yang lain menjadikanku kendaraan mengawan di langit, hal yang sama mungkin akan terjadi tatkala aku menjadi sebentuk pil, hanya saja akan terasa lebih elite, mungkin aku akan bersemayam dalam sebuah laci di MK, di kantor gubernur, dalam mobil milik seorang dewan terhormat mungkin? Atau di tangan mafia yang kaya raya? Dan sebelum aku menguap menjadi sendawa atau mengalir menjadi urine, aku akan di peluk jelita.

Sayangnya aku hanya tetes nira yang menjadi tuak dan akan dinikmati preman kampung.

Kawan mungkin sekarang engkau sudah menjadi karamel, sebentar lagi membeku menjadi gula yang tentunya manis, kalau beruntung, kau akan dicicipi orang hebat yang pastinya tidak punya niatan yang sama ketika mengkonsumsiku.

Tapi aku tak pernah iri ke padamu kawan, menjadi nira memang keniscayaan, dinikmati oleh siapa, itu persoalan lain, sebagian menjadi awet dan manis sepertimu, sebagian yang lain menguap menjadi sendawa, ada juga yang memilih masam berkawan ikan asin, tapi aku memilih menjadi puisi.


Isbawahyudin, Penggiat Komunitas Pena Hijau Takalar dan #SekolahLiterasi Pemuda Muslim Takalar


Share:

0 komentar:

Posting Komentar