.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

05/11/13

Bermilad Ke-108, Syarikat Islam Indonesia Gelorakan Jiwa Piagam Jakarta

JAKARTA, TURUNGKA.COM - Pelaksanaan puncak peringatan 108 Tahun Syarikat Islam Indonesia (SII), Selasa (05/11/2013), menjadi begitu istimewa karena pada forum ini jiwa Piagam Jakarta kembali digelorakan. Bila selama ini, wacana Piagam Jakarta distigmatisasi sebagai tujuan perjuangan aliran ekstrimisme Islam, maka pada perhelatan akbar kaum SII, Piagam Jakarta ditempatkan sebagai plot historitas terpenting menuju Indonesia yang merdeka.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Muhtadin Sabili menyampaikan bahwa dengan mengawali pembacaan Piagam Jakarta lalu diteruskan dengan pembacaan Pembukaan UUD 1945, kaum SII ingin mengingatkan kepada bangsa Indonesia, bahwa perjuangan mewujudkan Indonesia yang merdeka mengalami dinamika yang begitu berkelok dan berliuk. 

“Tidak mungkin Negara Indonesia terlahir tanpa jiwa Piagam Jakarta yang memulakannya. Namun atas rahmat Allah swt, bangsa kita dapat melalui semua proses dialektika politik kebangsaan di masa lalu melalui musyuwarah-musyawarah yang elegan dan mencerahkan” terangnya di hadapan pulahan ribu kaum SII yang memadati Gedung Graha Bakti di Pusdiklat LAN Jakarta Pusat.

Gagasan tersebut semakin diteguhkan oleh Presiden Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam. Dalam sambutannya, H. Muflih Chalik Ibrahim menegaskan bahwa Piagam Jakarta merupakan ruh kebangsaan yang memberi kehidupan yang luhur kepada Republik Indonesia. 

“Jangan pernah ragukan warna “merah putih,” dalam setiap darah kejuangan Syarikat Islam Indonesia. Sejak kelahirannya di Tahun 1905, SII merupakan gerakan kebangsaan yang paling perdana mengkonsolidasi rakyat untuk mengusir imprealisme dan kolonialisme kaum penjajah. Meski kami lebih tua dibanding Muhammadiyah dan NU, namun kami selalu berpandangan visioner bahwa yang masa depan harus diproyeksikan berdasarkan kebenaran sejarah yang tak terbantahkan. Seperti itulah jiwa Piagam Jakarta yang pada akhirnya melahirkan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945,” pungkas tokoh bermarwah khalifahtul fil ardh ini. 

Sementara itu, sebagai bagian integral darah kejuangan SII maka Pemuda Muslimin Indonesia beserta underbown SII lannya seperti SEMMI dan COPMI semestinya menjadi generasi baru bangsa Indonesia yang memandang Piagam Jakarta tanpa tendensi politik yang serba picik, sempit dan ketinggalan zaman.

Hal ini diingatkan oleh Ketua Umum Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar, Zaid Ali, “Menggelorakan jiwa Piagam Jakarta, meniscaya kesadaran kita untuk merentangkan wawasan kesejarahan yang melampaui pendekatan diakronis dan sinkronis semata. Piagam Jakarta bukan sekedar romantisme yang berhenti di masa lalu,” tuturnya. 


“Namun selebih daripada itu, refleksi dan permenungan mendalam terhadap Piagam Jakarta seharusnya membuat kaum muda Indonesia menjadi lebih giat mempersembah bakti tanpa pamrih, juga menjadi lebih tulus mendarma cinta pada tanah air yang lestari,” pungkas delegasi yang teguh menyebrangi ribuaan kilometer luat nusantara demi berurai cercah pencerahan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar