.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

06/11/13

Cerpen: Gadis Pembaca Nietzshce

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Sore itu pukul 16. 15 Wita, aku menyusuri pinggiran danau yang baru saja diguyur hujan. Rerumputan yang basah, dedaunan pohon yang memercikkan air di kala angin sepoi menyapanya dengan lembut atau ketika ranting kecilnya yang baru saja dihinggapi dan digoyangkan oleh segerombolan burung gereja, menjadikan sore itu menjadi salah satu hari yang paling indah yang pernah aku saksikan.

Aku terus melangkah menyusuri pinggiran danau, sambil menghirup udara segar meskipun terasa dingin. Tiba-tiba aku terasa ingin untuk duduk dan merenung sejenak di bawah pohon kesambi. Sebuah pohon yang acap kali aku datangi bersama dengan teman-teman untuk berdiskusi. Namun sore itu aku hanya ingin merenung di bawah daunnya yang rindang.

Kutatap dari jauh pohon itu dan mulai kudekati. Emm….sepertinya tempat duduk yang ada di bawah pohon itu tampak basah setelah diguyur hujan sejak siang tadi. Aku berkata dalam hati. Tapi tak mengapa menurutku, toh aku membawa koran bekas yang dibagikan secara gratis di kampus. Sebenarnya koran tersebut masih baru dan agak sayang kalau ingin dijadikan alas duduk. Tapi aku sudah membacanya semua. Lagi pula isi berita, opini dan cerpen di dalamnya tidak begitu menarik buatku.

Aku semakin dekat dengan pohon itu. Aku semakin mempercepat langkah karena sudah tak sabar untuk ingin segera duduk di bawahnya. Ketika jarakku sudah sangat dekat dengan pohon itu aku tiba-tiba tersentak. Rupanya ada seseorang yang sedang bersandar di balik batang pohon itu. Tapi aku cuek saja dan tidak peduli dengan dia, toh dia seorang perempuan yang berjilbab besar.

Aku segera menyiapkan koran bekas tadi dan kemudian duduk dan menghadap ke danau. Rupanya tempat duduk yang aku pilih cukup strategis karena sejajar dengan gadis yang berdiri di balik batang pohon itu. Meskipun pandanganku dapat menjelajah jauh memandangi hamparan danau yang dibatasi oleh tembok rumah sakit itu, aku juga sekali-kali dapat melirik kesamping untuk melihat gadis aneh itu.

Sudah agak lama aku terus memandangi hamparan danau sementara pikiranku menggeliat liar kemana-mana. Aku sudah sedikit bosan dan aku segera menengok ke samping untuk melihat gadis itu. Benar-benar aneh. Gumamku dalam hati. Aku pun terus bertanya apa sebenarnya yang membuat gadis itu tetap betah dan asyik berdiri sementara hujan sejak dari tadi sudah lama berhenti. Rasa ingin tahuku memburu dan aku mencoba untuk memperhatikannya dengan seksama.

Rupanya dia sedang membaca buku sambil berdiri, tapi belum aku lihat judul buku apa yang dia baca. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya, “Maaf, sudah lama saya duduk di sini dan anda tetap berdiri sambil membaca buku di balik pohon ini? Sebenarnya buku apa yang anda baca, apa nggak capek berdiri terus?”

Dia segera berbalik, menyipitkan mata dan memegang kacamatanya, menatap dan memperhatikanku. Tak lama kemudian ia melemparkan senyuman yang indah untukku. Masya Allah aku jadi tegang. Dia kemudian bertanya, “Apa masih punya koran bekas? Saya tidak ingin rok putihku ini jadi basah dan kotor.”

Aku segera memberikan sisa koran bekas untuk dijadikan alas duduk kepadanya. Lalu ia mengambil tempat duduk yang menurutku terlalu dekat denganku. Aku jadi heran kok ada seorang akhwat yang berjilbab besar yang begitu berani dan tidak menjaga hijab apalagi dengan cowok yang memakai celana jeans seperti aku. Bukankah di kampus banyak perempuan seperti dia yang cenderung menjauh dengan laki-laki yang berpenampilan sepertiku. Sementara mereka biasa ngobrol dengan asyik dengan ikhwaN yang bercelana kain dan sedikit tergantung di atas mata kaki meskipun sedikit menjaga jarak. Menurut mereka sih... biar sedikit lebih islami.

Tapi aku lagi-lagi bertanya kepadanya, “Maaf anda belum menjawab pertanyaan saya tadi, Buku apa yang anda baca?”

Dia tetap diam dan belum menjawab pertanyaanku. Tapi tak lama kemudian dia membuka tas dan mengeluarkan tiga buah buku dan mengabungkannya dengan buku yang ia baca tadi. Dan memperlihatkan semua cover bukunya kepadaku.

Dia berkata, “Saya sedang mencoba mendalami pemikirannya dia.” Sambil menunjuk ke gambar wajah di salah satu cover buku tersebut.

Waoow...gila! Seorang gadis cantik, berkacamata dan berjilbab besar sedang bergairah...., bergairah membaca buku-bukunya Nietzsche.

Aku berkata kepadanya, “Saya salut.”
Dia bertanya, “Kenapa?”
“Salut karena perempuan seperti anda mau membaca karya seorang nihilis sejati yang pernah berteriak dengan lantang bahwa Tuhan sudah mati.” Jawabku.

Dia tersenyum kecil. Diam dan tak berkata apa-apa.
Kemudian aku bertanya, “Apakah anda tidak takut ‘sakit’ oleh benih-benih racun yang ada dalam pemikirannya?”
Dia malah balik bertanya kepadaku, “Racun? Racun seperti apa yang anda maksud? Aku tidak sepakat kalau hasil pikiran orang dikatakan racun. Bukankah setiap manusia mempunyai hak untuk menuliskan hasil pemikirannya?”

Aku menjawab, “Memang setiap orang punya hak untuk berpikir dan menuliskan hasil pemikirannya. Tapi kita harus tetap waspada jangan sampai pikiran orang menjadikan kita terobjektivikasi. Itu sama saja dengan membunuh esensi kemanusiaan kita untuk menjadi orang yang bebas. Bukankah itu yang menjadi salah satu sorotan utama dalam aforismenya Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa, yang menjadikan manusia bebas untuk menjadi dirinya sendiri.”

Dia kembali terdiam dan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak lama kemudian dia bertanya kepadaku, “Apakah aku juga harus membunuh Tuhan seperti yang dilakukan Nietzsche?”
“Mana ketehe,” jawabku sambil tertawa.
“Itu terserah anda. Tapi bagiku, meskipun kita mencoba untuk membunuh Tuhan berkali-kali, Tuhan tak pernah mati. Meskipun ia, Nietzsche bilang bahwa kita harus membunuh Tuhan dan semua tuhan, manusia akan selalu merindu pada segala sesuatu yang pasti dan besifat adikodrati. Banyak manusia yang tidak mampu menghadapi chaosnya dunia. Kalau kita ikut-ikutan chaos dengan melepaskan semua landasan berpikir yang kita jadikan ‘sabuk pengaman’, bukankah kita menambah keliaran hidup ini?” Lanjutku.

“Saya suka hidup yang liar tetapi tidak seliar Nietzsche. Kalau ia masih hidup, pasti ia akan bilang bahwa aku pengecut karena tidak berani mengarungi samudra hidup ini dengan perahu kecil sementara perahuku diharamkan untuk kembali atau menghampiri pulau lain sekalipun. Tapi bagi saya... yah itulah diriku yang sebenarnya.” Aku bergumam lirih.

Lagi-lagi dia hanya diam. Terus menatapku, semantara aku jadi tegang dan salah tingkah. Aku beruntung karena azan magrib yang berkumandang dari mesjid kampus menyelamatkanku dari sorotan matanya. Dari tatapan matanya jelas dan sangat kentara dia sedang berpikir keras.

Aku segera pamit dan berkata padanya, “Tuhan yang pernah berkali-kali kucoba untuk aku bunuh telah memanggilku. Jelas kan? Ia tak pernah mati.”
Dia tetap diam dan menunduk. Aku tak berani bertanya apakah ia akan sholat ataukah tidak. Tapi ia segera berdiri dan berkata, “Saya pengen ikut ke mesjid, tidak apa-apakan kita jalan bersama?”

Aku tersenyum. Dia juga tersenyum, tapi kurasa senyumnya lebih indah dariku.
Sambil melangkah ia bertanya, “Siapa nama anda?”
“Oh ya kita belum kenal, nama saya Nurwahid. Anda siapa?” Jawabku sekenanya.
“Saya Sulis.” Katanya.
“Wah...kenal baik sama vokalisnya Nidji dong?” Sergahku.
Ia menatapku bingung.
Kemudian aku bilang, “Iya, Nidji ... Nidji yang menyanyikan lagu..
Suliskan kesedihan /semua tak bisa kutinggalkan /jalan kita...
Mendengar itu semua dia hanya tertawa terbahak...dan kami pun terus melangkah bersama dalam suasana yang lebih akrab.


Noorwahid Sofyan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Share:

0 komentar:

Posting Komentar