.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

28/11/13

Kolom: Antara Pemilih Muda dan Hamil Muda

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Hamil muda kata ibu saya adalah hal kedua yang paling tidak nyaman di samping proses kelahiran. Menurutnya, hamil muda membuka perspektif unik cenderung aneh terhadap sesuatu. Sewaktu normal misalnya, sesuatu itu adalah hal yang dia sangat suka setelah hamil muda tiba-tiba menjadi hal yang paling ia benci atau sebaliknya, biasa kita sebut tahap ngidam.

Teringat beberapa cerita dari guru saya, ustadz Kasman Daeng Matutu, beliau punya teman yang hamil muda, anehnya, suami yang selama ini ia sayang dan ia cintai berubah 180o. Tiba-tiba saja ia benci bahkan sekedar menatap dan mencium bau suaminya sekalipun. Aneh kan?

Dalam perjalanan selanjutnya, saya teringat kata muda yang disandingkan dengan kata lain, pemilih muda’. Di media manapun isu pemilih muda ini selalu diasosiasikan dengan isu golput, isu pemilih yang cuek, pemilih yang skeptis, isu pemilih yang ngidam (punya perspektif unik terhadap pemilu), sehingga iklan untuk mengajak mereka untuk turut andil dalam pemilu pun merebak.

Mengingat lebih dari 20 persen calon pemilih pada pemilu 2014 nanti yang berusia antara 17 - 29 tahun, mereka adalah pemilih muda, cukup untuk sebuah partai yang berhak mengusung capresnya sendiri.

Ini juga yang banyak dimanfaatkan parpol, caleg dan capres untuk menggaet pemilih muda ini. Tagline “Pilih Yang Muda acap kali terpampang bersama foto caleg yang juga tampak muda, dengan harapan semoga pemuda menyadari bahwa dia adalah temannya sama-sama pemuda dan akan mengaspirasikan semangat muda.

Di samping itu, KPU tak kalah gencarnya mengkampanyekan hal yang sama agar pemilih muda tertarik terlibat dalam pesta demokrasi 2014 nanti, nampaknya kita fobia pada pemilu 2009 lalu di mana partisipan pemilu hanya berkisar kurang dari 70%, sebagian besar pemilih yang golput adalah pemilih muda.

Pemilih muda dan hamil muda, dua hal yang mengalami fase ngidam, membutuhkan pengertian lebih, jika hamil muda butuh pengertian dan kesabaran ekstra dari seorang suami dan orang dekatnya. Maka seharusnya kita pun bersikap sama terhadap pemilih muda.

Butuh sesuatu yang juga muda agar pemilih muda tidak merasa teralineasi dengan proses pemilu ini, dan menganggap proses pemilu ini adalah bagian dari dirinya serta dengan sendirinya merasa perlu untuk terlibat.

Pemilu yang bersifat transaksional, membuat pemilih muda tidak merasa terlalu berkepentingan, lain halnya dengan pengusaha misalnya, mereka tidak sungkan terlibat bahkan membiayai caleg atau partai tertentu karena ada kepentingan pragmatis di balik dukungannya.

Dengan terpilihnya calon yang ia dukung, otomatis proyek pemerintah tentunya akan lebih mudah diperoleh oleh pengusaha pendukungnya.

Pemilu transaksional tadi, membuat pemilih muda hanya menjadi objek dari sebuah sistem demokrasi, bukan subjek yang berkepentingan, terlibat dalam sebuah perubahan yang besar, perubahan dengan bea yang mahal tentunya.

Pemilih muda yang ngidam menjadi subjek demokrasi, subjek pemilu, dan subjek perubahan seharusnya menjadi fokus utama pemerintah dan parpol untuk melibatkan mereka sepenuhnya, dengan kesadaran dan idealisme yang dimiliki pemuda. Tan Malaka pernah berkata, Satu-satunya harta paling berharga yang dimiliki pemuda adalah idealismenya.”

Tugas pemerintah dan parpol sekarang adalah memperjelas kelamin ideologi partainya, apa yang ditawarkan dan bagaimana ia akan bersikap, apa landasannya, dan ke mana negeri ini akan dilabuhkan, untuk meyakinkan pemilih muda dan memilih sesui idealismenya.

Sehingga pemuda yang tidak memilih pun, bukan karena cuek, bukan karena mereka skeptis, bukan karena siapa-siapa, tetapi karena idealisme yang mereka miliki dan mereka perjuangkan. Dengan begitu, kualitas pemilu pun akan meningkat, kualitas yang bukan berasal dari angka, tetapi dari kesadaran pemilihnya. (kdm)


Isbawahyudin, Kader HMI Cabang Takalar, Aktivis Mahasiswa STAI Yapis Takalar, bergiat di #SekolahLiterasi Pemuda Muslimin Indonesia Cabang Takalar
Share:

0 komentar:

Posting Komentar