.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

20/11/13

Melani Budianta: Indonesia Masih Lemah dalam Perlindungan Wanita

http://langitperempuan.com
JAKARTA, TURUNGKA.COM - Pasca reformasi, Indonesia masih dianggap negara yang lemah dalam memberikan perlindungan terhadap kaum wanita, buktinya masih banyak terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap wanita baik yang dilakukan dalam keluarga maupun publik. Oleh karena itu, perlu ada usaha keras bersama-sama untuk menekan jumlah kekerasan terhadap wanita dengan meningkatkan peran wanita baik dalam kehidupan sosial maupun politik.

Hal tersebut disampaikan oleh guru besar Universitas Indonesia Prof. Melani Budianta dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Pusat Kajian  Bahasa dan Budaya UNIKA Atmajaya bekerja sama dengan American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) di Jakarta (Selasa, 19 November 2013).

Menurut professor yang juga aktivis perempuan tersebut, kekerasan terhadap perempuan terbesar pasca reformasi terjadi saat tragedi pemerkosaan terhadap wanita-wanita yang dianggap memiliki darah Tionghoa. Tragedi tersebut memicu para aktivis perempuan Indonesia untuk mendirikan Komnas Perlindungan Perempuan.

Namun demikian saat ini kekerasan terhadap perempuan juga masih sering terjadi dalam bentuk pemerkosaan dan pelecehan terhadap perempuan. Indonesia juga masih dianggap lemah dalam memperjuangkan nasib para pekerja wanita yang mengalami kekerasan di luar negeri, misalnya di Arab Saudi dan Malaysia.

"Perlu gerakan bersama dan sistematis untuk melindungi perempuan di Indonesia,” ungkap aktivis kelahiran Malang tersebut.

Lebih lanjut, Melani menyampaikan bahwa untuk meningkatkan peran wanita di publik, tidak cukup dilakukan dengan hanya mendorong wanita untuk lebih banyak berkiprah di ranah publik, tetapi juga dengan meng-edukasi para laki-laki untuk memiliki kesadaran mengenai kesetaraan gender.

Edukasi ini bisa dilakukan sejak usia dini, Melani mencontohkan anak laki-laki mulai bisa diperkenalkan dengan boneka atau mainan lain yang saat ini cenderung dimainkan perempuan dengan tujuan mengajarkan dan menanamkan sifat penyayang dan peduli, tetapi dengan tetap mengajarkan peran mereka sebagai laki-laki yang melindungi dan berani.


Begitu juga dengan anak perempuan, perlu diajarkan tentang sikap berani dan melindungi sebagaimana anak laki-laki. 

"Jadi, proses edukasi antara anak laki-laki dan perempuan harus seimbang, sehingga dalam perkembangannya akan terjadi keseimbangan pemahaman gender satu sama lain. Laki-laki tidak merasa paling kuat dihadapan wanita, dan wanita tidak merasa lemah di hadapan laki-laki", demikian Melani memberikan kesimpulan pada diskusi tersebut. (czn/kdm)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar