.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

05/11/13

Songsong Pemilu 2014, Politik Islam Segera Terkonsolidasi

JAKARTA, TURUNGKA.COM - Berangkat dari cita-cita persaudaraan Umat Islam yang luhur, sejumlah pimpinan penting organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam berjanji untuk terus berkonsolidasi demi perbaikan kehidupan kebangsaan yang lebih baik.


Konsolidasi dan sinergitas ormas Islam yang selama ini sudah begitu kuat, akan merambah seluruh dimensi kehidupan republik, mulai dari bidang sosial, pendidikan, budaya, hingga dunia politik. Gagasan tersebut menghembus dengan kencangnya di arena peringatan 1 Muharram 1435 H, di Pusat Latihan Administrasi Negara, Selasa (05/11/2013).

Menurut Dr. Haedar Nasir seorang ketua DPP Muhammadiyah, sebagai kekuatan politik yang lahir sebagai pengewajantahan ajaran tauhid maka semestinya kekuatan politik Islam di Indonesia berada di garda terdepan pembangunan kebangsaan. 

“Muhammadiyah, NU, SII dan ormas Islam lainnya, sudah saatnya mengkonsolidasi perjuangan mewujudkan kehidupan politik kebangsaan yang lebih bermartabat. Ketika, kehidupan politik kenegaraan tidak digawangi oleh pemimpin yang bervisi tauhid maka seperti realitas yang kita temukan hari ini, politik kita tidak lebih sekedar politik transaksional jabatan demi keuntungan masing-masing kelompok,” terangnya. 

Pendapat yang senada juga diungkapkan Prof. Aqiel Siraj, Ketua Umum PB Nahdatul Ulama, “Dalam tradisi politik masa lalu, sesama kelompok Islam seringkali terlibat konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan kepentingan kekuasaan, seperti konflik Khalifah Ali versus Muawiyah, ataupun perseturuan mu’tazilah dan jabariyah juga perebutan pengaruh antara kaum fuqaha dan ahli ma’rifah. Namun dibalik semua konflik tersebut, akan selalu hadir sosok pemimpin besar yang mampu menjembatani seluruh perbedaan itu seperti sosok hujjatul Islam, Abu Hamid Algazali. Dan kita berharap, pada pemilu 2014 tahun depan umat Islam tidak akan mengalami kesulitan menentukan “pemimpin sejati,” urainya.

Dari kalangan kaum muda Islam, wacana kepemimpinan bervisi keummatan dan kebangsaan mendapat apresiasi yang amat besar. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Pemuda Muslimin Indonesia Wilayah Sulawesi Utara, Arhanuddin Salim, M.Pd.

“Bagi kami yang terus berjuang di daerah, Pemilu 2014 akan menjadi konsolidasi keummatan yang terpenting dan paling strategis guna merubah keadaan daerah menjadi lebih baik. Bila pemimpin daerah yang berorientasi pelanggengan dinasti politiknya, tidak dibina oleh presiden berwatak nasionalisme dan islamisme yang luhur, maka niscaya pemilu 2014 justru melahirkan kepemimpinan tanpa wibawa. Dahulu kita bersatu dalam “poros tengah” setelah pemilu 1999, dan kita saatnya kita membangun “poros tauhid” demi pemilu 2014 yang bergelimang keberkahan,” ungkap mahasiswa program doktoral UIN Syarif Hidayatullah ini.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar