.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

17/11/13

Tokoh: Fajar, Pengagum Anies Baswedan dan Tan Malaka

TAKALAR, TURUNGKA.COM – Namanya sangat singkat, Fajar, itu saja, tak ada embel-embel lain selain gelar akademik yang lebih sering tidak digunakannya. 

Pria berkacamata kelahiran Watampone 29 tahun silam ini adalah alumni S2 Fisipol Universitas Hasanuddin Makassar.

Anak tunggal dari pasangan Alm. Andi Iskandar Burhanuddin, S.Sos dan Andi Kustina, Us ini menghabiskan masa kecilnya di kota Watampone, Kabupaten Bone, dan tinggal bersama di rumah nenek Alm. Hj. Andi Sate Petta Ceyya di Jalan Sungai Mahakam Lorong 2.

Hidup berdua dengan nenek dijalaninya karena sang ayah meninggal ketika dirinya masih belia, sementara sang ibu yang disapanya ummi, menderita sakit yang mengharuskannya menjalani terapi di pulau Jawa.

Sang nenek, yang meskipun seorang buta huruf namun istiqomah dalam mengaji (membaca ayat suci al quran), sangat mempengaruhi pembentukan kepribadiannya.

Semasa kecilnya, Fajar mendapatkan didikan keras dari neneknya. “Ketika saya melakukan hal yang dianggap nakal oleh nenek, semisal tak pergi mengaji, bermain tanah saat waktu hujan, maka saya akan di poro’ oleh nenek, hehehehe..”

“Poro’ itu semprotan jahe yang dikunyah lantas disemprotkan ke bagian mata, sangat pedih jika terkena mata, namun bagi orang tua dahulu, poro’ ini dianggap sebagai obat agar mata tetap baik, awas dan tajam, dalam melihat.” Tutur Fajar.

Pendidikan formal dari Taman Kanak-Kanak dijalaninya di Watampone, kota kelahirannya. Mulai mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak Batari Toja Watampone, SDN 07 Watampone, SMP 04 Watampone, dan SMA Negeri 01 Watampone. 

Semasa di kelas 3 Sekolah Dasar, Fajar kecil sempat jualan es manis, aktivitas yang membuatnya harus menjalani fase naik kelas percobaan dari kelas 3 ke kelas 4. “Itu berarti bahwa bisa saja saya dikembalikan ke kelas 3 bila tidak ada perbaikan kualitas, hehehe...” 

Menurut Fajar, hal ini karena pada waktu itu, dia tak pernah terpikir untuk belajar, dia lebih memilih membantu pekerjaan neneknya di rumah untuk menambah biaya sekolah.

“Untung saya tidak dikembalikan ke kelas 3, soalnya sayang sekali, itu sama saja dengan tinggal kelas. Padahal untuk membiayai sekolahku, nenek sudah bekerja keras karena tidak adanya biaya, kalau tinggal kelas, kan sungguh kasihan.” Cerita Fajar dengan mata berkaca-kaca.

Kesenangannya membaca buku, utamanya buku pelajaran bahasa Indonesia, majalah Bobo dan Ananda, di masa kecil, tetap bertahan. Bahkan kecintaannya pada buku dan membaca kian menjadi-jadi begitu bersentuhan dengan dunia aktivis mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Semasa mahasiswa, Fajar memilih bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO.

Meski telah menjadi yatim sejak masih belia, namun Fajar kecil berpegang teguh pada petuah neneknya, “Assikolako Nak, mumuare’ runtu’ko deceng. Namu mapeddi’ki, insya Allah, engka tu maka, nenniya dalle’, pole ri puang Allah Taala yang artinya “Bersekolahlah Nak, semoga mendapatkan kebaikan dan kebenaran. Biarpun kita miskin, insya Allah akan ada rejeki dari Allah Taala.”

Begitu menyelesaikan S1, Fajar mencoba merintis lembaga kursus Bahasa Inggris yang bernama Michighan English School, namun usaha dan kerja kerasnya belum membuahkan hasil maksimal, tak perlu menunggu waktu lama, lembaga kursus itupun tutup.

Pada akhir tahun 2007, Fajar diterima sebagai tenaga kependidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mega Rezky Makassar sambil melanjutkan pendidikan S2 di FISIP Unhas pada tahun 2009. Sekolah tinggi ini pulalah yang pernah memberinya jabatan bergensi, Sekretaris Jurusan, jabatan yang dijalaninya sebelum memutuskan berhenti pada tahun 2011.

Selama menjabat sebagai sekretaris jurusan, Fajar mempunyai banyak kesempatan menghadiri berbagai forum perguruan tinggi, baik tingkat lokal, sampai di tingkat nasional, terutama dalam hal menilai dan mengevaluasi perguruan tinggi utamanya dalam bidang akreditasi badan akreditasi nasional perguruan tinggi (BAN-PT).

Pengalaman tersebut, memberinya keberanian untuk menjadi konsultan perguruan tinggi swasta dalam hal pengakreditasian perguruan tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), pembukaan universitas, maupun pembentukan program studi baru. Pekerjaan yang dijalani sampai hari ini, sambil tetap menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi.

Salah satu tokoh pendidikan yang banyak memberinya inspirasi adalah Rektor Universitas Paramadina Jakarta, Prof. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. “Saya begitu terinspirasi oleh Anies, terutama kalimatnya yang mengatakan bahwa pendidikan yang baik dan berkualitas ada pada kualitas dosen, bukan gonta-ganti kurikulum.” Urai Fajar.

Bila tak sedang sibuk mengajar atau mendampingi perguruan tinggi yang akan mengajukan akreditas ke BAN_PT, Fajar bisa ditemui di kediamannya, di Apartemen AS Center, apartemen yang dikelola oleh Prof. Dr. Aminuddin Salle, SH., MH. yang beralamat di jalan Mesjid Al Ikhlas, Kompleks Perumahan Dosen Universitas Hasanuddin, Tamalanrea Makassar.

Pemuda lajang yang memiliki hoby membaca dan bermain gitar ini, menjalani hari-harinya dengan berpegang teguh pada nasihat Tan Malaka, salah satu pejuang yang begitu mempengaruhinya, Tan Malaka. “Padi Tumbuh Tak Berisik, demikian nasihat Tan Malaka.” Seru Fajar dengan tegas.

Satu cita-cita dan harapan besarnya yang sampai saat ini terus dia usahakah adalah mendirikan perguruan tinggi sehingga bisa berkontribusi dan lebih bermanfaat bagi sesama, terutama dalam hal peningkatan kualitas pendidikan yang ada di Sulawesi Selatan khususnya, serta bangsa dan negara Indonesia pada umumnya.

Minat dan keinginannya yang besar dalam memajukan lembaga pendidikan demi tercapainya tujuan warga Negara dan tujuan kebangsaan agar turut mencerdaskan dan melunasi janji kemerdekaan, tak lepas dari inspirasi dari tiga tokoh idolanya. “Selain rasulullah saw., saya begitu terinspirasi oleh Anies Baswedan dan Tan Malaka.” (kdm)
Share:

8 komentar:

  1. Perjuangan hidup adalah pembentukan jati diri untuk mencapai tujuan walaupun itu jauh dari kesempurnaan, semoga menjadi spirit untuk paradikma baru bahwa walaupun dengan keminiman keadaan itu bukan menjadi hambatan asal ada kemauan yang tinggi dan tentunya dukungan dari orang sekitar "memang sejarah adalah kebenaran yang sesungguhnya yang dirasa dan yang membentuk masa depan"

    BalasHapus
  2. Turut berbangga menjadi bagian dari masa kecil, masa remaja, dan masa dewasa pemuda perjaka ini (ssttt...karna dia saudara sepupuku...hehehe). Dari kecil kami sepergaulan dan karakternya memang menonjol dari yang lain, hangat, terbuka, pandai, ceria dan percaya diri. Terlebih sekarang, kematangannya terbentuk berbarengan dengan sikapnya yang konsisten dan tegas. Kami tahu dia akan jadi "sesuatu". Dibalik penuturannya yang melankolik saya tahu dia selalu diikuti oleh nasib baik. Karenanya saya betah jadi sepupunya ...hahaha. Keep fight my spup.

    BalasHapus
  3. "Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku, kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak akan pernah kehilangan apa apa. Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi muda, makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu"
    K' FajR kerrreeennn ky' spiderrmann,, sm2 d'besarkan o/ nenekkk tp bs menjadi sosokkk yg luarrr biasa" suksessskii k' Fajr :)

    BalasHapus
  4. “Assikolako Nak, mumuare’ runtu’ko deceng. Namu mapeddi’ki, insya Allah, engka tu maka, nenniya dalle’, pole ri puang Allah Taala”

    (y) MANTAP PAK (y)

    BalasHapus
  5. kak juang, sahabat mahasiswa sahabat pendidikan. di fikirnya selalu soal pendidikan. "hanya dengan pendidikan kita merubah hidup, beli buku dan buatlah perpustakaan mini dikamarmu", ini kalimatnya jika diperkuliahan. hehehe

    BalasHapus
  6. Ingin buat perguruan tinggi yang kanda,,,,semangat kanda...jangan hanya kampusnya orang yang bimbing akreditasi Ban PT, jangan hanya orang lain yang kanda bimbing mendirikan perguruan tinggi,, tapi kanda juga harus punya perguruan tinggi. hehehe...good luck pe 'juang'

    BalasHapus