.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

06/12/13

Tradisi Jumatan di Masjid Baitul Maqdis Sanrobone

SANROBONE, TURUNGKA.COM - Menunaikan shalat jum'at di masjid Baitul Maqdis Sanrobone, tampak ada yang berbeda dengan pelaksanaan shalat jum'at di masjid-masjid lain. Walaupun rukun jumatnya tetap sama, ada yang berbeda pada ritual sebelum khatib naik ke mimbar.

Saat adzan pertama dikumandangkan, seorang petugas pemukul bedug akan memberikan tanda, bahwa adzan sudah akan dikumandangkan. Petugas pemukul bedug ini adalah memang orang khusus yang dipercayakan dan tidak pernah ada yang menggantikan.

Hal lain yang tampak dari ritual pelaksanaan shalat jum'at, di masjid yang terletak di dusun Salekowa desa Sanrobone, Kec. Sanrobone Takalar ini adalah, adanya petugas yang disebut bidal kanan dan bidal kiri.

Bidal kanan akan menjemput khatib di tempat duduknya yang berada di pojok kiri shaf depan. Bidal kanan ini menggunakan tongkat/tombak kala berjalan menuju sang khatib, sembari membaca shalawat.

Saat khatib berada di tangga mimbar, dan tongkat yang dipegang oleh bidal yang menjemput si khatib telah diserahkan ke khatib, maka bidal kiri akan berdiri membacakan shalawat dan beberapa bacaan yang tidak terlalu jelas kedengarannya, setelah itu, berkumandanglah adzan kedua. 

Setelah adzan kedua dikumandangkan, sang bidal ini, akan membacakan sebuah hadits yang intinya berisi ajakan untuk memperhatikan khatib berkhotbah. Barulah setelah itu, sang khatib bisa berdiri untuk memulai khutbah.

Menurut Daeng Sollong, petugas pemukul bedug yang kami temui usai shalat jumat, menjelaskan, “Ritual tadi sudah berlangsung sejak dahulu, dan tetap dipertahankan hingga sekarang”. Jelas pria paruh baya ini.

Lanjut Daeng Sollong, “Yang tadi dilakukan bidal, namanya ammuntuli, maknanya sebagai bentuk penghormatan kepada sang khatib.

Cerita tentang kesakralan prosesi jumatan di masjid tua ini, diceritakan oleh Daeng Jallung seorang jamaah sekaligus pengurus masjid, “Kalau proses ammuntuli-nya kurang sempurna, biasa ada khatib yang lupa dengan khutbahnya, saat sudah di atas mimbar.”

“Bahkan sang khatib lupa apa yang akan disampaikan ke jamaah. Tapi biasanya, itu terjadi karena ada sifat takabur yang hinggap di hati sang khatib, sehingga ia lupa dengan konsep khutbahnya.” Ujar pemuda ramah ini. (ars/kdm)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar