.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

30/03/14

Cerpen: Senyum Itu Terukir Kembali

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Perempuan itu, dia adalah kekasih yang sudah tiga tahun lebih menghiasi waktuku. Perempuan yang telah hadir atas nama Ranni Dewinta Puspa, dengan tutur sapanya yang selama ini mampu meluluhkan hatiku di sebuah pesta undangan makan siang seorang teman di sebuah restoran.

Sejak saat itu, kisah berlanjut dan berjalan indah seakan-akan tak pernah ada masalah antara aku dan Ranni dalam meniti keseharian yang indah penuh warna dan kisah yang susah untuk dilupakan buatku.

Tangis, canda dan tawa selalu menjadi simponi kerinduan di hatiku. Hubungan kami selama ini manis-manis saja dan aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya.

Ketika senja menapakkan dirinya di hadapanku, entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat akan bayangan Ranni, seakan-akan aku takut kehilangan dirinya.

Kucoba untuk menghubunginya tapi Ranni tak mengangkat telpon aku. Entah apa yang terjadi, tak biasanya Ranni seperti ini, aku semakin cemas. Berkali-kali kuulangi untuk menghubungi Ranni tapi tak ada satupun jawaban darinya. Apa yang sebenarnya terjadi, cemas, risau, kacau, galau semua aku rasakan.

Seolah-olah aku merasa Ranni marah padaku tanpa sebab, dan kuputuskan untuk mengirimkan pesan padanya.

Yang, malam ini aku merasa ada yang hilang dariku, tak biasanya aku merasakan seperti ini, apa mungkin karena malam ini kamu tak memberiku kabar, adakah kamu baik-baik saja di sana? please... balas pesan aku, Yang...”

Berselang setelah beberapa menit menunggu balasan pesannya, akhirnya Ranni membalasnya.
Hancur lebur perasaanku ketika kubaca balasan pesan dari Ranni.

Maaf jika aku membuatmu cemas, malam ini aku baik-baik saja, belajarlah tuk melupakanku, aku tak ingin jadi anak yang durhaka pada orang tuaku, maafkan aku, lupakan saja diriku.

Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu, apa yang sebenarnya terjadi, sungguh aku tak mengerti dengan keputusannya yang mendadak untuk mengakhiri kisah cinta ini, meninggalkan aku dengan tanya yang belum jelas.

Aku tak sempat mengangkat telponmu tadi, karena saat itu aku tengah menjamu kedatangan keluargaku, dan ternyata, selama ini aku dijodohkan oleh orang tuaku.

Kalimat itu adalah kalimat yang terakhir kalinya yang masuk melalui pesan di handpone aku, setelah itu, dia raib dan menghilang entah ke mana. Tak kusangka yang tersisa tinggal kenangan, kasih sayang yang selama ini kurasakan berubah menjadi kebencian.

Aaahhhh.... Mengapa harus aku yang menerima kenyataan pahit ini. Hancur seluruh hasratku, tiba-tiba saja aku harus kehilangan dia yang telah kutetapkan sebagai cinta terakhir. Dia lupa dengan janji yang pernah kita buat, tak ada lagi cinta yang lain hanya milik kita berdua. Aku akan menunggumu sampai tiba pada waktunya ketika kita bersanding diatas pelaminan, semuanya hilang.

Kamu egois, kamu keterlaluan, sungguh saat ini aku benci kamu Ranni. Tak mungkin juga aku akan membawamu pergi yang sementara selang dua minggu lagi kamu akan bersanding di atas pelaminan bersama lelaki pilihan orang tuamu. Rasanya aku ingin membawamu kabur saja. Tapi entah sekarang kamu ada di mana, pencarianku berakhir dengan luka dalam hati. 

Hari demi hari aku lebih memilih untuk mengurung diri di kamar, aku masih belum percaya atas apa yang telah kau perbuat kepadaku. Aku begitu setia padamu begitu tulusnya menyayangimu, namun beginikah balasanmu?

Entahlah, apakah aku harus terus-menerus merasakan kesakitan ini atau lebih baik aku mati saja. Malam itu aku masih tetap bertahan di dalam kamar dengan sejuta pertanyaan tak terjawab. Badanku mulai gemetar, oleh rasa sakit yang kurasakan.

Esok adalah pesta pernikahanmu, ragaku tiada berdaya, terasa lemah, pikiranku kosong, mataku mulai berkunang-kunang seakan yang kulihat di depanku menjadi terbalik dan tak kusadari ternyata aku terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.

Keesokan harinya kita aku terbangun dari tidurku, rasanya seperti mimpi. Ini bukan kamar aku, di mana aku, kenapa tiba-tiba saja selang infus tepasang di lenganku. Ternyata semalam tadi aku jatuh pingsan di dalam kamar dan tak sadarkan diri.

Hari ini adalah hari pesta pernikahan Ranni, sementara aku harus terbaring di rumah sakit. Tak ada lagi yang harus kuharapkan kepadamu Ranni, kamu telah dimiliki oleh lelaki pilihan orang tuamu. Aku harus bisa terima kenyataan itu, pikirku.

Sementara aku terbuai menatap pemandangan di balik jendela yang berada di samping ranjangku. Tiba-tiba saja pintu kamar di mana aku dirawat terbuka oleh ulah anak kecil yang tengah bermain lalu tanpa sengaja mendorong pintu. kubangunkan badanku untuk menutup pintu kamar itu, namun ternyata fisikku masih lemah, aku tiba-tiba saja terjatuh di lantai dan tak mampu berdiri sendiri karena kondisiku masih lemah.

Sampai akhirnya seorang wanita dengan wajah yang mempesona datang menghampiriku, sementara aku berusaha untuk bisa berdiri dan kembali ke ranjang itu. 
Selang infusnya terlepas, sebentar ya mas, saya panggilkan susternya dulu untuk memasangnya.” Tutur katanya, ditambah senyuman manisnya itu seakan-akan mampu membuatku lupa akan sosok Ranni.
“Eehh... tidak usah. Aku tidak apa-apa kok, aku hanya ingin meminta sesuatu hal sama kamu, boleh?”
“Apa?”
“Aku ingin duduk di kursi roda itu, tolong bantu aku untuk duduk di kursi itu.”
“Loh... bukannya mas harus istirahat?”
“Aku bosan di ruangan terus, aku ingin menghirup udara yang sejuk, kamu mau tidak menolongku?” “Ya udah, sini saya bantu, sekalian saya bawa ke suatu tempat ya mas? Dijamin di sana mas bisa menghirup udara yang sejuk.”

Senyuman gadis itu membuat jantungku bergetar, entah dia mau membawaku kemana, aku hanya menikmati perjalanan di atas kursi roda sampai ke suatu tempat, tiba-tiba saja wanita itu menghentikan doronganku.

Dia melangkahkan kakinya ke depanku dan menatapi langit yang begitu cerah sambil tersenyum.
“Mas tahu tidak, ketika kita harus dihadapkan pada kenyataan yang sungguh bukan keinginan kita? Itu semua adalah tantangan untuk kita, jangan terus menerus terpuruk pada hal yang telah terjadi yang membuat kita jadi kehilangan arah,” ungkapnya penuh penghayatan, sementara aku hanya tergeragap mendengar petuahnya.

Dia melanjutkan, “Seharusnya kita bangkit akan hal itu, cinta itu sudah diatur oleh sang pencipta. Yakinlah cinta itu akan indah pada waktunya.”

Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, dari mana dia tahu jika aku tengah patah hati.
“Maaf mas, aku melihat di wajah mas jelas terbaca kalau mas itu sedang patah hati. Sungguh sia-sia kamu masih belum bisa bangkit dari semua itu.”

Seraut wajahku tetap datar namun hatiku tidak, aku tersadar bahwa ternyata dia mampu membuatku tersenyum kembali. Saat itu juga aku mampu mengikhlaskan Ranni untuk bersama lelaki lain.

Hari demi hari ketika aku dirawat di rumah sakit, rasanya kutemukan cinta sejati. Cinta yang datang manakala hatiku sedang hancur dan dia mampu membuatku tersenyum kembali karena usahanya. Terima kasih Tuhanku telah mengirimkanku bidadari yang sesungguhnya untukku.

Nhia Hasniaty Syam, Mahasiswi STAI Yapis Takalar dan mencintai menulis
Share:

0 komentar:

Posting Komentar