.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

22/04/14

Opini: Wanita, Antara Peran Domestik dan Peran Publik

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Pada masa lampau kaum wanita hanya melakukan kegiatan/pekerjaan (berperan) di lingkungan rumah tangga, yakni mengurus pekerjaan rumah seperti memasak mencuci dan melayani kebutuhan suami dan anak bagi wanita yang sudah menikah. Dengan perkataan lain tempo dulu kaum wanita hanya berperan dalam ranah domestik (di dalam rumah tangga).

Peran domestik tersebut dilakukan oleh kaum wanita secara turun temurun (tradisional) tanpa dilandasi oleh pemikiran yang rasional. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyrakat pada masa penjajahan yang begitu lama.

Keadaan ini berlaku sampai dengan masa, dimana para tokoh/pejuang wanita antara lain R. A. Kartini, melakukan “Gerakan Emansipasi Wanita”, yang intinya adanya persamaan hak/peran wanita dan pria, kecuali mengenai peran wanita yang secara kodrati, hanya dimiliki oleh wanita yakni hamil, melahirkan dan menyusui.

Sejak adanya Gerakan Emansipasi Wanita tersebut melalui jalur pendidikan, lamban tapi pasti peran wanita mulai bergeser yang tadinya hanya berperan pada ranah domestik kini wanita sudah berperan ganda, yakni disamping berperan pada ranah domestik (peran utama) juga berperan pada ranah publik (mencari nafkah) pada segala bidang kehidupan dan profesi, baik dibidang pemerintahan sosial, ekonomi dan sebagainya dan berprofesi sebagai karyawan/pegawai, pekerja sosial, pengusaha/pedagang (wirausaha) dan sebagainya.

Hal ini sangat membantu keluarga dalam upaya meningkatkan pendapatan/penghasilan keluarga sekaligus dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga baik kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier.

Demikian pula kaum pria disamping berperan diranah publik/peran utama (mencari nafkah) dapat pula berperan pada ranah domestik (mengurus rumah tangga/keluarga).

Agar peran ganda, baik kaum wanita maupun kaum pria dapat berlangsung secara baik dan kontinyu, maka didalam keluarga perlu dimusyawarahkan untuk mufakat, sehingga terwujud keluarga yang harmonis, damai, dan sejahtera.



Zalli Saite, Pemerhati Pendidikan dan Sosial
Share:

0 komentar:

Posting Komentar