.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

15/04/14

Takalar Sebagai Magnet Politik Nasional

PATTALLASSANG, TURUNGKA.COM - Tahun politik sangat identik dengan dinamika politik tingkat tinggi. Pada masa ini, kontestasi politik menjadi begitu hangat, penuh gesekan sekaligus melahirkan momentum-momentun yang mendebarkan.

Dan sesungguhnya, cerita di balik kemenangan akan selalu menghadirkan sejarah yang mencerahkan. Sebaliknya, kebodohan politik akan terus dikenang sebagai dimensi politik dangkal dan kekanakan.

Dalam konteks inilah, masyarakat Takalar harus menerima kenyataan bahwa kaum politisi Takalar tidak lebih sebagai aktor-aktor politik kelas teri di kancah perpolitikan nasional.

Para politisi Takalar, gagal memanfaatkan momentum tahun politik, untuk membangun kepercayaan masyarakat Indonesia bahwa Takalar merupakan salah satu energi terpenting dalam menentukan arah percaturan politik tingkat nasional. Ibarat buih samudera, Takalar hanyalah sekedar renik politik dengan peran yang terbilang sepele.

Demikian pandangan kritis cendekiawan muda Takalar, Saharuddin dalam ceramahnya kepada mahasiswa di STIA Yapis Takalar, Selasa (15/04/2014). Menurutnya, tahun politik merupakan momentum strategis mengangkat citra daerah di tingkat Nasional.

“Sebagai bagian dari bangsa yang besar, maka semestinya kaum politisi Takalar secara sungguh-sungguh memperjuangkan mimpi dan aspirasi rakyat Takalar termasuk rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Takalar harus belajar dari daerah lain seperti Bantaeng dan Enrekang dalam memanfaatkan momentum politik tahun 2014. Para politisi kedua daerah tersebut, dengan begitu sukses mengemas citra daerahnya sebagai kawasan yang secara signifikan ikut menentukan dan memengarui dinamika politik nasional.

Sosok seperti Nurdin Abdullah, menjadi ikon politisi Bantaeng yang diundang menjadi calon presiden melalui konvensi rakyat,” urai Saharuddin meyakinkan.

“Jangankan menjadi capres, calon menteri, ataupun calon gubernur, untuk menjadi ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan saja, tidak seoang pun politisi Takalar yang berani mengimpikannya. Bagaimana bisa mengangkat martabat Takalar, bila politisi Takalar hanya duduk manis tetapi tidak memegang jabatan strategis seperti ketua DPRD Provinsi.

Kalau hanya menjadi anggota biasa di level parlemen provinsi, sosok seperti Faharuddin Rangga ataupun Andi Makmur lebih baik mundur saja. Beri kesempatan itu, buat aktualisasi perjuangan politisi kaum muda Takalar,” terangnya dengan antusias.

Menanggapi rendahnya visi kepemimpinan regional maupun nasional dari politisi ataupun birokrat asal Takalar, Saharuddin mempertayakan mekanisme maupun sistem kaderasisi kepemimpinan di Takalar.
Menurutnya, kegagalan elit Takalar berkiprah di level regional maupun nasional karena selama ini para pemimpin Takalar tidak lahir karena prestasi ataupun kontribusinya buat negara. Elit Takalar, lahir dan tumbuh justru oleh “family conection” atau “colution conection”yang berati kekuasaan tergantung seberapa dekat ikatan kekerabatan/kolusi dengan penguasa.

“Kepemimpinan kaum muda di KNPI Takalar, sebagai contoh. Ketuanya, tidak harus memiliki wawasan kenegarawanan maunpun kecendekiawan yang mumpuni. Tapi cukup mendapat restu dari penguasa, niscaya jabatan itu hadir dengan sendirinya. Demikian pula, jabatan dalam biroksrasi pemerintahan.

Pemahaman tentang “good governance” bukan menjadi acuan promosi tetapi kedudukan birokrasi adalah buah imbalan dari dukungan politik pada masa kampanye. Oleh karena itu, saya jutru lebih percaya pada konsolidasi gerakan kaum muda Takalar demi menyiapkan Takalar menjadi magnet politik Nasional,” pungkas dengan nada optimisme. (zdr/kdm)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar