.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

28/05/14

Cerpen: Rindu Itu Masih Ada

Cintai aku
Dengan segala keganasan Tartar
Dengan segala kehangatan savana
Dengan segala derasnya hujan
Jangan sisakan dan jangan ditahan
Dan jangan beradab selamanya

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Aku bertahan. Sendiri aku dalam keheningan. Di tanah yang merah dan lembab dengan bunga kamboja memutih di atasnya, kugetarkan do’a-do’aku. Ya..., sahabatku berdiam di dalam gundukan tanah itu, tempat istrahat panjangannya, seperti cerita tentangnya yang tak kunjung usai. Satu menit, lima menit, hingga tiga puluh menit tak terasa aku dalam kesendirian. Do’a, air mata, dan kenangan silih berganti menguasai dimensiku.

Tak ada lagi lalu lalang orang ataupun sudi getar ilalang di hadapanku. Aku memilih teraleniasi di antara isyarat alam yang akan menenggelamkan sore dalam pekat malam. Biarkan saja maghrib yang datang memisahkan lekatku dengan pembaringan panjangnya.

“Perlu aku menemanimu?” sayup-sayup aku mendengar suara perempuan dari arah belakangku. Kupalingkan wajahku seketika dan kulihat wanita dengan wajah yang tertutup kacamata gelap, dengan kerudung hitam memagari rupanya. Aku tahu, dibalik kacamata hitam itu, kedua bola mata indahnya memandang lurus pusara basah itu.

“Sudah selayaknya kau menemaniku. Mungkin kamu masih ingat bahwa sahabat kita inilah yang menyatukan kita dulu. Jasanya telah mengukir sejarah dalam hidupku yang indah awalnya, dan akhirnya..., ah....,entahlah. Aku mengenalmu, kemudian kita merangkai cerita, dan kemudian kita mengakhirinya pun dia yang terlibat erat. Sungguh, patut bagiku mengenangnya!” balasku dengan nada getir dan kemudian aku berdiri menyambut kedatangannya.

“Kalau bukan karena dia, kita tak akan bertemu” katanya.
Aku mengangguk. Ia masih seperti yang dulu saat terakhir aku melihatnya, 11 tahun lalu di rumah sahabatku yang kini berbaring di haribaan Tuhan. Berkata tegas dan teratur. Aku tahu, ia lebih sedih dariku.

Ditaburkannya sekantong bunga yang beraneka rupa dan warna di atas pusara itu. Kemudian beberapa menit kami larut dalam keheningan, masing-masing berbicara dengan batin tentang sebuah cerita, potongan masa lalu yang tak pernah aku coba menguburnya.

“Reuni yang aneh” kataku memecah kesunyian.
Ia memandangku sejenak saja, setelahnya kembali memandangi pusara dengan amat dalam. Ada banyak hal yang ingin aku ungkapkan ataupun menanyakan sesuatu tentangnya. Aku diam-diam pandangi raganya yang berjongkok di sampingku, sama sekali tak ada berubah pada dirinya. Sungguh aku benci kondisi ini, saat aku terdiam dalam kekaguman. Seperti dulu saat baru mengenalnya, kagum hanya bergumul dengan sesal dalam dada, tanpa bisa kuluapkan dengan sebaris kata puji. Aku tak suka basa-basi.

“Kapan kamu balik ke Makassar? Saya dengar kamu sudah jadi dosen muda berprestasi di sana” tanyanya padaku tanpa mengubah arah pandangannya, pusara itu masih lebih utama dibanding aku.

“Mungkin lusa, saya mau bermalam semalam di rumah mendiang dan semalam di rumah orang tua. Itupun baru sebatas rencana.” Jelasku dan mencoba lari dari keterangan terakhir tentangku.

“Kenapa tak tinggal seminggu di sini, bukankah sekarang masa liburan? Banyak orang yang merindukanmu disini” kali ini aku mendengar nada suaranya berubah, tapi pandangannya masih tak jua berpaling ke arahku.

“Entahlah..., aku tak tahu siapa yang merindukanku, yang bisa kupastikan hanya orang tuaku dan orang terdekatku. Itupun mereka sering aku temui atau mereka yang temui aku. Tak seberapa menurutku, apalagi aku sudah lama meninggalkan kampung ini.” Tegasku padanya. Aku berkata jujur padanya, 11 tahun aku meninggalkan kampungku.

Kembali diam menyeruak di antara kami. Merah senja merona, semerah ingatanku sebelas tahun lalu. Aku dan dia terpisah setelah merangkai kisah setahun lebih. Momentum berpisah itu tak bisa aku kubur dalam geliat waktuku, pertama kali aku jatuh cinta, cinta dalam terminologi Yunani disebut cinta eros atau amos, cinta pada lawan jenis, dan itu tentangnya, orang yang di sampingku kini. Dan kemudian kita berpisah karena fantasi kita berbeda.

Hasratku ingin profesional di dunia pendidikan berkontradiksi dengan ambisinya menjadi perawat atau bidan. Akhirnya, langkah kami berbedah jalan dan arah. Tapi jujur aku akui, rindu itu masih ada untuknya. Menurut kabar yang telah aku buktikan sendiri kebenarannya, dia telah jadi PNS di RS di kabupatenku. Aku dan dia telah benar di jalurnya masing-masing, tidak sefrekueinsi.

“Kenapa kamu belum menikah? Bukankah dosen cerdas nan gagah sepertimu mudah mendapatkan wanita yang sesuai dengan kategori yang kau inginkan?” di akhir kalimatnya dia memandangku, dan untuk pertama kalinya setelah 11 tahun aku menikmati kembali senyum itu, senyum yang memunahkan logikaku, meruntuhkan nalarku, mengendapkan sum-sumku, bahkan mampu meluruhkan nafasku. Sungguh ....

“Hahaha....” aku tertawa kecil. “Kamu juga? Kenapa belum menikah juga? Saya pernah dengar dari kakakku bahwa sudah banyak lelaki dengan berbagai strata dan status meminangmu tak jua kau terima. Jangan-jangan kamu menanti aku?” selorohku padanya. Kucoba balas senyumnya dengan seihlas dan semanis mungkin.

Ia memalingkan muka, kembali pusara lembab itu  menjadi tuju pandangannya. Tapi sebelum mengalihkan pandangan, merah pipinya bak merah delima sempat sekilas aku pandang. Entah apa sebab, tak perlu aku cari tahu.

“Kalau benar aku menantimu, itu bukan kesalahan kan?” bergetar suaranya mengucapkan kalimat-kalimat itu. Kembali dia memandangku, dan kacamata hitamnya dia lepas. Aku seperti melihat pelangi di kelopak mata itu, binar nan cemerlang.

Aku hanya mengangguk. Tertegun aku memandang, dan seperti dada semakin sesak oleh debaran jantung yang kian tak teratur. Pun tenggorokan seperti terhalang sekat, tak ada resonansi. Kalimatnya telah membunuh aksaraku pun nadiku seperti berhenti berdenyut. Candaku terjawab keseriusan yang mendalam, haru biru aku dibuatnya. Aku memeluknya erat, dan lebih erat.

“Rindu ini masih ada untukmu” bisikku di telinganya dan perlahan aku melepas pelukan itu. Dia menggenggam erat tanganku.

“Aku ingin menghabiskan hidupku dalam dua waktu, sekarang di dekatmu dan selamanya bersamamu. Genggam erat tanganku selalu, dan aku siap mengikuti segala inginmu. Perpisahan kita dulu adalah pelajaran besar bagiku, dan aku tak ingin melakukan kesalahan itu. Biarkan pusara lembab ini menjadi saksi” berakhir kalimat yang meluncur dari belah bibirnya, kupeluk kembali dirinya dan kenangan-kenangan lama. Aku mesti tinggal lebih lama di kampungku, sesuatu yang tak kuduga.



Zahir Makkaraka
Alumni Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar
Share:

0 komentar:

Posting Komentar