.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

11/07/14

Kolom: Purgatorio Ramadhan

TAKALAR, TRUNGKA.COM - Ramadhan mengandung makna “pembakaran,”—identik dengan purgatorio dalam karya penyair Dante—Divine Comedy. Ibarat terpisahnya emas dari logam yang merengkuhnya justru ketika dibakar pada titik didih tertentu.

Di bulan ini, manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk membersihkan diri dari kegelapan dosa (zhulmâni) yang sejauh ini menutupi hati yang “bercahaya”. Di titik ini, manusia tercerabut dari kebahagiaan (paradiso) kesucian primordialnya (fitrah) dan tercampak dalam kegetiran dosa (inferno).

Itu sebab, manusia-cahaya—seperti alegorisme Alqur’an—adalah manusia yang bergegas bangkit dan melepaskan diri dari selubung “diri-gelap” menuju “diri-cahaya” yang autentik: min al-zhulumâti ila al-nûr.

Di sini alam purgatorio ramadhan terkait erat dengan ide latihan (riyâdhah), yaitu latihan sang-aku menyelami “pusat” dirinya yang autentik agar tidak jatuh ke lembah syahwat dan dosa.

Dalam tradisi Abrahamic Religions—Yahudi, Kristen, dan Islam—simbol “kejatuhan” manusia primordial dan terusir dari alam paradiso, diwakili oleh narasi tentang Adam dan Hawa.

Meski kedua insan pertama itu pada urutannya mendapat ampunan Tuhan karena teguh menjalankan “kalimat-kalimatNya” (Qs. 2: 37), namun mereka mewariskan anak cucu yang kesucian asal-usulnya selalu terancam jatuh.

Sebab itu, setiap orang berpotensi untuk jatuh martabat dan terjebak pada diri-tak-autentik alias palsu.

Latihan menahan diri (shiyâm) di alam purgatorio ramadhan bersumbu pada latihan untuk “membakar” diri-palsu agar menemukan diri-autentik dan sepenuhnya menghayati “Kemahahadiran Tuhan” (al-Hudhûrî) dalam hidup keruhanian yang paling sublim.

Sebuah episentrum cahaya yang membawa manusia-puasa menemukan kesucian asalnya yang sirna dan kembali ke fitrah (‘îd al-fithr). Pada momen ini aku-puasa berada pada puncak-terdalam kebahagiaan sejati paradiso, karena berhasil menemukan kembali dirinya yang autentik.

Dengan begitu puasa lebih merupakan manifestasi kongkret dari firman Allah: “Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha Awas akan segala sesuatu yang kamu perbuat” (Qs. 57:4).

Seorang manusia-puasa selalu merasa terdeteksi oleh Allah karena “Kemanapun kamu menghadap di sanalah Wajah Allah”. “Kami (Allah) lebih dekat dari urat lehernya sendiri (Qs. 50:16); “Allah menyekat antara seseorang dengan hatinya sendiri” (Qs. 8:24).

Kesadaran akan Kemahahadiran Tuhan yang selalu “mendeteksi” segenap aktivitas hamba-hambaNya (zhahir dan batin) inilah yang jadi fondasi jika bukannya inti ketakwaan yang akan membimbing seseorang melakukan kerja-kerja pencerahan, kreatif, memelihara kemuliaan dan martabat diri. Di sini pula esensi mengapa “puasa” dan “takwa” terpaut erat.

Kualitas manusia-takwa, karena itu, adalah diri-autentik yang tercerahkan secara moral, intelektual, spiritual, dan soasial: Satu lokus kesadaran-diri yang sejauh ini justru tercerabut dari hiruk pikuk kehidupan hedonistik yang silau dengan materi. (ist/kdm)

Dr. Mohammad Sabri AR, Direktur Character Building Program (CBP) Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Sekretaris Majelis Pimpinan Daerah KAHMI Sulawesi Selatan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar