.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

07/02/15

Generasi Muda Muslim dan Gaul Nyar’i?

[remaja; apa sih?]
Kata remaja mungkin sudah tidak kedengaran asing bagi kita semua. Bahkan –mungkin-– bagi anda yang sudah cukup umur -–atau terkategori dewasa-- berpikiran bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah yang pernah anda lalui J, sementara bagi anda yang masih terdefenisi anak-anak, maka remaja adalah masa yang anda tunggu-tunggu dengan setumpuk harap-harap cemas L.

Remaja adalah sebuah posisi antara --transisi-- dari anak-anak ke dewasa. Memang agak sulit memberikan batasan pasti, kapan seseorang biasanya dikatakan remaja. Namun biasanya, seseorang yang berumur antara 12 sampai mendekati umur 20-an tahunanlah yang dikategorikan remaja. Dalam usia-usia ini seorang manusia mengalami kegamangan identitas karena perubahan fisik yang mereka alami yang ditambah dengan pemahaman mereka tentang masa dewasa yang menanti mereka dengan setumpuk tanggungjawab.

[anak nongkrong[i]; kegamangan identitas]
kisah hidup, seorang anak baru gede (cari identitas diri)tempuh jalan, tiada tujuan (kebingungan)--Abege, Justice Voice--
Dalam bangunan psikologi remaja yang mengalami kegamangan tentang apa, siapa, dan bagaimana dirinya, remaja cendrung akan memilih tindakan-tindakan yang mencoba menegaskan eksistensi kediriannya. Mereka berusaha untuk diterima secara utuh oleh masyarakatnya. Dalam usahanya inilah, remaja seringkali justru melahirkan tindakan-tindakan yang malah makin mengaburkan identitas mereka :-I

Mereka mengalami kegamangan ini karena posisi remaja memang posisi yang ambigu, secara fisik, mereka sudah menunjukkan ciri-ciri orang dewasa, sementara itu, secara pemikiran dan beban sosial yang dibebankan ke pundak mereka, masih seringkali menempatkan, memposisikan dan menganggap remaja sebagai anak-anak yang belum bisa diberi tanggungjawab sebagaimana manusia dewasa. 

Kegamangan identitas yang mereka alami ditutupinya dengan bergabung dalam peer group[ii], dalam peer group inilah remaja berkumpul dan mempertegas identitas mereka dengan bangunan peer culture[iii] yang mereka anut bersama. Memang peer culture tidak selalu berkonotasi negatif, namun dalam kenyataannya, peer group yang dihuni oleh para pemuda seringkali hadir menjadi kelompok yang merusak tatanan dan mengganggu stabilitas sosial.

[generasi badung; generasi yang terlupakan]
salah jalan, ikut kebarat-baratan (mode yang jadi pegangan)gaya ngetren, cari perhatian (orang-orang)--Abege, Justice Voice--
Ketika seorang remaja bergabung dalam sebuah peer group tertentu, maka hampir dapat dipastikan –-meskipun tidak seluruhnya—akan memiliki kebiasaan-kebiasaan, tradisi dan budaya yang destruktif, seperti memakai narkoba dan seks bebas. Mereka membentuk kebiasaan-kebiasaan, tradisi dan budaya tersebut dari nilai yang mereka bangun sendiri untuk mengisi kekosongan nilai yang mereka alami karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap mereka.

Masyarakat seringkali memandang dengan sebelah mata terhadap peer group yang ada, bahkan cendrung dilupakan. Situasi inilah yang membuat mereka berani untuk mempertaruhkan segalanya demi eksistensi dan pengakuan akan keabsahan keberadaan mereka sebagai anggota masyarakat. Masyarakat seringkali hanya bisa mencaci dan menista betapa badungnya mereka tanpa masyarakat itu menyadari bahwa kebadungan para remaja juga diakibatkan karena kurangnya --kalau tidak mau mengatakan tidak ada-- perhatian masyarakat terhadap mereka.

[status tanggung; mencari pijakan]
pingin ngetop, pingin keren, pingin ngefans, segalanya dikorbanin (kasian)pamer harta, cari muka ‘n ngegosip, pilih-pilih temen (kelewatan)--Abege, Justice Voice--          
Karena kegamangan eksistensinya, para remaja butuh pijakan untuk merekonstruksi posisi sosial mereka di tengah masyarakat. Dalam situasi ini, mereka akan mencoba mencari referensi atau nilai panutan yang bisa mereka anut. Di samping bergabung dalam peer group tertentu, para remaja juga biasanya mengatasi masalah ini dengan menempatkan media massa sebagai sumber nilai bagi tradisinya. Bahkan tanpa segan, mereka menempatkan para selebriti yang senantiasa menghiasi wajah infotainment sebagai nabi dan menjadikan gaya hidup selebriti itu sebagai sunnah muakkad yang harus diamalkan tanpa preseden.

Kalau diperhatikan secara serius, wajah remaja kita tidak ubahnya dengan tampilan para selebriti pujaannya. Semua itu dilakukan bukannya karena mereka betul-betul sadar akan nilai yang ditawarkan, melainkan karena mereka tidak memiliki pilihan lain selain itu. Remaja kita lebih akrab bercengkrama dengan peer group dimana mereka bergabung dari pada bercandatawa dengan keluarga. Mereka lebih karib dengan wejangan-wejangan selebriti di televisi daripada kearifan budaya yang dianut masyarakat.

[remaja Islam; gaul nyar’i]
bokap kamu, nyokap kamu, tante kamu, pastikan bangga padamu (nih die)punya anak, udah cakep (kalo cakepnya sih udah)
juga soleh (apalagi kau) prestasinya oke--Abege, Justice Voice--
Dalam konteks kehidupan remaja seperti ini, membincang posisi remaja Islam menjadi hal yang begitu menarik. hal ini menarik karena, secara normatif, islam tidak mengenal fase remaja, yang ada hanyalah anak-anak dan langsung ke dewasa --aqil baligh-muqallaf-- tanpa melalui fase remaja. Jadi bila seorang anak telah mengalami mimpi basah ;-p bagi yang laki-laki dan datang bulan --haid-- bagi yang perempuan, mereka sudah terkategori dewasa.
Namun dalam konteks sekarang, pemahaman seperti ini tidak serta merta bisa diterapkan begitu saja, olehnya itu dibutuhkan sebuah strategi da’wah yang lebih pas untuk tetap bisa menerapkan pemahaman syari’ah namun juga bisa diterima dalam alam kesadaran remaja sebagai anak nongkrong. Di sinilah rumusan gaul nyar’i menjadi penting untuk dibincang.

Gaul nyar’i yang dimaksud bukanlah sebuah upaya atau semangat untuk merumuskan sebuah konsep syari’ah yang baru, melainkan bagaimana konsep syari’ah dikemas dan disampaikan dalam bahasa yang ringan dan mungkin bahkan nge-punk agar bisa dipahami, dimengerti dan diamalkan oleh para remaja. Bahkan kalau perlu, menjadi pilihan yang cukup strategis untuk mereposisi kelompok-kelompok tarbiyah atau halaqah-halaqah keagamaan menjadi peer group dalam mensosialisasi peer culture yang islami di kalangan remaja.

Untuk melakukan hal ini, maka tentu dibutuhkan kehadiran para da’i yang bisa menyampaikan nilai-nilai syari’ah dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh remaja. da’i-da’i nongkrong tersebut tidak harus risih untuk ikut duduk ngumpul di warkop dan cafe yang menjadi tempat favorit remaja jaman sekarang JJJ.


Muhammad Kasman, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Masa Jihad 2014 – 2018




[i]        istilah anak nongkrong, secara sederhana mewakili kelompok remaja yang suka ngumpul dengan teman sebayanya, kelompok ini seringkali dikenal dengan nama peer group, kelompok remaja ini punya tradisi yang mereka bangun sendiri yang disebut peer culture. secara khusus istilah ini juga mengacu pada remaja yang menjadikan acara-acara MTV sebagai tongkrongan wajib yang berfungsi menjadi sumber nilai dan budayanya.

[ii]       peer group adalah kelompok berkumpulnya manusia yang sebaya dalam usia, biasanya dibentuk oleh para manusia yang terkategori remaja. kata ‘peer’ berasal dari bahasa inggris yang berarti teman sebaya.

[iii]       peer culture adalah budaya manusia-manusia yang sebaya dalam usia, budaya ini biasanya dibentuk oleh para manusia yang terkategori remaja yang tergabung dalam peer group.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar