.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

21/02/15

Kolom : Feminisasi Subjek Ayah

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Ini bukan status soal feminisme. Pun gak bakal menyoal persoalan ketidakadilan gender dalam kehidupan. Terlepas benar atau tidaknya penggunaan judul di atas, yang jelas kata feminisasi sekedar dipakai ala kadarnya di sini. Sebatas menunjukkan adanya kecenderungan yang menjadikan sosok ayah menjadi kelihatan lebih feminim. Kata feminim sengaja dipilih dalam tulisan rada ngawur ini untuk menggantikan kata bencong. Karena faktanya, kata Ayah memang banyak dipopulerkan wangsa waria di Makassar.

Trend sapaan ayah yang makin populer di negeri anging mamiri itu terkesan semakin massif saja utamanya di sosmed. Awalnya saya tidak begitu paham maksud teman-teman di Makassar yang sering menggunakan kata Ayah untuk menyapa. Saya pikir itu sebatas bahasa gaul yang baru trendy. Namun setelah saya membaca berita di salah satu portal berita di kota daeng, saya jadi mengerti bahwa fenomena kata ayah lebih dari itu bahkan telah mengalami pergeseran makna.

Kini kata ayah telah mengalami desakralisasi. Dulu, kata ayah adalah representasi figur yang sangat dihormati bahkan ditakuti. Seorang anak kecil bisa jadi urung niatnya mengambil galah demi mendapatkan buah mangga tetangga hanya dengan ancaman “awas klo nanti ketahuan ayahmu”. Berbeda dengan sekarang di mana ayah telah menjadi figur yang lain. Tidak lagi memiliki arti sebagai Bapak biologis atau ideologis semata melainkan juga sebagai sapaan para banci pada kekasihnya. Tidak jauh beda dengan binatang kesayangan yang harus dimanjakan agar bisa menjadi penjaga yang selalu siap menggonggong dan menggigit di kala ada yang mencoba mengganggu.

Kata ayah juga telah mengalami proses pelembutan. Dulu Ayah itu kesannya sangat gentle dan maskulin. Seorang anak akan selalu membangga-banggakan ayahnya sampai-sampai selalu menjadi sosok pahlawan dalam kehidupannya. Terkadang kita mendegar ungkapan Ayah is my Hero, is the best, dsb. Tapi sekarang kata Ayah cenderung lebih feminim. Bahkan cukup menggelikan. Gimana tidak kedengaran geli, jika anda mendengar di lapangan futsal ada seorang cowok yang bertampang gagah nan atletis tiba-tiba berteriak “ngoper bolanya jangan terlalu kencang, Ayah”. Jika anda cowok normal pasti akan bergumam dalam hati: “sumpah, rasanya pengen lempar muka dia pake sepatu bola”.

Dan jujur saja, saya pun agak terganggu dengan feminisasi kata ayah itu. Meskipun Ayah itu juga kadang bisa sangat lembut terhadap anaknya, tapi tetap saja Ayah itu jauh dari kesan alay apalagi dekat dengan dunia banci di mata saya. Meskipun kadang kawan saya berkata berkata bahwa saya beruntung bisa dekat dan akrab dengan ayah, tapi tetap saja saya sangat takut saat ayah saya marah. Pernah secara tidak sengaja saya menembak adik dengan pistol mainan di saat ayah sedang tidur siang. Saat tangis adik saya pecah, meraung dan mengagetkan seisi rumah sontak Ayah terbangun dan memukul saya. Tidak sampai di situ, saya malah diajak duel dengan badik (senjata tajam khas sulawesi). Karena saya diam dan tunduk saja ditantang olehnya, Ayah kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil parang yang lebih besar yang selalu tergantung di sudut kamarnya. Tapi saya diam saja dan berdiri mematung walau parang itu sudah terhunus di depan mata saya. Dan beruntung waktu itu Ibu saya segera datang menghalangi lalu menggoyang badan saya yang bengong dan menyuruh saya lari dan pergi untuk bersembunyi.

Waktu itu saya bersembunyi di rumah tetangga. Setelah sore saya pulang kerumah dan menghindari kontak mata dengan ayah saya. Tapi saat makan malam, Ayah tiba-tiba memanggil saya dan mengajak makan. Saya nurut saja sambil tunduk dalam-dalam dan diam seribu bahasa. Ayah saya malah senyum dan bilang jangan diulangi lagi yah! Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, saya malah diberi uang jajan sambil mengusap-usap rambut saya. Hadiah yang sangat spesial bagi saya yang nota bene tidak mendapat alokasi dana khusus buat jajan di sekolah sejak SD. Sejak saat itu, saya selalu berusaha menjadi anak baik jika di rumah. Meskipun kadang-kadang jadi anak brengsek saat di luar.

Sejak fenomena bencongisasi Ayah, saya agak geli bahkan merasa alergi jika sesorang memanggil saya Ayah. Ga jauh beda rasanya saat dipanggil sayang oleh seorang yang berkumis tebal berseragam tukang parkir dan berkata: “moter e ojo diparkir disitu. nang kene iki loh, sayang.” Mendengar itu, rasanya seperti mw masukin kepala bapak itu ke comberan.


Jadi plis, jika anda cowok, jangan panggil saya Ayah. okkay!?


Noorwahid Sofyan, jebolan pascasarjana UGM Yogyakarta, berprofesi sebagai dosen dan seorang pengamat budaya.
Share:

1 komentar: