.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

22/03/15

Lajnah Khusus Intelektual Muslimah HTI Sulselbar Gelar Seminar Muslimah

MAKASSAR, TURUNGKA.COM – Lajnah Khusus Intelektual Muslimah Hizbut Tahrir Sulselbar mengadakan seminar nasional bagi para muslimah di aula Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Sabtu (21/03/2015).

Bertemakan “Mengakhiri Serangan Feminis Islam Terhadap Syariah”, seminar ini dihadiri puluhan peserta mulai dari mahasiswa S1 dan S2 serta dosen berbagai perguruan tinggi. Seminar ini bertujuan untuk menyampaikan kepada kaum muslimah akan bahaya paham feminis atau kesetaraan gender bagi para kaum hawa.

Acara dibuka oleh ketua DPD I MHTI Sulselbar dan keynote speaker oleh ketua P3KG UNHAS Dra Hj Rabia Yunus M Si.

Guru besar Fakultas Kelautan dan Perikanan UNHAS, Prof Hj Sutina Made M Si yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan bahwa dalam sejarah kemerdekaan Indonesia melawan penjajah peran muslimah sangat besar.

“Sebelum Islam datang ke Indonesia perempuan hanya dirumah tanpa melakukan perlawanan, namun setelah Islam mulai menyebar di tanah air perempuan mulai berbondong-bondong mengkaji Islam dan ikut andil dalam perjuangan melawan penjajah” tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPD I MHTI Sulselbar, Rachmawati SE Ak juga memaparkan tentang sistem sosial Islam yang unik dan tangguh landasan sistem sosial Islam berlandaskan pada akidah Islam dan mengesampingkan hawa nafsu, disinilah letak keunikan sistem sosial Islam.

“Islam datang untuk memuliakan manusia termasuk wanita, peran wanita dan laki-laki dibutuhkan untuk saling melengkapi bukan untuk disetarakan. Jadi paham feminis seharusnya tidak dibiarkan merasuki pemikiran kaum muslimah yang merupakan jantungnya keluarga yang menentukan kualitas generasi” ungkapnya.

Dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Ir Retno Sukmaningrum MT selaku narasumber mengatakan bahwa paham feminis merupakan motif kapitalisme untuk menyerang muslimah dan syariah. Bahkan menurutnya, UNwomen dan PBB adalah proyek penjajahan lewat program gender dan proyek tersebut telah diikuti oleh Indonesia, terbukti pada pemerintahan Jokowi ada 8 menteri perempuan yang bertarung di ranah politik.

“Tidak ada negara yang berhasil mencapai kesejahtraan gender, justru malah menjadikan perempuan mesin pencetak uang, tingginya tingkat perceraian, dan terciptanya generasi yang rusak” tutupnya. (ist/kdm)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar