.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

07/05/15

Dari Sunrang Jadi Universitas Panrannuang

TAKALAR, TURUNGKA.COM - Pendidikan adalah kebutuhan dasar manusia, setiap orang punya hak merengkuhnya setinggi mungkin. Lalu bagaimana jika kebutuhan hidup itu tidak dapat dipenuhi hanya karena faktor ekonomi atau sekedar pandangan orangtua yang terlalu sempit?

Kondisi inilah yang melatarbelakangi Dra. Hernia Sultan mengabdikan diri di dunia pendidikan. Baginya, pendidikan adalah hak semua orang tidak boleh ada sesuatu hal pun yang dapat merebutnya.

“Semua orang harus diberi kesempatan untuk terdidik, tidak kenal apakah dia miskin atau kaya”. Tegas Hernia. Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan ini masih banyak orang yang terkendala.

Lahirnya Universitas Panrannuang Takalar adalah buah kegelisahan ibu tiga orang anak ini. “Saya melihat di Takalar, faktor ekonomi memang menjadi salah satu biang keladi pendidikan itu tidak dapat dipenuhi, maka di Universitas Panrannuang ini saya membuat kebijakan untuk memberi kemudahan dalam hal pembayaran.”

“Selain biaya yang tidak mahal, kami juga memberikan kemudahan agar tidak terlalu membebani, mahasiswa dapat mencicil uang semesternya.” Jelas Rektor Universitas Panrannuang Takalar ini.

“Namun hal lain yang juga penting adalah paradigma orangtua yang masih menganggap pendidikan sebatas pelengkap kehidupan semata, tidak rela anaknya untuk jauh-jauh kuliah sampai keluar daerah, maka kami antarkan mereka sekolah, universitas yang dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat Takalar”. Jawabnya menanggapi kendala pendidikan yang dihadapi masyarakat Takalar.

hernia punya cerita perihal kampus yang berdiri di daerah Cangrego itu, “Membangun sekolah tinggi atau universitas adalah cita-cita saya yang sejak lama saya pendam, makanya ketika suami saya dulu datang hendak meminang saya, syaratnya cuma satu, tanah 1 hektar sebagai sunrang.”

“Itu saya proyeksikan membangun universitas ini, dan Alhamdulillah dulu sunrang (mahar), sekarang Universitas Panrannuang,” ungkapnya mengenang masa silam yang indah.

“Membangun universitas ini bukan tampa kendala. banyak sekali, terutama dari keluarga, keluarga pada awalnya tidak begitu respek dengan ide saya ini, namun setelah melihat progress pembangunan dan antusiasme mahasiswa yang sudah ratusan itu akhirnya mereka pun luluh meski masih malu-malu mengakuinya” sambung wanita paruh baya itu.


Kini wanita berparas manis itu hanya mengharapkan dukungan dari banyak pihak terutama masyarakat Takalar agar dapat memberikan kepercayaan kepada universitas yang ia rintis, pula kepada pemangku kepentingan agar dapat memberikan perhatiannya yang lebih lagi. (idm/kdm)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar