.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

03/06/15

Agum Gumelar dan Yenny Wahid Dukung Kelas Negarawan Muda

JAKARTA, TURUNGKA.COM  – Jenderal Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Agum Gumelar dan Yenny Wahid, putri mantan Presiden Gus Dur, bicara dalam Kelas Umum Wawasan Kebangsaan yang diadakan oleh Kelas negarawan Muda pada 22 Mei 2015 lalu.

Kehadiran dua tokoh ini merupakan rangkaian Kelas Negarawan Muda (KNM) angkatan 1 yang diadakan di SMA Labschool Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. KNM sendiri adalah inisiatif yang mengajak para pelajar untuk berwarganegara sekaligus berpolitik dengan jujur dan berintegritas. Inisiatif ini dimotori oleh puluhan relawan yang tergabung dalam Gerakan TurunTangan.

Agum mengapresiasi kehadiran kelas ini sekaligus berpesan mengenai tiga kriteria pokok pemuda untuk menjadi seorang negarawan, antara lain jiwa nasionalisme, disiplin, serta daya saing. "Negarawan adalah orang yang semua pikiran dan tindakannya berorientasi bagi kepentingan bangsa dan negara," tutur Mantan Menteri Perhubungan dalam kabinet Megawati Soekarnoputri itu.

Ia juga menambahkan pentingnya anak muda untuk terlibat aktif menjadi warga negara. “Kita butuh anak-anak muda yang peduli dengan bangsa dan mau melakukan sesuatu seperti apa yang dilakukan oleh teman-teman Relawan Kelas Negarawan Muda," ujarnya.

Pada acara yang dihadiri lebih dari 250 siswa Labschool ini, Agum juga bercerita pengalamannya menjalankan operasi militer di Timor Timur. Dalam operasi tersebut ia memilih menjalankan dengan cara damai, yakni merangkul lawan dan mengajak bergabung dengan Indonesia.

“Kita coba ajak mereka untuk bergabung (dengan Indonesia)," ucap mantan Menteri Koordinator bidang Politik, Sosial, dan Keamanan era Presiden Gus Dur tersebut.

Tak hanya Agum, putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, juga hadir dalam acara ini. Mantan wartawan di Timor Timur itu mengungkapkan tantangan Indonesia saat ini lebih besar. Menurutnya generasi muda Indonesia saat ini berhadapan dengan tantangan digitalisasi.

"Yang paling utama, kita sedang perang gagasan di perangkat media. Batasan di dunia semakin kecil tetapi tantangan makin besar. Makanya, kita harus memperkuat ketahanan kita melalui nilai-nilai Indonesia,” jelas wanita kelahiran Jombang, 29 Oktober 1974 itu.

Selain mengungkapkan pemikiran-pemikiran mengenai nasionalisme, Agum dan Yenny juga merasa terbantu dengan gerakan KNM. Mereka optimistis KNM dapat merangkul generasi muda untuk bersama-sama menyumbangkan aksi dan pemikiran untuk Indonesia.


"Saya dukung aktivitas kalian sepenuhnya," tutup Yenny sumringah. (ist/kdm)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar