.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

07/08/15

Puisi: Kupeluk Adinda Di Sujud Terakhirku

Tengah malam sunyi, saat saudaraku sedang asyik menikmati istirahnya.
Ku berada dalam bilik gubukku bersujud-semedi melakukan tapa-cipta.
Menyeru pada Tuhan, meminta pada malaikat,mengajak malam sunyi untuk pengujud cita.
Seruan dan lantunan mantra-mantraku kuucap serius lalu kuhantarkan lewat angin malam seraya menggelapkan bencimu, menakuti mimpimu dan menggetarkan hatimu.

Lalu aku berada dalam jelmaan penguasa angin, dewa guruh yang siap mengamuk menumbangkan pepohonan angkuhmu, bersekutu dengan halilintar menyambar kian-kemari ego hatimu.

Saat denting mulai bergumam, Aku hijrah menjadi dewa cinta bagimu.mengusik hidupmu, kau tak hirau lagi pada siapa, seakan aku merajai hidupmu, memilihku seutuhnya dan melupakan yang lainnya.

Mantra yang kulantunkan dalam sujud terakhirku menukik tajam membungkammu, mencari darah sebagai tumbal dalam ritual percintaanku, hingga akhirnya Adinda terbangun bertafakkur duduk bersila, mencoba menguatkan hati menahan duka nestapa yang menimpa.

Adinda pun mulai merasa resah-gelisah. Kobaran api cinta mulai menggelora, menjadi gila disebabkan karena cinta, hingga akhirnya kau tak mampu berdiam-suka.

Makassar, 7 Agustus 2015


Damar Al-Manakku', Ketua Umum Pimpinan Anak Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muslimin Indonesia angkatan 2013

Share:

0 komentar:

Posting Komentar