.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

13/08/15

PAKEM Membuatnya Tidak Lagi Merasa Sendiri

WAJO, TURUNGKA.COM - Muhammad Ferry Ardiansyah adalah siswa  yang sedang belajar di SDN Muhammadiyah Sengkang.  Wajahnya putih,  perawakannya lumayan tinggi  untuk seumurnya. Sekilas tidak ada yang aneh pada dirinya, Namun ia  salah satu siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut. Ia  penderita autis, yang  seringkali  tindak tanduknya tidak terduga.

“Kadang kalau datang marahnya,  susah sekali dikendalikan,” ujar ibu Astuti Asriani, mantan guru kelas II-nya.

Kala berangkat ke sekolah,  Nurhadiyah  Baso neneknya selalu mengantarnya. Ferry  tidak mau sendiri. Nenek yang setia ini dengan sabar mendampinginya mengerjakan tugas-tugasnya dan menjadi tutor  di samping guru pengajar kelas. Karena rajin temani cucunya dan sering menjadi guru pendamping,  dia diangkat menjadi salah satu pengurus paguyuban di salah satu kelas di SD Muhammadiyah.

“Waktu kelas satu sampai kelas tiga,  kalau istirahat, seringkali dia langsung pulang. Butuh kesabaran dan ketelatenan untuk menghadapinya,” kata Ibu Sundarsani, guru kelas III yang juga pernah menanganinya.

Waktu pembelajaran sebelum  model PAKEM yang dikenalkan USAID PRIORITAS,  yaitu pembelajaran yang lebih menekankan model ceramah, otomatis teman belajarnya adalah neneknya sendiri. Ia tidak bergaul dengan teman-temannya, asik terus dengan dirinya sendiri dan neneknya.
 “Ia sudah bisa membaca semenjak kelas satu, tapi kalau menulis ia tidak mau. Sehingga neneknya lah yang sering menuliskan tugas-tugas untuknya. Keterikatan dengan neneknya begitu kuat, “ ujar Ibu Astuti Ariani, guru kelas II.

Sekolah ini mulai dipilih jadi mitra USAID PRIORITAS pada tahun 2013, saat  Ferry sudah masuk kelas II. Bu guru Astuti Ariani yang ikut pelatihan, mencoba  menerapkan model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)  ini di kelas.  Ia mengajar dengan banyak  interaksi dengan siswa, melayani individu dengan lebih baik, dan menerapkan tugas kelompok dan individu. Awalnya Ferry  susah bergabung dalam pembelajaran berkelompok, namun secara perlahan, karena pembelajarannya menyenangkan dan guru sabar melayaninya, ia mulai percaya diri dan  bisa bergabung dengan  kelompoknya. 

Bahkan dia amat senang dengan teman-teman kelompoknya. Dia merasa akrab dan karena sebenarnya berasal dari keluarga yang cukup berada, dia sering traktir teman-temannya.  Dia  mengambil krupuk, langsung dibagi ke teman-temannya sekelompoknya.

Petugas kantin mencatat dan melaporkan ke orang tua apa – apa yang telah diambil untuk teman-temannya. “Dia menjadi lebih bisa bergaul, dan tidak suka menyendiri lagi seperti dulu, temannya hanya neneknya,” ujar ibu Astuti.

Saat ini Ferry Ardiansyah sudah kelas IV, walaupun kadang masih pulang sebelum waktunya, dia sudah semakin tahu perannya dalam kelompok. “Pada waktu memajang hasil karya, ia sering membantu teman-temannya memajang, menempelkannya, bahkan kalau teman salah, ia bilang  disini tempatnya. Dia juga sudah percaya diri tampil ke depan membantu presentasi,” cerita ibu Subaedah dengan antusias, wali kelas IV yang baru tiga minggu menanganinya.

“Pembelajaran PAKEM dengan berkelompok telah menumbuhkan rasa percaya dirinya, membuatnya tidak lagi merasa kesepian, dan memupuk pula solidaritas dirinya dengan teman-temannya. Kalau pembelajarannya model ceramah terus seperti dulu, pastilah dia akan terus menerus  terisolasi dan akan cuma berinteraksi dengan neneknya yang selalu setia menemaninya,” ujar Astuti Asriani, mantan guru kelas II.


Laporan: Mustajib (USAID PRIORITAS – Provincial Communication Specialist – South Sulawesi)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar