.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

16/05/17

Sapardi Djoko Damono Semangati Penyair Muda Takalar

MAKASSAR, TURUNGKA.ID. Pada selasar senja yang teduh, sebuah pertemuan kecil justru menghadirkan bahagia yang banyak. Begitulah efek, bila pujaan hati yang selalu didamba, akhirnya datang bertamu di halaman jiwa yang sudah sangat lama merindunya dalam akut bahkan mautnya.

Sore itu, Selasa (16/05/2017) tiga penyair muda asal Takalar berkesempatan untuk mendekat, mengakrabkan salam, lalu meminta diri abadi bersama Sapardi Djoko Damono. Ya, Sapardi! Sapardi, sang maestro sastra tanah air.

Dinding-dinding Rumata Art di Makassar pun, ikut bersaksi. Begitu pun, desiran angin, bau tanah juga imajinasi rasa yang bermain-main pada setiap sanubari pengunjung benteng tua itu. Ketiga penyair itu seperti menerima luapan bahagia. Ya, luapan bahagia yang berasal dari rasa terdalam yang bernama terima kasih.

Dalam diam dan senyumnya yang ringan, Sapardi menyemangati ketiga penyair itu.

"Anak muda, mencintai kata-kata itu, tidak berarti kalian mencintai kehidupan. Banyak orang yang kegirangan dengan membaca kata-kata mutiara lalu mempublikasikannya dengan #satutujuan ; aku adalah ketersanjungan oleh pujianmu yang dangkal"

"Sementara bila engkau mencintai kehidupan, maka kata-katamu dapat menggerakkan banyak orang menuju kehidupan yang lebih indah," tafsir Ahmad Rusaidi terhadap bahasa senyuman Sapardi.

"Anak muda, jangan sekalipun kamu jatuh cinta pada hujan bulan juni, dengan sanubari yang keliru. Sebagaimana keadilan hukum dapat dicederai oleh pengadilan sesat. Sebagaimana pancasila yang bisa dimanipulasi untuk mengekalkan kuasa. Sebagaimana #agama yang kadang dikadali untuk menyembunyikan kebenaran dan kesuciannya yang sejati,"

"Jujurlah untuk mencintai hujan bulan juni. Karena agama, pancasila juga hukum yang diamalkan dengan lurus meniscaya dunia yang berkebahagian," tafsir Isbah Wahyuddin terhadap diamnya Sapardi.

"Anak muda, karena syair maupun puisi bukanlah kitab suci yang sempurna, maka beriman padanya haruslah hati-hati. Seperti ajaran kitab suci yang tak mampu lagi membendung ketunaan akan etika dan keadaban,"

"Maka sudah menjadi tanggung jawab kalian sebagai  penyair muda, untuk menjadikan syair dan puisi sebagai kekasih kemanusiaan untuk melawan kebencian, kemunafikan juga ketidakadilan sosial-kultural," tafsir Rustam Daeng Pasang terhadap kata hati tongkat Sapardi.

Sungguh, karena pada seluruh sikap penyair adalah puisi dalam perbuatan, maka tafsir enigmatik ketiga penyair muda Takalar ini boleh jadi merupakan cara untuk menyegarkan dunia kesusastraan kita. Syukur-syukur, bisa merambah hingga dunia kebudayaan yang bernama Indonesia.

"Sapardi bilang ke saya,  penulis itu harus tekun,  itu aja.  Bakat bukan soal, pokoknya tekun menulis" terang Rustam.  (zdr)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar