.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

06/08/17

Puisi Minggu

Ilustrasi: Foto: Matakita
1. Anak-anak itu tengadah


 Kita membiarkan waktu perlahan pergi
seperti air yang perlahan mengering di sawah depan rumahmu
yang dulu aku suka ke sana membawa perahu kertas, lalu kita
sama-sama mengibaskan air setelah perahunya berlayar meninggalkanku, dengan harapan
di tengah sawah perahunya perlahan mandam.

hatimu memang tak pernah menjadi rumah kebencian
sebab bagimu hidup ini hanya sementara
seperti yang di derita anak-anak
mereka kehilangan kebahagiaan
di usianya yang perlahan melawan

kita tidak bisa apa-apa
di hati kita, kehilangan memang membuat resah
anak-anak itu tengadah ke langit
tatapan langit kosong
tak akan turun hujan
belum gelap awan. Makassar, 30 Juli 2017


2. Jika saja waktu bisa menjadi payung

Hatimu bukan buku
jadi tak bisa kubaca
apa yang telah kau rencanakan butuh perhatian
apa yang kita jaga bukan milik kita
bukan miskin rasa, hanya saja masalalu
selalu menjadi anak kecil, butuh kau perhatikan

jika saja waktu bisa menjadi payung
aku ingin di bawah kerumunan hujan
memakai payung
lalu berjalan di jalan yang lengang
di jalan yang kulalui
tampak seorang anak menggigil di depan rumahnya
ibunya memanggil dengan sarung di tangannya
aku terus berjalan dengan payung di tangan

kulihat air mulai tinggi
air menyelimuti jalan yang kulalui
tak ada lagi bekas kaki. Makassar, 30/7/2017



Penulis:
Nama: Daeng Pasang
dapat dijumpai di Twitter dengan nama akun @RustamDP.




Share:

0 komentar:

Posting Komentar