.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

21/12/17

Porseni Musim Hujan di Takalar

Takalar, TURUNGKA.ID. Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) merupakan kegiatan rutin setiap sekolah paska pelaksanaan ujian semester. Kegiatan porseni selalu disambut sukacita kaum pelajar di Indonesia termasuk di Takalar.

Menurut Firmansyah, ketua OSIS SMAN 5 Takalar yang ditemui Kamis (21/12/2017) bahwa antusiasme pelajar mengikuti kegiatan Porseni memang sangat tinggi. Baginya, hujan yang mengguyur tanpa henti saat ini justru makin membuat peserta lomba Porseni makin bersemangat.

"Kalau hati sudah senang dan bergembira, hidup merupakan perayaan kemerdekaan jiwa. Pakaian dan tubuh yang basah oleh hujan dapat melahirkan energi untuk memenangkan kompetisi," terang siswa kelas XI MIA ini.

Sementara dalam pandangan Ustad Ahmad Rusaidi yang dihubungi secara terpisah bahwa kita perlu mencermati secara cerdas psikologi siswa yang mengikuti porseni. Menurutnya, boleh jadi kegembiraan mereka tidak otentik. Mereka menjadi bersenang ria sejatinya hanyalah sebentuk balas dendam terhadap proses belajar yang kering makna dan hampa kebahagiaan.

"Coba perhatikan, ekspresi beberapa siswa yang mengecat rambutnya hingga begitu norak pada saat defile antar kelas. Ataupun cara berpakaian yang sangat tidak etis ketika pawai pembukaan. Hal itu sudah menjadi bukti nyata, bahwa terlalu lama kita memelihara kekeliruan dalam proses pendidikan di daerah ini," terang pengurus Agupena Takalar tersebut.

Solusi yang cerdas pun coba ditawarkan Saharuddin, M.PdI tenaga pendidik di SMAN 12 Takalar. Menurutnya, anggaran ratusan juta yang beredar selama Porseni baik dari tingkat SD, SMP hingga SMA baiknya digunakan demi peningkatan kualitas fasilitas pendidikan maupun beragam aksi sosial.

"Bila siswa membeli baju dan aksesoris Porseni Rp. 100.000 per orang, sementara siswa  seluruh jenjang di Takalar lebih dari 20.000 maka dana yang menguap setiap Porseni berlangsung lebih dari seratus juta," urainya guru Pendidikan Agama Ini.

"Dana ratusan juta bila dianggarkan buat mendukung program literasi melalui penyediaan buku-buku bermutu tinggi tentu akan memiliki arti yang lebih positif. Demikian pula, bila dana tersebut dimanfaatkan buat kaum fakir, tentu saja akan berimplikasi pada terbentuknya karakter gotong royong dalam jiwa setiap pelajar," pungkasnya secara meyakinkan. (zdr)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar