.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

29/03/18

Huru Hara

Sebuah Puisi
Oleh : Damar I Manakku

Pada tubuh gigil ini di desar kali aku menyelam batu cadas.
Apa guna aku ini? Di bawah tilam, kata-kata tiada daya bersuara.
Secawan air mata tuang di peluh keringat darah.
Aku masih sibuk dengan rindu, rekreasi dan urusan putus cinta.
Sementara saudara diluar sana berpeluh di jalanan, ditembak gas air mata, dihantam pentungan, diludahi satpol pamong, disumbat mulutnya sampai digiring ke penjara.

Apa guna aku ini? Suara puisiku hanya menjelma jadi alat orgasme,
Menghanyuti perawan-perawan hingga mati penasaran, sementara para wakil rakyat menutup mata persoalan, bahkan suara kritik dianggap jadi benalu, sedang teriakan demokrasi dianggap  sejarah usang di negeri ini.
Belum usai Bung.

Apa guna aku ini? Sibuk kemana-mana bicara kemanusiaan, bicara cinta, bicara tentang air mata, bicara masa depan penyairan, sementara tulisan pamflet di meja kuasa dibakar, dirobek hingga hanya menjadi abu-abu beterbangan.
Lalu aku diam saja? Aku duka Bung.

Apa guna aku ini? Helatan pesta dan pertunjukan memakan biaya besar, melakonkan sandiwara tentang kisah cinta, sementara suadara-saudaraku dibunuh di medan laga, air mata perjuangan tumpah bagai hujan, sedang penguasa semaunya mengajak kelahi, dengan kekuatan senjata dan sekutu pengaman paling tak tahu diri.

Apa guna aku ini? Manusia paling lugu sepanjang hidup, sibuk memikirkan masa depan, sementara masa depan anak-anak di tangan para rentenir, utang merajalela di tangan-tangan asing, bahkan menjual pulau adalah kunci menalangi utang, yang mustahil lunas sampai kiamat.

Apa guna aku ini? Bertamasya kemana saja.
Sedang manusia dikurung baja, menulis cerita indah sedang cerita air mata tiada guna.

Aku menuju sejenak keluhku pada malam yang belum kusebut teman sepi, padahal sejatinya malam ini adalah pesta gemintang dan bulan purnama, wasiat dalam kamarku adalah peluh di jalanan, sekawan dengan binatang jalang, luka-luka menganga di antara hati yang belum tiba pada tawakkalnya.

Aku ingin menulis puisi terakhirku dengan turun ke jalan raya, mengibar bendera saka, menyanyikan lagu-lagu juang, bersumpah sarapa melawan para bedebah negeri ini. Damar I Manakku.  Makassar, 28 Maret 2018

Share:

0 komentar:

Posting Komentar