.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

26/03/18

Mengaji Pluralisme Agama di Akhir Pekan

Makassar, TURUNGKA.ID. Sekaum generasi milenial di Makassar menggelar menggelar pengajian akhir pekan, minggu (25/03/2018) bertempat di Cafe Educorder, Jalan Pendidikan Makassar. Pengajian itu diselenggrakan atas kerja sama PW Pemuda Muslimin Indonesia Sulawesi Selatan dengan Educorner Community. Denga mengusung tema Islam dan Pluralisme Agama dengan pemantik tunggal diskusi Arhanuddin Salim, Ph.D penerima fellowship program Partnership in Islamic Education Schoolship (PIES) Australian National University (ANU) pada tahun 2016 lalu.

Dalam pemaparannya, bung Arhan begitu ia disapa, menjelaskan bahwa wacana pluralisme agama pertama kali harus didudukan pada alas historitas yang melatarbelakangi kelahirannya. Menurut dosen IAIN Manado ini, pluralisme lahir dari rahim peradaban Eropa dan tidak pernah dikandung oleh studi Islam pada masa lampau.

"Oleh karena pluralisme bukan produk 'genuine' pemikiran Islam, maka amatlah wajar bila pluralisme sering dipahami. Puncak kesalahpahaman tentang pluralisme diwujudkan dengan terbitnya fatwa haram MUI tentang pluralisme. Dengan fatwa itu, MUI seolah kian menegaskan dirinya sebagai kelompok konservatif penjaga moral agama dari masa lalu," urainya sambil tersenyum.

"Nasib pluralisme, memang tak seindah nasib toleransi maupun demokrasi. Bila toleransi dan demokrasi dapat diterima sebagai bagian integral keyakinan muslim kontemporer, namun pluralisme dianggap sebagai titik tumpu menuju kemusyrikam bahkan kekafiran," jelasnya secara menarik.

"Pada sisi lain, pluralisme agama perlu juga disikapi secara kritis dan cerdas. Pluralisme agama, hanyalah sebuah bagian dari obsesi besar gerakan pluralisme di bidang politik, ekonomi dan budaya. Beranikah Anda menjadi seorang yang pluralis, yang menghormati kelompok minoritas seperti LGBT? Tegakan Anda menjadi seorang pluralis muslim, ketika anak anda ingin berpindah agama, Anda pun mengucapkan selamat menempuh kebenaran yang baru?" tanyanya secara retoris.

Pada sesi tanya jawab dengan peserta pengajian, muncul beragam pertanyaan konfirmatif, tanggapan kritis, maupun sanggahan bernas. Beberapa pernyataan yang sempat dicatat awak turungka yang juga jadi peserta diskusi yaitu soal perbedaan pluralisme dan multikulturalisme, teologi Islam yang lahir sebagai respon untuk menjawab tantangan eksternal seperti wacana filsafat sekaligus kedudukan teologi yang bertujuan menafikan dan menyingkirkan paham keagamaan yang berbeda.

Selain itu, pendapat yang muncul juga mengetengahkan tesis Karen Amstrong soal "compasion" sebagai hulu kebersatuan agama-agama di dunia ini serta kemungkinannya digunakan sebagai jalan kebangkitan spiritualisme agama untuk mencerahkan peradaban milenial. Juga munculnya pendapat seputar cara berdakwah Zakir Naik dan sekolah selamat pagi Indonesia dalam wacana pro dan kontra terhadap pluralisme agama.

Dengan penuh semangat dan dedikasi, Bung Arhan pun menyampaikan respon sebagai berikut.
"Pluralitas adalah realita yang nyata bahwa dunia manusia sangat beragam, baik dari suku dan bangsa yang berbeda, bahasa yang amat bervariasi maupun keyakinan agama yang berwarna warni. Jadi pluralitas adalah fakta sunnatullah yang tak terbantahkan," urainya.
"Pluralisme adalah paham yang menghargai pluralitas. Pluralisme merupakan ruang imajinasi publik agar seluruh identitas kemanusiaan bisa saling menghormati dan berbagi demi kepentingan semua. Pluralisme mengajarkan betapa pentingnya kebersamaan dalam perbedaan dan betapa indahnya perbedaan dalam kebersamaan," terangnya.

"Sementara itu, multikulturalisme merupakan antitesa dari wacana pluralisme. Bila pluralisme mengandaikan terbangunnya kesepahaman yang empatik dan egaliter, maka multikulturalisme justru berpendapat bahwa harmoni sosial adalah sebuah ilusi tanpa perjuangan kelompok minoritas yang selama ini disingkirkan kelompok dominan. Pluralisme itu ranahnya kajian akademik dan khotbah politik, sementara multikulturalisme merupakan sikap keberpihakan politik kepada mereka yang dipinggirkan rezim status qua," jelasnya.

"Untuk menerima sekaligus membangun paradigma kritis tentang pluralisme, maka mahasiswa Indonesia harus belajar filsafat. Dengan berfilsafat kita akan sanggup memiliki level berpikir yang tak akan mudah dibodohi kaum politisi oportunis. Menjauhi bahkan meninggalkan filsafat merupakan kecelakaan paling tragis selama Anda menjadi mahasiswa," sumpahnya penuh kebenaran.

"Kesolehan beragama itu bukan soal ibadah semata. Makanya telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa semakin soleh muslim beribadah maka mereka justru makin radikal dan distoleran. Karena itu, belajar agama yang benar adalah belajar agama beserta seluruh dimensi kesejarahan agama itu sendiri," yakinnya.

"Anda harus tahu, bahwa agama memiliki dua dimensi yang saling bertolak belakang, yaitu dimensi substansi agama maupun dimensi politik agama. Motif beragama untuk saling menumpahkan darah sehingga menyebabkan lahirnya sungai air mata dan samudera penderitaan maka itulah dimensi politik agama yang paling purba. Sementara itu, substansi agama selalu berarti transformasi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Perjuangan memberantas korupsi, pengorbanan meruntuhkan rezim berhala yang menuhankan modal maupun pencerdasan umat beragama soal kesenangan sosial maka disinilah ruang beragama yang paling substansial," tutupnya. (zdr)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar