.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

21/02/19

Sedekah Politik Masyarakat Milenial

OPINI, TURUNGKA.COM - Politik hari ini sah jadi urusan anak muda. Sejumlah caleg beserta pendukungnya diisi kalangan milenial. Calon pemilih turut berbagi halaman linimasa mereka dengan dukungan bahkan cibiran pada sosok tertentu. Kontribusi ini tentu menjadi sedekah bahkan berujung fitnah/hoax tanpa kredibilitas informasi.

Politik partisan tanpa bayaran siap mendukung caleg tertentu. Entah itu dari kalangan keluarga, teman, kerabat ataupun sebatas jagoan. Termasuk pilihan politik untuk calon Presiden dan Wakil Presiden (paslon 01 atau 02).

Tapi, bila kaum milenial ini minus kemampuan menginformasi segala postingan kampanye yang mereka sebar (literasi digital) tentu dampaknya akan buruk. Bisa jadi fitnah.

Sejumlah ahli dan peneliti menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini. Pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua.

Dalam rilis katadata.co.id, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hampir separuh total pengguna internet di Indonesia adalah masyarakat dalam kelompok usia 19-34 tahun (49,52%). Sementara pengguna terbanyak ke dua usia 35-54 tahun  (29,55%). Kelompok ke tiga usia 13-18 tahun (16,68%), dan pengguna diatas usia 54 tahun (4,24%). Dilansir dalam laman katadata.co.id (02/02/2019).

Generasi milenial saat ini, mereka yang berusia kisaran 19-38 tahun. Sekarang kaum digital ini sebagian  berperan sebagai mahasiswa, masyarakat produktif dan pemuda pengangguran. Mereka aktif dan menghegemoni media sosial dewasa ini.

Sebagai pabrik informasi, media memiliki peminat yang tinggi. Utamanya tokoh yang bertarung memperebutkan kekuasaan. Pengeksplotasian media demi mendulang suara. Pun sebagai alat untuk memberangus lawan politik, tak terhindarkan.

Berbagai isu yang tampil secara nasional, seperti pembelahan dengan politik identitas, isu ekonomi, dan isu Tenaga Kerja Asing (TKA) merugikan dan menguntungkan paslon 01 dan 02.

Dengan kepentingan yang terselubung ini membuat media menjadi arena dan lahan produksi hoaks.

Sisi buruk/baik tokoh politk akhirnya menjadi komsumsi publik setiap hari. Pengaruhnya besar. Jika pembaca meyakini kebenarannya tanpa melalui pengkajian yang sistematis. Persepsi dan penilaian (baik/buruk) tokoh politik dapat diruntuhkan dan di belokkan setiap saat yang berimplikasi pada kondisi anomali dan nihilis. Sungguh kebingungan yang amat dalam.

Budaya meneruskan dan membagikan postingan kampanye oleh partisan telah berlangsung sampai hari ini. Cemoohan dan olok-olokan mewarnai kolom komentarnya. Kalau bukan dari kaum kecebong pasti dari kaum kamvret.

Budaya cemoohan sangat bertentangan dengan nilai moral bangsa kita. Benih-benih konflik tersebut mengancam persatuan. Tak ada jaminan berakhirnya tahun politik budaya dungu ini pun akan menghilang.

UU ITE rupanya tidak menjadi ancaman bagi masyarakat milenial.

UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE Pasal 28 ayat 2 yang berbunyi “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan”.

Ketentuan sanksi pidana ini diatur dalam UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE Pasal 45 ayat (2) yang berbunyi “setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)”.

Melihat kemuliaan pasal ini untuk mencegah permusuhan, kerusuhan, atau perpecahan akibat berbagai sedekah informasi yang tak akuntabel, tidak sepantasnya untuk di khianati.

Mari berdemokrasi degan cerdas dengan memahami literasi degan baik.

Penting mengkaji informasi agar perkiraan sedekah bukan jadi fitnah. Mengharap pahala, namun malah dosa fitnah. Jika kita tidak sadar sekarang, begitupun kemungkinan pembaca yang lain. Tak ada yang menjamin mereka akan mengkaji sebelum ikut pula mensedekahkan.

Arisnawawi. Mahasiswa Sosiologi FIS UNM, Pegiat literasi Ruang Tulis dan Edu Corner.
Share:

3 komentar: