.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

12/03/19

Syahibatul Hamdi, Kepala Dusun yang Peduli Pendidikan

BARRU, TURUNGKA.COM - Syahibatul Hamdi namanya, Kepala Dusun Manuba, Desa Mabuba, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru ini berniat tuntaskan buta aksara di daerahnya.

Mengapa niatan itu muncul, tak lain didorong oleh rasa prihatin serta komitmen seorang pemuda yang merasa bertanggungjawab atas kemajuan daerah dan warganya.

Badan Pusat Statistik pada  2017 mengungkap bahwa jumlah masyarakat yang buta aksara di Kabupaten Barru , tergolong masih tinggi termasuk di dusun Manuba.

"Di dusun Manuba ini, fasilitas pendidikan formal sangat minim, sementara jarak Manuba ke kota juga lumayan jauh sehingga generasi muda Manuba kesulitan memgakses institusi pendidikan." Terang Hamdi.

Persoalan ini menggerakkan hati Hamdi yang juga Direktur lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) HMI MPO Cabang Barru, membentuk komunitas literasi.

“Penduduk cenderung konsumtif, cari uang dan sebagainya ketimbang fokus pendidikan. Jadi, kami memberikan sedikit pencerahan kalau pendidikan itu penting,” katanya kepada, Selasa (12/03/2019)

Menurutnya, idenya ini sudah muncul sejak tahun 2018, tapi baru bisa terealisasi di awal tahun ini.

Dengan mengacu ke data BPS, Hamdi mengajak masyarakat merealisasikan ide soal pembentukan sekolah nonformal khusus masyarakat Dusun Manuba dalam Program Penuntasan Buta Aksara.

"Sasaran program ini adalah anak-anak, pemuda, bahkan orangtua usia lanjut. Diajarkan membaca dan menulis, sedangkan pemuda diajarkan mengelola, dan orangtua di ajarkan membaca serta menghitung." Terang Hamdi.

Lanjutnya, “Melalui program ini, kami juga dapat membentuk perkumpulan pemuda dengan nama Ikatan Remaja manuba. Mereka nantinya dapat berdiskusi soal upaya pengembangan pendidikan di Manuba.”

Pasca dilantik sebagai kepala dusun, ia memanfaatkan momentum ini sebagai upaya pencerdasan masyarakat. Kolong rumahnya pun menjadi pusat belajar mengajar, serta direnovasi menjadi perpustakaan mini.

“Kalau mau mulai kelas, nantinya kita beri waktu anak-anak dan pemuda untuk membaca buku. Setelah itu, bersama-sama kita mendiskusikan bacaan. Yang biasa juga memancing pemuda mengutarakan aspirasinya soal tata kelola desa, serta orang tua kita fokuskan pintar membaca terlebih dahulu." Terangnya lagi.

Sekolah nonformal ini bekerjasama dengan  Dinas Pendidikan Kabupaten Barru dengan mengikutsertakan peserta didik pada ujian paket, setara dengan sekolah formal bagi peserta didik yang putus sekolah. (sab/kdm)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar