.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

12/05/19

Mimpi Buruk Sul-sel Jadi Ibu Kota Negara

OPINI, TURUNGKA.COM. Mataku seketika melotot dan bibir saya tersenyum mengejek seakan otak ini sudah meberi sinyal kepada sang bibir untuk melaksanakan mimik itu ketika melihat berita disalah satu stasiun televisi swasta dengan wacana Sul-sel sebagai ibu kota negara dengan membandingkan kondisi Makassar yang sakarang.

Pusat pemerintahan,kaum elit,hiburan malam,Macet,gedung pencakar langit,TPA, dll.
Yahh...pemikiran saya sekejap terhipnotis oleh kata diatas setelah mendengar ibu kota negara dipindahkan ke-sul-sel.

Iklan sirup tiba-tiba menampakkan dirinya dilayar tv dan membangungkan saya dari hipnotis tadi, iklan muncul menandakan berita itu sudah usai dipublikasikan dan menandakan pula kita sudah berada dibulan ramadhan.

Degan waktu yang bersamaan bola mata khas indonesia ini degan warna hitamnya kembali normal dan tidak melotot keheranan lagi,tapi tidak dengan pemikiran ini yang tidak hentinya berpikir setelah melihat berita tadi, dimanakah nantinya istana negara dan pencakar langit itu akan dibangun ketika wacana itu terealisasi? Dalam benak saya.  

Akankah pembangunan berada dikampung saya yang terdapat dipinggiran kota?(Galesong Kab Takalar) karena makassar tidak memiliki lahan kosong lagi.

Ahhh tentunya sebagai warga galesong setuju apabila istana negara dan gedung pencakar langit itu akan dibangun dikampungku sebab bisa bertemu dan melihat aktivitas sehari-harinya presiden dan kaum elitnya.

Sejenak isi kepala ini berpikir bagaimana dengan keadaan lahan di galesong ketika itu terjadi, apakah kepadatan penduduk akan melonjak? Dan terjadi cuaca panas akibat pencakar langit dari kaca? dan pertanian akan hilang? Seperti yang terjadi di jakarta dan dimakassar?

Nalar ini terus saja beradu antara ingin melihat aktivitas presiden dan kaum elitnya setiap hari Vs dampak yang akan ditimbulkan oleh pemabangunan pusat pemerintahan dan gedung menjulang dikampung seperti yang diatas.

“Nak' tidak siap-siapki pergi kuliah? Sudah jam delapanmi ini” imbuh ibu dari dari teras rumah. Pujaan hati sang bapak sembari menyapu.

Sontak peraduan dalam kepalaku buyar dengan sekejap kemudian calon sosiolog ini mulai bergegas dan mempersiapkan jiwa dan raga menuju kampus.

Jam yang bertengger pada dinding menunjukkan pukul sembilan. Artinya sudah saatnya berangkat kekampus karena perkulihan dimulai pada pukul sepuluh.

Memang harus berangkat lebih awal karena dari rumah(galesong) kekampus memakan waktu 60 menit.

45 menit sudah berlalu tibalah saya dibelokan pasar pa'baeng-baeng, sontak tangan ini mengerem dengan perlahan melihat kemacetan yang ada diakibatkan tranksanki dipasar samapai kejalan. Dengan kemacetan yang nampak degan jelas pikiran ini langsung mengarah pada sul-sel ketika jadi ibu kota negara, bisa saja dari rumah kekampus memakan waktu dua jam seperti yang terjadi dikota-kota besar seperti jakarta.

Lepas dari analisis macet yang mengerogoti pikiranku sedari tadi, raga ini berusah menyelip kendaraan lain bak pembalap profesional yang melewati lawannya, beberapa meter setelah melewati kendaraan lain, kuda besi ini tida bisa lagi bergerak kearah yang ingin dituju oleh sang penunggang sejatinya akibat macet total dari pasar tadi.

Seperti pepatah mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga pula. peribahasa ini pas untuk saya, mengapa demikian? Sebab mahasiswa semester 6 ini pas dipantat truck pengangkut sampah dengan sejuta bau busuknya yang akan segera dibawa ketempat pembuangan sampah akhir yang berada di pinggiran kota (Antang).

Lagi-lagi pikiran ini kembali kedampak apabila Sul-sel jadi ibu kota negara, apakah TPA akan dipindahkan kepinggiran kota lainnya seperti takalar, maros, pangkep dan calon-calon daerah busuk lainnya?

Sepuluh menit kemudian tibalah saya ditempat dimana pikiranku digodok menjadi seorang sosiolog (kampus). Bak atlit yang begitu gesitnya berlari menuju kelas setelah menaruh helm dispion motor, sambil berlari benakku mengatakan saya tidak akan terlambat karena masih ada lima menit tersisa sebelum jam sepuluh, dan betul saja setelah saya sampai didalam kelas dosen belum ada.

Sebagai pemuda milenial yang tidak bisa lepas dari gadget, sesampai dikelas saya terus menunduk dan mengutui layar sentuh ini degan waktu yang tersisa sebelum sang dosen memulai ritualnya setiap hari (menagajar).

Gadgetku berbunyi menandakan adanya notification baru masuk, tanpa pikir panjang kubukalah notif itu yang tau-taunya dari salasatu media online yang menyajikan berita penggusuran tempat hiburan malam didaerah jakarta. 

Anak asli makassar ini membandingkan tanah kelahirannya dan jakarta. Apa jadinya sul-sel jika betul adanya menjadi ibu kota negara? Apakah tempat hiburan malam menjamur dimana-mana? Dan mencemari tanah kelahiranku oleh tempat persinahan? Yang tidak sesuai prinsip makassar siri’ napacce’?

Anak kedua dari ketiga bersaudara ini mencoba untuk berpikir apatis terhadap isu ibu kota akan dipindahkan ke-sul-sel, tentu saja dengan beberapa pertimbangan oleh pemerintah yang diantaranya: pertumbuhan ekonomi daerah timur, kepadatan penduduk, dll. sehingga sul-sel dicalonkan menjadi ibu kota negara.

Tapi pikiran dan hati ini tidak bisa bersifat demikian, apa lagi berbicara biaya yang digelontorkan ketika ibu kota negara dipindahkan.

Dilansir dilaman liputan6.com (30/April/2019) pemindahan Ibu Kota Negara menelan biaya yang tidak sedikit. Ada dua skema pemindahan yang diusulkan Bappenas, yaitu skema rightsizing dan tidak. Dengan skema rightsizing, biaya yang diperlukan sekitar Rp 323 triliun dan untuk skema non-rightsizing sekitar Rp 466 triliun.

Menurut beberapa pengamat politik pemindahan ibu kota negara ini hanya buang-buang anggaran negara/mubassir. Setelah mendengar beberapa pernyataan diatas mengenai pemindahan ibu kota negara dimedia sosial yg mengatakan buang-buang anggara/mubassir.

''Pikir konyolku mucul sembari tersenyum dan mengatakan dalam hati"

Wahai penguasa....berikalanlah dana itu untuk saya yang akan kugunakan sebagai saham uang panai(uang mahar) yang semakin tinggi tiap tahunnya ,mungkin saja uang panai  mengikuti pertumbuhan ekonomi dunia.

Kaget dan salah tingkah disaat dosen memberi isyarat berupa ko'bikang(colekan) kepada saya bahwa dia telah lama berada dalam kelas dan saya masih tetap sibuk mengkutui benda pintar ini.

Dengan gaya repleks, spontan saya meberikan senyuman kecut kedosen sembari benda pintar ini(hp) saya tutup begitupun dengan cerita ini mengenai wacana pemindahan Ibu Kota Negara ke Sulawesi Selatan.





Edi Haryadi
Mahasiswa Semester 6 Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Makassar. Tinggal di Galesong Kabupaten Takalar.

(rdp)
Share:

6 komentar: