.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

22/11/19

Persatuan Dalam Perspektif Surah Al Fath : 29


CERAMAH, TURUNGKA.COM.  Dalam Al Qur'an, Allah swt berfirman;

"Muhammad adalah utusan Allah, dan orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhdap orang orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan--Nya. Pada wajah mereka tampak tanda tanda bekas sujud. Demikianlah sifat sifat mereka dalam Taurat dan sifat sifat mereka dalam injil, yaitu sperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan diantara mereka, ampunan dan pahala yang besar." (Q.S. Al-Fath:29)

Makna ayat tersebut didalam tafsirnya Ibnu Katsir adalah Allah menyampaikan kalimat Taukid kepada Muhammad saw, bahwa 'memang engkau adalah utusan Allah,' cukup sampai di situ saja memahaminya, kita tidak akan berbicara tentang apa yang dipahami oleh Ibnu Katsir secara mendalam soal tafsirannya ini.

Hemat penulis dalam memahami tafsir tersebut, Allah sengaja mengatakan ini kepada Nabi--Nya, karena kondisi psikologis Muhammad pada saat itu tertekan, sehingga Beliau butuh taukid dari Allah Swt, agar bertambahlah keyakinannya dan bertambah tabahlah Nabi dalam menghadapi rintangan yang berat dikemudian hari.

Jadi kata 'mengemban amanah dari Allah' bisa di ibaratkan seperti "air" dan tradisi Quraisy di ibaratkan sebagai "minyak". 'Air' dengan 'Minyak' itu tidak akan pernah bisa menyatu. Itulah sebabnya, sama halnya mengumumkan perang dalam memahami tekstual ayat tersebut ini. Karena tradisi yang mengakar pada suatu komunitas itu sangat susah untuk digantikan oleh hal yang baru, sehingga orang yang menjadi wadah dalam mengembang 'amanah' ini pun harus memiliki kesiapan fisik dan mental. Dan pada akhirnya juga, sejarah yang sampai kepada kita telah membuktikan bahwa, perjalanan Nabi Muhammad Saw memang diwarnai dengan 'perang'.

Dalam Q.S Al-Fath:29 tersebut, ada beberapa poin yang menjadi pelajaran bagi umat sekarang. Pertama, hendaknya umat ini memahami dengan sepaham - pahamnya kepada siapa mereka harus bersikap keras. Kedua, hendaknya umat ini menerapkan prinsip kasih sayang rāhm dalam masyarakat yang heterogen. Kasih sayang adalah harga mati, dan hasilnya sudah pasti persatuan. Ketika persatuan sudah terwujud, maka itulah yang dimaksud oleh Allah swt; "seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya". Ketiga, hendaknya Umat ini hanya semata - mata mencari keridhaan Allah di tengah tengah perbedaan ini.

Dengan demikian, jika persatuan merupakan solusi umat ini, maka mengapa kita harus terpecah? Jika persatuan mampu membuat kita kuat, maka mengapa kita harus lemah?  Itulah sebabnya dalam buku Taufikurrahman Al mubarak furi, 'sirah nabawiyyah', Nabi Muhammad saw tidak pernah mewariskan yang namanya sebuah 'perpecahan', bahkan setelah Fathul Makkah, Nabi Muhammad saw memberikan Alamat kepada manusia bahwa begitulah caranya menghukum orang yang mengusir kita dari kampung halaman.

Oleh: Muhammad Tasbih, Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Cabang (PC) Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar, Mahasiswa Jurusan Akhwalussyaksiyahn Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh).
Share:

0 komentar:

Posting Komentar