.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

20/01/20

Radikal dan Nabi Muhammad Saw

Sumber foto: IDN TIMES
SEJARAH, TURUNGKA.COM. Akhir-akhir ini isu tentang radikal semakin hangat diperbincangkan. Hampir semua media menjadikan kata radikal sebagai topik utama mereka. Bahkan acara televisi nasional tidak segan-segan mengundang pakar tertentu untuk mendiskusikan persoalan radikal yang dianggap mengancam negeri ini. Akhirnya para pakarpun bermunculan, mulai dari pakar bahasa, agama, sosial, dan budaya, yang semuanya hadir menjadi narasumber di acara televisi nasional dan disaksikan oleh jutaan pasang mata penduduk negeri ini. Tidak jarang para pakar itu berbeda pandangan tentang radikal, tapi hal ini cukup bisa dimaklumi karena mereka terlahir dari latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dan dari suku yang berbeda-beda pula.

Tidak hanya sampai disitu bahkan tidak jarang kita temui spanduk dengan gambar Pemda ditambah sebuah tulisan, 'Basmi Radikal dan Teroris'. Dari spanduk ini bisa kita saksikan betapa berbahayanya radikal dan teroris itu dimata para pemimpin negeri ini. Para pemimpin kita rela dipasang gambarnya di pinggir jalan lalu disandingkan dengan slogan 'Basmi Radikal dan Teroris'. Mungkin ini sebagai bentuk perhatian kepada negeri dan masyarakatnya, tapi sangat memungkinkan juga mereka sangat ketakutan dilengserkan oleh radikal karena dalam politik— oposisi bisa jadi radikal bagi suatu rezim—oposisi sangatlah berbahaya bagi suatu rezim. Sama berbahayanya Musa dimata Fir’aun, bahkan Fir’aun disaat menjelang kelahirannya Musa. Dia menfatwakan agar semua bayi laki-laki yang lahir itu dibunuh. Kira-kira beginilah ketakutan para pemimpin bangsa ini kepada radikal.

Sebenarnya tidak menjadi persoalan jika para pakar berbeda pandangan tentang radikal karena perbedaan adalah identitas dari bangsa Indonesia itu sendiri. Yang menjadi masalah dan perlu dipermasalahkan adalah ketika kata radikal bersanding dengan kata teroris. Parahnya adalah teroris sering dimaknai sebagai pelaku tindak kejahatan, berupa pembunuhan, pengeboman dan segala hal-hal yang bersifat anarkis. Parah yang paling sesat selanjutnya adalah teroris sering sekali dinisbatkan kepada orang Islam, seolah-olah orang Islamlah yang memproduksi teroris.

Kata 'radikal' apabila disandingkan dengan kata 'teroris', maka akan menimbulkan penafsiran yang liar. Pertama, radikal akan ditafsirkan sebagai aktor yang berpotensi melahirkan teroris, sehingga iapun harus dibasmi. Kedua, radikal akan ditafsirkan sebagai sesuatu yang sama berbahayanya dengan teroris, maka iapun harus ditakuti. Dan pada akhirnya, hilanglah makna luhur yang terkandung di dalam kata radikal.

Rezim begitu tega memperkosa radikal dengan berbagai macam penafsiran yang mencederai substansi radikal itu sendiri, bahkan hanya karena alasan yang sangat tidak pantas. Rezim begitu tega mewariskan ketakutannya kepada masyarakatnya sendiri. Akhirnya rakyat menjadi bingung dan ikut-ikutan membenci, mencaci dan memusuhi radikal tanpa dasar pengetahuan yang jelas.

Apakah radikal sebegitu berbahayanya sehingga harus melibatkan media dan para pemimpin bangsa ini? Benarkah bahwa terjadinya kerusuhan dan ketidakharmonisan di negeri ini itu disebabkan oleh paham radikal? Benarkah bahwa radikal dapat mencederai Bhineka Tunggal Ika atau bahkan Pancasila itu sendiri? Manakah yang lebih berbahaya radikal atau para koruptor yang dipelihara oleh negeri ini? atau mungkinkah radikal sengaja diperburuk citranya agar kepentingan para elit bangsa ini bisa terselamatkan. Semuanya patut ditinjau kembali!

Menurut Ensiklopedia Britannica kata 'Radikal' dalam konteks politik pertama kali digunakan oleh Charles James Fox pada tahun 1797, ia mendeklarasikan 'reformasi radikal', sistem pemilihan sehingga istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan yang mendukung reformasi parlemen. Sedangkan dalam KBBI, kata 'radikal' mempunyai beberapa arti diantaranya; secara mendasar; keras menuntut perubahan; maju dalam berpikir; dan bertindak. Jika kita mengacu kepada KBBI, sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan dari radikal itu sendiri, bahkan untuk negara yang masih dalam kategori berkembang, radikal itu harusnya dipelihara dan dijadikan tradisi untuk mewujudkan cita-cita luhur pendiri negeri ini. Sebagaimana dalam pandangannya Paulo Freire, bahwa pendidikan itu harusnya pendidikan yang radikal, karena dengan sistem pendidikan yang radikal maka para peserta didik akan bangkit nalar kritisnya, sehingga tidak ada lagi ruang bagi para pengajar untuk memasukkan dogma-dogma berantakan kepada muridnya.

Sebagai masyarakat muslim, tentunya kita mengetahui setiap detail perjalanan dakwah Muhammad saw. Karena kita tahu, selain beliau adalah pemimpin tertinggi, beliau juga merupakan mazhabnya orang-orang yang visioner. Sebab, sejarah mencatat bahwa pernah suatu ketika, Abu Jahal beserta para elit Quraisy lainnya mendatangi Nabi Muhammad SAW mereka berkata, 'wahai Muhammad, bagaimana jika hari ini kamu menyembah Tuhanku? Setelah itu aku pun akan ikut menyembah Tuhanmu. Dan jika aku merasa nyaman maka aku akan mengikuti agamamu'. Turunlah wahyu, sebagai bentuk penolakan yang paling radikal terhadap Quraisy.

“Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu Agamamu dan untukku Agamaku". (Q.S. Al-Kafirun:1-6)

Bahkan Lesley Hazleton dalam buku 'Kepribadian Hidup Muhammad SAW', ia mencatat bahwa suatu waktu Abu Thalib menyampaikan pesan dari elit Quraisy Makkah. Saat itu Abu Thalib berkata, Wahai keponakanku! Apapun yang engkau inginkan akan dipenuhi oleh mereka. Apa jawaban Muhammad saw? Wahai paman, demi Allah! Andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan agama ini, aku tetap tidak akan meninggalkannya, sekalipun aku mati dalam menjalaninya. Sesungguhnya Ini merupakan penolakan yang paling radikal dari sang Nabi saw. Bayangkan jika sekiranya Nabi saw tidak keras dalam menolak tawaran tersebut. Setelah itu, hasil yang didapatkan Muhammad saw atas sifat yang radikalnya dalam menuntut perubahan dikalangan kaum Quraisy.

Dari itulah lahir peristiwa hijrah ke Madinah sekaligus sebagai permulaan dari kebangkitan umat Islam pada saat itu. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa Madinah menjadi pemerintahan yang modern pada masa itu, pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, menganut prinsip yang egaliter, dan diikat dengan undang-undang yang kita kenal sebagai 'Piagam Madinah'. Setiap permasalahan yang terjadi pada saat itu dapat diselesaikan tanpa ada yang dizolimi sedikitpun. Inilah pemerintahan yang dipimpin oleh Muhammad saw, seorang Nabi yang radikal dan visioner.


Oleh Muhammad Tasbih, Jurusan Ahwal Syakhshiyah Universitas Muhammadiyah Makassar. Dan Ketua Bidang Dakwah Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar

Share:

0 komentar:

Posting Komentar