.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

20/02/20

Malaikat Pun Menjadi Korban


CERAMAH, TURUNGKA.COM. Setiap bentuk penghambaan pada prinsipnya membutuhkan pengorbanan kepada yang disembah, yaitu Tuhan. Kadang kala pengorbanan itu tidak mesti bersifat menguntungkan bagi kita secara manusiawi, bahkan pada hakikatnya, kualitas sebuah pengorbanan diukur dari totalitas. Semakin total penghambaan kita kepada yang Maha Kuasa maka semakin berkualitas pula kita di hadapan-Nya.

Namun faktanya,  pengorbanan secara total tidak selamanya dapat mengantarkan seorang mahluk untuk menjadi lebih mulia di hadapan Tuhannya. Ini dikarenakan mahluk gagal dalam memahami bentuk penghambaan dan totalitas pengorbanan, apatah lagi jika sang mahluk mengatas namakan firman yang disalah pahaminya sebagai hujjah atas tindakannya, ini lebih mengerikan lagi akibatnya.

Mari kita perhatikan bagaimana sebuah hal yang krusial terjadi disaat pra penciptaan manusia yang diabadikan oleh Al-Qur'an.

Allah swt berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. 2 : 30).

Ini merupakan sebuah babak baru bagi Malaikat. Malaikat yang selama ini kita pahami sebagai interpretasi dari ketaatan, justru malah terseret pada sebuah dialog yang seolah-olah Malaikat lebih mengetahui daripada Tuhannya. Di sini, ketaatan Malaikat dipertaruhkan, hampir-hampir saja Malaikat tergelincir kedalam jurang kehinaan yang tak bertepi. Pada akhirnya butuh beberapa fase lagi untuk melahirkan entitas baru sebagai interpretasi dari kedurhakaan. Yah, itulah faktanya, berawal dari 'manusia'.

Sedangkan iblis, siapakah Dia? yah, Iblis merupakan interpretasi dari sebuah kedurhakaan dan kesombongan, begitulah yang dikatakan Allah swt melalui firmannya, sekaligus sebagai anti tesa dari malaikat. Kejadian mengerikan ini berawal ketika Allah swt berfirman

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir. (Q.S. 2 : 34)

Disini terjadi perubahan sikap pada iblis, awalnya ia merupakan mahluk yang sangat taat kepada Rabb-Nya, bahkan lebih taat dari malaikat. Namun entah kenapa iblis tiba-tiba tidak ingin sujud kepada Adam, apa yang membuat ia seperti itu.

Akankah ini merupakan kemauan iblis itu sendiri? Ataukah ia hanya tunduk kepada sang pemilik kehendak yang menghendaki dirinya agar tidak mau sujud kepada Adam? Atau mungkin saja iblis sengaja dijadikan antagonis yang nantinya akan menjadi tim penguji bagi mereka yang mengatakan dirinya telah beriman?  Mungkin saja iblis memahami bahwa sujud itu hanya sepantasnya kepada Allah dan tidak untuk selainnya, sehingga iblis rela untuk tidak mematuhi Allah ketika ia diperintahkan untuk sujud kepada Adam.

Yang jelas iblis telah berubah menjadi antagonis yang paling durhaka dan paling sesat, pengabdiannya selama 700 ribu tahun kini telah sirna dan ia harus dihukum atas kedurhakaannya itu dengan neraka.

Oleh; Muhammad Tasbih, Jurusan Ahwal Syakhshiyah Universitas Muhammadiyah Makassar.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar