.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

10/07/20

Ketua SEMMI Takalar Desak Anas Fahreza Menghentikan Pembusukan Gerakan Mahasiswa Dan Kepemudaan


TAKALAR, TURUNGKA.COM. Menyikapi rencana unjuk rasa Aspirasi Rakyat Mahasiswa dan Pemuda (ARMADA) pada Jum'at (10/07/2020) yang akan dipimpin oleh Anas Fahreza selaku koordinator lapangan (KORLAP), Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar mendesak Anas Fahreza untuk segera menghentikan langkahnya itu yang mencedarai gerakan mahasiswa dan kepemudaan.

Menurut Ketum Semmi Takalar itu, Ahmad Abdul Basyir bahwa langkah yang ditempuh ARMADA sangat tidak ideal dan justru meruntuhkan idealisme pergerakan mahasiswa dan pemuda. Dalam pandangannya, Ahmad justru merasa lucu dan sangat miris membaca pertanyaan sikap ARMADA yang melakukan demonstrasi hanya karena pesan elektroniknya via aplikasi WhatsApp tidak jawab Kepala UPT. SMA Negeri 1 Takalar.  

"Kedangkalan berpikir teman-teman di ARMADA begitu jelas. Kalau Anda mengaku aktivis, mahasiswa dan pemuda, maka lakukan demonstrasi dengan elegan. Unjuk rasa itu harus berdasarkan akal sehat. Bukan demi membawa kepentingan kelompok tertentu alias demonstrasi tendesius," jelas Ahmad

Lebih lanjut, ia pun menegaskan, dalam kasus rencana Demo ARMADA di SMAN 1 Takalar, mestinya teman-teman di ARMADA itu paham prinsip-prinsip pelayanan publik. 

"Kalau Anda ingin meminta data publik di SMAN 1 Takalar, silahkan bersurat secara resmi. Jangan hanya mengandalkan WA. Itu baru cara berpikir aktivis yang sebenarnya", jelas Ahmad.

"Bayangkan, bila cara berpikir aktivis di Takalar mengikuti gaya berpikir terbelakang ARMADA. Kirim pesan WA kepada kepala SMAN 2 Takalar dan kepala SMAN 3 Takalar, lalu kalau tidak dijawab, maka digelar lagi demonstrasi. Sungguh, itu tindakan yang secara otomatis merusak nama baik gerakan mahasiswa dan kepemudaan di Takalar," tegas Ahmad.

"Apalagi ketika ARMADA menuding Kepala SMAN 1 Takalar, telah melakukan pelanggaran hukum oleh karena tidak menjawab pesan WAnya. Inikan, jelas pernyataan yang bodoh bahkan dungu. Memangnya, mereka belajar dan mengkaji ilmu hukum di mana? Apakah guru-guru ilmu hukum mereka begitu sesat?," terangnya.

"Bagi saya, tak diresponnya permintaan informasi oleh ARMADA, adalah sesuatu yang wajar, karena itu adalah hak informan dan tidak melanggar hukum. So harapan saya kepada aktivis di Takalar, perbanyak unjuk rasa yang mencerdaskan. Stop, kriminalisasi pejabat publik melalui unjuk rasa politis dan tendensius," pungkasnya. (Frm/Ahm)
Share:

2 komentar:

  1. Nda seru karena tidak berimbang. Harusnya ada hak jaawab Anaz Fahreza juga.

    BalasHapus
  2. Hahaha......kebebasan mengemukakan pendapat dilindungi oleh UU...biarkan saja bos asalkan tidak merugikan kepentingan umum

    BalasHapus