.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

20/10/20

Maudu Lompoa; Merawat Tradisi Solidaritas

“Kemunduran mutu kehidupan di zaman kemajuan ini terjadi antara lain karena kita kehilangan akses pada kekayaan budaya tradisi dan suara-suara tradisi tak lagi berbunyi di hati kita.”

OPINI, TURUNGKA.COM. Budaya lokal sebagai  upaya menguatkan nilai - nilai solidaritas sosial. Nilai budaya lokal yang berdiri kokoh dalam hantaman budaya asing yang semakin  kuat (Widyanti, 2015). Sebab budaya lokal memiliki ciri khas tersendiri yang tidak bisa telan oleh waktu. Seperti halnya budaya perayaan kelahiran Nabi (maulid [Arab] artinya lahir), orang Makassar menyebutnya "maudu". Di Yogyakarta disebut "sekaten".

Sementara di Desa Cikoang kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, memberi nama "Maudu Lompoa". Yang merupakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang terbesar diwilayahnya, yang dilakukan dengan cara yang khas dan unik ini. Perayaan tersebut secara filosofis berupaya merekatkan hubungan alam dengan manusia dan interaksi antara sesama manusia, yang saling mengikat.

Proses lahirnya budaya "maudu lompoa" karena adanya penyebaran Islam yang berasal dari Arab dibawah ke Aceh, lalu ke Banjarmasin hingga ke pulau Sulawesi dan berakhir di Cikoang, Takalar. Aturan pelaksanaan pun harus menggunakan bahan- bahan yang berasal langsung dari alam sekitar, yang mudah diperoleh, terjangkau, dan tanpa paksaan.

Perkembangan "maudu lompoa" dari tahun ke tahun semakin menarik jiwa solidaritas masyarakat. Salah satu yang membuat menarik karena adanya perubahan dari perayaan ini, dulu yang paling sederhana, yang bisa dilakukan hanya dengan tenaga satu orang, hingga meriah. Jika seorang mengerjakannya tidak mampu saat disiapkan, tapi sekarang membutuhkan banyak orang dan kerjasama antara masyarakat. Ini dikarenakan adanya pengaruh dari  lingkungan dan pola hidup masyarakat yang mengalami perubahan. Namun perubahan itu justru menguatkan solidaritas sosial budaya masyarakat.

Masyarakat Cikoang dengan meyakini dan mempercayai bahwa budaya perayaan "Maudu lompoa" akan memperkuat kekerabatan dan memberikan kedamaian dalam hidup.

Sehingga pantas jika pemajuan kebudayaan akan berupaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya, di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. Usaha pemajuan tersebut itu dilaksanakan terhadap sepuluh jenis objek pemajuan kebudayaan: 1) tradisi lisan, 2) manuskrip, 3) adat istiadat, 4) ritus, 5) pengetahuan tradisional.

Dengan demikian, maudu lompoa menjadi salah satu budaya yang mampu menyatukan, bahkan telah berkontribusi dalam peradaban dunia. Sehingga upaya yang harus dilakukan adalah melestarikannya, dengan cara menuliskan atau membukukan tentang tradisi tersebut. Bahkan kalau bisa membuatkan film dokumenter seputar kegiatan tradisi "maudu lompa", mulai proses persiapan hingga proses diarak sampai merayakan.

Jauh-jauh hari Mohammad Hatta melansirkan bahwa, “kebudayaan tidak dapat di pertahankan saja, kita harus berusaha merubah dan memajukan, oleh karena kebudayaan sebagai kultur, sebagai barang yang tumbuh, dapat hilang dan bisa maju.” Makanya harus ada promosi budaya, jumlah kegiatan, dan partisipasi agar budaya ini tetap terjaga.

Sama halnya juga pemajuan kebudayaan secara pemanfaatan. Kegiatan ritual adat atau kebudayaan masyarakat sekarang tidak seluruhnya dan sepenuhnya masyarakat yang membiayai tetapi ada pemerintah turut andil membantu meringankan dalam pelaksanaan budaya maudu lompoa ini.

Sokongan dana yang bisa di manfaatkan. Dan adanya upaya pemanfaatan sosial media juga harus turut ambil bagian dalam memajukan budaya maudu lompoa sebagai bahan promosi budaya, sehingga mampu menarik minat orang luar untuk datang berkunjung.

Terakhir, dalam pembinaan kebudayaan, jika hari ini tidak dipersiapkan kader atau generasi dari usia 10-15 tahun untuk memberikan pendidikan tentang budaya perayaan maudu lompoa maka kedepan kegiatan tersebut akan mengalami degradasi atau bahkan punah di tanah Cikoang. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah membantu menciptakan pegiat budaya maudu lompoa sebagai wadah bagi para generasi Sayyid (ras Cikoang) yang akan meneruskannya. Semoga kedepan tradisi tersebut tetap terjaga.

Oleh Marsuki, Mahasiswa Sarjana Jurusan Manajemen STIE Tri Dharma Nusantara Makassar.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar