.post img { vertical-align:bottom; max-width:100%; max-height:100% }

27/08/21

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Guru Honorer Indonesia?

 


TAKALAR, TURUNGKA.COM. Sorak bahagia baru saja terpancar dari seluruh pelosok negeri. Kemerdekaan Indonesia dari penjajah, sekarang sudah genap berusia 76 tahun. Seluruh lapisan masyarakat menyambut dengan antusias hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2021 lalu. Berkibar dengan bebasnya bendera merah putih di seluruh tanah indonesia, menunjukkan kebebasan sudah menjadi hak negeri tercinta.

Upacara 17an adalah ritual wajib yang diselenggarakan oleh masyarakat indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan di masa lampau. Pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan seluruh jiwa, raga, harta, waktu serta materinya hingga kini bendera merah putih dengan bebasnya bisa berkibar. Renungan untuk para penikmat kemerdekaan, sudah layakkah negeri ini dikatakan merdeka? Sudah menyeluruhkah kemerdekaan ini? Nyatanya tidak!

Indonesia masih digeluti oleh jutaan rintihan air mata kesedihan. Katanya merdeka, namun rupanya masih banyak rakyat yang belum merasakan indahnya kesehatan, tempat tinggal yang layak huni, serta pendidikan yang merata. Itukah merdeka?

Berbicara tentang pendidikan, tidak ada artinya sekolah yang megah jika tanpa pendidik yang baik, dan merekalah sang pahlawan sejati. Pahlawan tanpa tanda jasa. Sangat benar, ilmu dan pengetahuan yang diberikan sang pendidik sangat bermakna dan berdampak untuk kemajuan negeri ini. Tapi pernahkah mereka mengamuk di depan kita untuk diberi upah? Sangat wajar, jika mereka butuh bayaran dari apa yang telah mereka lakukan demi masa depan para penuntut ilmu. Namun bukan itu yang mereka harapkan.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah tujuan utama sang pendidik. Memberikan yang terbaik untuk muridnya. Memberikan ilmu dan pengetahuan yang terbaik untuk mencerdaskan anak-anak polos dan miskin ilmu, hingga menjadi sarjana-sarjana hebat yang berprestasi. Hal ini sebanding dengan gaji pendidik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, apa kabar upah pendidik Non PNS (Guru Honorer) di luar sana?

Banyak guru banting setir mengambil pekerjaan sampingan, akibat gaji dari guru honorer tidak sebanding dengan kebutuhan hidup mereka, sehingga mengharuskan mereka untuk mencari pekerjaan lain di luar guru honorer. Inilah yang dimaksud merdeka tapi belum merdeka. Merdeka tapi mereka mendapatkan gaji "tidak layak" bahkan jauh di bawah kata cukup untuk kebutuhan hidup.

Kondisi ini harus menjadi renungan bersama, bahwa kualitas pendidikan Indonesia akan merosot jauh ke bawah jika kondisi Guru Tidak Tetap (GTT) tidak segera dibenahi. Sebab, gaji yang mereka terima tidak sebanding dengan tugas administratif, dan tugas utama sesuai Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD) tahun 2005. Apalagi banyak diantara guru honorer yang gajinya tidak dan atau lambat cair dari waktu ketentuan yang berlaku, sehingga menjadi kerasahan dari para guru honorer di Indonesia.

Sedangkan, memang benar jika guru adalah contoh bagi para muridnya. Mereka adalah panutan, serta orang yang para murid hormati setelah orang tua. Namun tanpa adanya bantuan dari sosok guru honorer, maka kegiatan belajar mengajar di sekolah pasti akan kacau, apalagi jumlah PNS di sekolah semakin berkurang karena banyaknya guru yang pensiun, sehingga peran GTT sangat dibutuhkan dalam suatu sekolah.

Hari guru adalah salah satu momentum untuk mengenang jasa para guru yang telah berjasa dalam kehidupan. Namun semua itu adalah formalitas biasa, sebab sorakan demonstrasi dari para guru honorer di luar sana bagaikan angin yang berlalu. Para guru honor turun ke jalan, berteriak menyuarakan haknya untuk mendapatkan gaji yang layak. Para guru meminta negara agar peduli pada nasib mereka. Namun, tidak ada satupun yang mendengar aspirasi mereka. Teriakan guru honorer tidak didengar oleh negara. Buktinya, gaji mereka hingga sekarang belum mengalami perubahan signifikan dari sebelum-sebelumnya.

Hal ini menjadi bahan refleksi untuk Indonesia yang katanya sudah merdeka, agar sila kelima indonesia “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar merata dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke. Agar sila kelima pancaila tidak hanya risakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan tertentu.

Sejatinya, gurulah yang berada di garda terdepan dalam upaya memajukan kualitas SDM dan majunya suatu bangsa. Kedepannya, harapan penetapan gaji Honorer mampu sesuai Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), baik untuk GTT maupun GTY. Karena realitanya banyak guru honorer yang digaji hanya ala kadarnya. Hal seperti ini yang membuat guru tidak loyal dengan pekerjaannya. Padahal, kunci utama guru mendidik adalah "mencintai" pekerjaannya. Sebab, jika seorang guru tidak cinta terhadap pekerjaannya, pembelajaran pasti akan setengah hati. Serta, kedepannya sistem pencairan gaji UMK honorer harus disalurkan per bulan. Karena para GTT juga butuh makan, meraka bukan budak pendidik.

Selanjutnya  adalah "menghapus" moratorium. Syaratnya, menyelenggarakan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dengan mengutamakan Guru Tidak Tetap (GTT) yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdi. Sebab realiatanya, selama ini perekrutan guru CPNS di Indonesia hanya sekitar 25-50 orang saja per kabupaten/kota. Artinya, perbandingan guru pensiun dengan yang diangkat menjadi PNS sangat tidak seimbang, sehingga masih banyaknya guru honorer yang belum terangkat menjadi PNS.

Usia Indonesia di 76 tahun, apakah sudah benar-benar merdeka? Mari merefleksi indonesia dari sisi-sisi kecil yang jarang terjangkau oleh mata-mata manusia berdasi. Indonesia butuh orang-orang yang peduli, bukan peduli kepada diri sendiri, namun peduli akan kesejahteraan orang banyak. Sebab orang yang paling bermanfaat adalah yang bermanfaat bagi orang lain, dan manusia yang hebat adalah manusia yang mampu memanusiakan orang lain. Orang baik adalah mereka yang berusaha memberikan senyuman di bibir-bibir indah, yang tak lagi nampak karena terhalang oleh duka dan air mata kemiskinan. Salam Kemanusian!

Penulis : Risfa (Umum_Universitas Hasanuddin)

Sumber Foto : http://www.pijarnews.com

#ESSAI
#GURUHONORER
#PEKIKBELUMMERDEKAGURUHONORER
#INDONESIATANGGUHINDONESIAMAJU
#MERDEKA76TAHUN
#TAMSILLINRUNG

Share:

0 komentar:

Posting Komentar